Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.
Showing posts with label Kutipan. Show all posts
Showing posts with label Kutipan. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Sekolah lagi? Mengapa tidak?


Pertamanya bingung, mau login saja gemeteran. Kemudian... Terima kasih, Tuhan! Tiket masuk Program Magister sudah di tangan. Tiada henti saya ucapkan syukur kepada-Mu atas restu yang diberikan untuk dapat sekolah lagi.

Gampang.
Banyak orang bilang "Ah S2 di sana gampang, temenku modal duit juga bisa", "Gampang S2 di sana syaratnya formalitas" dan lain sebagainya. Mungkin ada benarnya, saya tidak tau. Mungkin bagi kebanyakan orang memang gampang, tetapi belum tentu bagi saya. Kemampuan seseorang dalam menerima suatu permasalahan itu tidak sama. Saya mengikuti prosedur umum seperti calon mahasiswa lainnya. Sebenarnya gampang itu ketika saya bisa saja minta tolong seseorang untuk langsung menerima saya tanpa syarat, hahahahaha saya tidak seputus asa itu. Ketika saya sudah berniat, pasti saya perjuangkan.

Gampang.
Kalau memang masuknya gampang, apa iya lulusnya gampang? Kalau kita tidak menikmatinya, apa iya gampang? Satu-satunya statement 'gampang' yang bisa saya terima dari senior saya adalah "Kalo seneng ngejalaninnya, asik-asik aja, gampang kok". Sebulan lebih menunggu pengumuman yang diundur dua kali, astaga... menikmati haripun tidak segampang itu. Tidak bisa tidur sampai ajakan sahur, saat tertidur malah memimpikan gunung meletus. Pernah mendengar kalimat bijak 'Semua telah diketahui kecuali cara untuk bertahan hidup'? 

Saya bukan orang yang biasa mendapatkan sesuatu secara gampang. Kalau kalian (ingin) tau, perjalanan saya selama 24 tahun ini ya gitu. Benar, orang lain hanya mengomentari hasil tanpa peduli prosesnya. Memang, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hidup saya karena 'tugas' mereka hanyalah menilai dari apa yang dilihat.

Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) usaha saya bolak-balik Jakarta dan Jogjakarta yang cukup menguras tenaga dan uang. Mereka hanya tau saya kesana-kemari hanya untuk bervakansi. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) berapa kali saya gagal dan menghabiskan lumayan biaya hanya demi mengulang tes persyaratan masuk S2. Mereka hanya tau kalau kerjaan saya guling-guling di atas kasur setiap hari, ya mungkin memang juga hehehe. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) apa alasan saya berlama-lama di Jogjakarta. Mereka hanya tau saya sebagai pengangguran yang tidak berusaha apa-apa. Mereka tidak tau berapa buku yang saya pakai untuk latihan, waktu berapa kali berapa puluh menit yang saya habiskan untuk mengerjakan berbagai jenis soal, bagaimana perasaan orang tua dan mas saya yang dikorbankan demi melampiaskan amarah saya. Orang lain hanya tau kalau hidup saya selama ini enak-enak saja. 

Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya mandiri. Mereka tidak tau kami pernah ditolak di sekolah swasta karena tidak dapat membayar uang pangkal. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membeli tiket perjalanan berkali-kali. Mereka tidak tau kami berkali-kali jalan kaki entah karena angkot mogok beroperasi atau karena dirasa tidak begitu perlu menggunakan kendaraan. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membantu yang kesusahan. Mereka tidak tau bahwa kami bukan yang berkelimpahan harta sampai bingung menghabiskannya tetapi kami tau rasanya ditolong dan tidak ditolong. 

Beasiswa? Saya merasa tidak cukup pantas untuk mendapatkannya. Bukan saya sombong, saya ingin tapi saya tau batas kemampuan saya. Saya juga sebenarnya tidak bodoh, pas-pasan. Akademik saya pas-pasan kok, percaya diri saya juga pas-pasan. Waktu SD dan SMP hanya berantusias ketika jam pelajaran bahasa, kesenian atau olahraga. Saya benci matematika. Waktu SMA saya mulai suka mata pelajaran Kimia dan masuk jurusan IPA meskipun saya juga tidak katam sekali. Sampai akhirnya saya 'kecemplung' dan harus berenang di pendidikan apoteker dari nilai jeblok sampai tertarik melanjutkannya.

Kembali ke fokus awal. Sekolah lagi? Mengapa tidak?

Sebenarnya alasan saya memutuskan untuk sekolah lagi (di sana) bukan itu, bukan karena yang katanya gampang. Alasan saya yang pertama adalah karena bapak ibu. Kota ini menyatukan kami, bapak dan mas melanjutkan sekolah di sini. Diputuskan mengontrak rumah di sini, masa iya ngekost sendiri-sendiri? Mau tidak mau, ibu sibuk bolak-balik. Orang lain tidak tau betapa pusingnya mengontrol dua rumah. Mereka tidak tau betapa kerasnya usaha orang tua saya yang tetap bekerja sembari menyelesaikan studi setelah masa pensiunnya, begadang terkantuk-kantuk lewat tengah malam untuk saling menemani. Dengan usia mereka yang semakin bertambah, kesehatan yang kadang terganggu karena kelelahan, saya sangat ingin membantu keluarga ini yang Puji Tuhan selalu dicukupkan. Tetapi? Bapak ibu masih ingin kami (saya dan mas) untuk sekolah lagi sebelum berkarir. Ini saatnya bapak ibu menikmati hasil jerih payah mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang yang tinggi, kalau bisa lebih tinggi lagi. Kata bapak, pendidikan kami itu penting agar bisa survive di dunia yang terus berkembang. Bapak ibu ingin anak-anaknya berhasil, 'naik kelas'. Selagi mampu mendanai, sekolah lagi, mengapa tidak? 

Setelah mendaftar, awalnya saya takut. Saya kurang yakin dengan kemampuan saya sendiri. Tetapi teman saya sewaktu kuliah bilang "Ngapain takut, Ras? Kan udah usaha tinggal berdoa aja. Keputusanmu buat lanjut kuliah itu udah nunjukkin kalo kamu berani". Menurut saya itu keren sekali, membuat semangat saya meluap untuk selalu berpikiran positif, saya bisa.

Alasan saya berikutnya, yang baru-baru ini terlintas adalah karena saya perempuan. Saya ingin pendidikan saya tinggi dan tidak dipandang sebelah mata. Saya ingin memiliki bekal bakal pekerjaan saya nanti dan bermanfaat meskipun hanya sebesar biji sesawi. Saya ingin membawa pengaruh yang baik bagi banyak orang. Saya ingin membanggakan orang-orang yang telah memberikan restu dan dukungan pada saya. Memang pengalaman saya sangatlah kalah dibanding teman-teman yang sudah memiliki penghasilan, saya bangga pada mereka tentu saja. Jujur, saya juga ingin seperti mereka. Tetapi saya harus bisa melakukan hal lain. Ibu bilang bahwa berbeda tidak selalu buruk, seperti anak panah, tidak apa sedikit lebih mundur agar dapat melaju lebih cepat. Ada benarnya, kalau saya memutuskan untuk bekerja dahulu, bisa saja saya terlalu asik berpenghasilan dan tidak mau lanjut sekolah padahal banyak orang yang ingin memiliki peluang seperti saya, mengapa saya harus tidak mau? Pada era global ini, persaingan (sehat) perlu kan? Kalau orang bisa bekerja saat ini, mengapa saya tidak bisa sekolah pada kesempatan ini? Toh, pada akhirnya kami bermutualisme, bertukar ilmu itu baik, bukan? Masalah karir kami pasti ada masanya, ada waktunya. Tuhan sudah siapkan 'jatah' kami. Saya yakin Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. 

Ya... berpanjang lebarpun orang tidak peduli. Terkadang kita perlu menutup telinga untuk bisa mendengarkan apa kata hati sendiri, biarlah pilihan kita yang menentukan hidup kita. Seperti nasihat yang tante saya berikan, tetapi Tuhanlah pemilik segala ilmu sehingga doa, belajar dan kerja keras yang menjadi strategi untuk mencapai harapan yang sesuai dengan keinginan. 

Sekian.

Friday, August 16, 2013

Cewek Menangis

Kapan hari kotbah Pastur di gereja tentang menangis. Jadi tertarik nulis tentang menangis lagi. Hal sepele tapi selalu ada. Mau pas sedih mau pas seneng. Bisa aja nangis, lain daripada yang lain kan?

"Kalo cowok menangis itu tandanya kekerasan hati dan dirinya udah mencair, meluluh. Kalo cewek menangis itu tandanya pertahanan terkuatnya udah ambruk karena beban yang dipikulnya begitu berat."

Hmmm... Berarti kalo cewek sering nangis itu bukan cengeng ya? Pertahanan orang aja beda-beda. Kemampuan orang menahan emosi juga beda-beda. Kalo mentalnya nggak kuat pasti gampang banget nangis karena  beban yang sedikit bagi si kuat itu bisa saja menurutnya terlalu berat.

"Jangan pernah ngomong jernih sama wanita kalau dia lagi nangis. Kalau cewek lagi nangis, biarin aja dulu karena dia nggak akan pernah dengerin Lo. Kalo lagi nangis, cewek sebenernya mau nyatain sesuatu tapi dia nggak tau gimana.. Jadinya, nangis.. Maka, jangan ngomong sama dia, diemin aja dulu. Lo mau bilang, dia juga mau bilang.. nanti nggak ketemu.." - Percakapan di Novel 5cm.

Kebanyakan cewek itu sok kuat, bilangnya nggak apa-apa padahal apa-apa. Gila ya cewek. Pakenya perasaan, hati. Mainan pake hati nyesek kali. Nahan tangis dengan mengeluarkan senyum, sia-sia. Nahan tangis dengan mengusap mata dan mendongakpun, sia-sia. Semua bendungan air itu akan jatuh pada waktunya. 

Kadang... Emosi yang kita keluarkan dengan menangis bisa membuat kita lega. Tapi terkadang kalo kita menangis terus-menerus, bahkan bisa membuat kita merasa semakin terpuruk. Ada baiknya kita menunduk, mengucapkan doa agar tenang dan mendongak untuk tegar menyadari bahwa kita masih punya sesuatu yang dapat dilakukan. Tersenyum :)

Saturday, March 30, 2013

A Soldier's Winter

Based on a soldier's letter to his daughter. After the atrocities witnessed at several places Hiroshima, Vietnam, Iraq, it is warning to the future not to allow the current world to continue in it's manner.

A Soldier's Winter

The day before it wasn't snowing.
After amber suns made our Earth now glowing.

The trees are strangers, leering, disapproving 
In the ash of winter, are minds are now moving

My world, my life, my wandering path.
It seems not God, but man's own wrath.

I pray God's eyes may us once again, 
Gaze upon us at our end.

We will rebuild, we will renew,
From a world of greed and lust that left so few.

Remind me that I am still his child.
And provide us with your mercy mild.

I love you, Dad. My forever soldier on my deepest heart.

Tuesday, August 9, 2011

Pesan

Sekarang rasanya aku harus bisa menahan emosi. Harus menerima saat balasannya membutuhkan waktu yang lama. Harus menerima jika balasannya tak seramah kemarin. Harus tau bahwa waktu banyaknya tak lagi untukku. Aku tidak terlepas, aku tidak melepas namun kamu yang melepas.

Hati-hati di sana. Jaga diri. Jaga kesehatan. Seperti katamu, di sini aku akan baik-baik saja, aku akan kuat.

"Gabriela blogmu luar biasa segala keluhanmu adalah cerita menarik,pesanku jadikan masa lalumu menjadi sesuatu yg membuatmu berani menatap masa depan."

Sebuah kutipan dari sebuah cerita. Cerita yang ditulis di sebuah blog. Pemiliknya adalah perempuan periang yang memiliki seorang lelaki berperawakan tinggi dan menurutku cukup bijaksana dalam menjaga hubungan mereka. Sangat mengagumkan. Pasangan yang lucu. Tidak pernah terlihat sedih. Selalu terlihat gembira. Mereka bisa menutupi kerumitan dengan sebuah tawa, dengan sebuah hal yang disebut kedewasaan.

Kutipan itu. Itu pesan yang mulai menyadarkanku apa artinya masa lalu. Setelah kupahami, aku sadar bahwa kita perlu dewasa tanpa harus merubah sifat kita, hanya dengan merubah pola pikir saja. Sangat bijaksana. Seperti kata sahabatku, "belajar dari masa lalu". Masa lalu bisa dijadikan sebuah pelajaran untuk melihat ke depan. Seperti kata kutipan itu, akan menjadi sesuatu yang memberanikanku menatap masa depan, tak hanya menatap, menghadapinyapun aku akan berani. Dan kurasa itu pasti.

Dari masa lalu, aku belajar banyak hal. Darimu aku belajar apa artinya kesabaran, kini aku tau apa itu kedewasaan.

Terima kasih, Kharisma juga terima kasih untuk Rio-mu. Senang bisa mengenal kalian sebagai teman, yang baik hati. Salam.

Wednesday, July 27, 2011

Video

--- Cerita ini adalah fiktif belaka yang saya karang. Jika ada kesamaan karakter dan cerita, merupakan ketidaksengajaan. Terima kasih. ---
_________________________________________________________________

"Kalau cinta udah didepan mata, langsung tangkep aja, ngapain tunggu lama-lama" - CBP

***
“Ayo dong bangun! Selamat ulang tahun ya, sayang!”, kecup ibuku sudah mendarat di pipiku.

Segala doa dari ayah dan ibu dengan spontan keluar dari mulut mereka. Semoga panjang umur, makin makin yang baiklah. Hari ini umurku delapan belas tahun. Makin dewasa dari tujuh belas tahun sebelumnya. Makin banyak masalah. Makin banyak persoalan yang harus dijawab.

“Terima kasih ya Yah, Bu”, balasku sambil meraih Blackberry-ku di meja samping tempat tidur.

Wah banyak sekali ucapan selamat ulang tahunnya. Aha ada pesan singkat, sebenarnya panjang dari pacarku. Hampir menangis membacanya. Semua pesan. Aku balas dengan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya karena kepedulian mereka. Sampai akhirnya aku bosan membalasnya. Mandi.

“Ulang tahun kok cemberut? Bukannya senang”, celetuk Ibu menghilangkan lamunan pagi hariku. Mengagetkan. Haaah merusak khayalan.

“Ah aku tambah tua, Bu. Sudahlah jangan membuatku memikirkan hal itu. Kuliah dan segala macamnya aku menyerah”, jawabku sambil berlalu menuju kamar yang tadinya sepi sunyi hanya ada boneka kesayanganku, kini ramai dengan boneka-boneka hidup.

“HAPPY BIRTHDAY, TIAN!”, semua teman meneriaki telingaku.

Ingin rasanya kuhajar wajah-wajah sok imut mereka yang sudah menumpahkan kepalaku dengan tepung. Ohya, aku Anatian Saraswati dan aku seratus persen perempuan. Sahabat-sahabat tersayang berkumpul dan memelukku kemudian. Tak lupa aku menangis menyambut pelukan pacarku, Casa. Membacanya dengan “ce” bukan “ka”. Jadi bukan Kasa melainkan Casa. Laki-laki idola para wanita dan hanya aku yang mampu menaklukkannya. Indah bukan?

Casa membawa tiramisu ukuran kecil, kesukaanku. Aku meniup lilin yang ada di atasnya. Benar-benar romantis.

“Dirawat ya”, bisiknya padaku.

Aku membuka bingkisan kotak agak besar bermotif kotak-kotak yang membuatku bergidik karena sedari tadi kotak itu berbunyi.

Black Labrador!!! Ah, Caaaas you’re my best!”, teriakku kegirangan.

Anak anjing yang entah berapa mahal harganya. Hitam, berkilau, dan sangat lucu. Benar-benar tak kusangka. Kupeluk anjing kecil itu selama Casa dan yang lainnya heboh merayakan ulang tahunku. Malam menjelang, mereka pulang. Hari yang melelahkan sampai LED Blackberry-ku menyala.

Ah sms dari Rio, ngapain nyuruh ke depan rumah jam segini? Jam sembilan, sableng”, aku mengeluh tiada henti. Menggerutu.

***

Aku keluar rumah, mengantuk. Ku lirik sosok botak berdiri di depan pagar rumah. Ya temanku yang super sabar itu. Menantiku keluar rumah pada cuaca dingin seperti malam ini, gerimis.

“Sama siapa?”, tanyaku sembari mengutak-atik kunci pagar rumahku.
“Sama sohib guelah, siapa lagi si calon dokter juga kayak gue”, gayanya melepaskan jas hujan kuning terang yang dikenakannya.
“Ooooh Fio, mana dia?”


Nyengir dengan setelan andalannya, kaos dibalut jaket. Masih tampan dan memesona seperti dulu. Senyumnya masih memukau. Ya cukup mengaggumkan, dulu. Ya, Fio. Ia mematikan mesin motor dan mengucapkan selamat ulang tahun. Mendatangiku, mencubit pipiku.


“Diiiih kebiasaan!”, keluhku sambil mengelus pipiku.
“Takut nggak bisa nyubit lagi nanti kalo udah jadi dokter hahahaha”, tawanya membahana.
“Kenapa gitu?”
"Casa udah ke sini?", sambung Rio.
"Udahlah bego", Fio menjawab sembari menoyor kepala Rio.
"Bawa kado?"
"Ya bawalah dongo"

Alisku mengernyit menatapnya dilanjutkan dengan ucapan selamat dari Rio, ya untukku tentunya.

“Ya gitu, gue cubit lagi ya”
"Aaaah, sakit sekali"
"Hahahaha"
"Kenapa sih? Kangen sama gue?"
"Kalo iya kenapa?"
"Haaaah sakiiit! Genit!"


Dari percakapan yang berputar-putar selama 2 jam di teras rumah dengan udara yang menggigit kulit, hampir lima kali dia mencubit pipiku. Orang aneh. Bicara tanpa topik jelas. Mengulur-ulur waktu tanpa memberitahu tujuan. Sampai pukul sebelas malam mereka meninggalkan rumahku dan menyerahkan sebuah hadiah ulang tahun untukku.

"Mendingan gua digebukin sepuluh orang deh daripada liat video ini"
"Ih kenapa emangnya? Video hantu ya? Apa video porno?"
"Hahaha enggaklah, udah liat aja nanti ketawa deh lo"

"Dasar aneh lo, Fi"

Video? Harus didengar di laptop, menggunakan earphone. Baiklah. Kupasang semuanya dan kumainkan. Hatiku tak karuan, takut mereka benar-benar measang wajah seram di video ini. Ata takut badan seksi berpose di video ini.


Wajah Fio, dengan kaos oblong dilengkapi jaket baseball favoritnya, berpose seperti orang ganteng saja. Dia berbicara gemetaran di depan kamera. Ya aku yakin dia gemetaran, dengan susah payah matanya menatap fokus kamera. Posenya benar-benar lucu. Kemudian lagu kesukaanku terputar.

***

Kalau saja aku masih punya
Kesempatan yang sama
Atau semua yang pernah terjadi
Bisa terulang lagi
Tapi ternyata kesempatan yang ada
Hanya sekali

Sampai kini masih ku tunggu
Datangnya keajaiban
Yang mungkin saja bisa memberiku
Waktu satu kali lagi
Seandainya masih bisa kudapatkan
Sekali lagi, satu kali lagi

Masih tertunda dan belum semua ku katakan
Biar ku tunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semua yang harus kau dengarkan
Isi hatiku yang belum ku sampaikan

Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi
Tapi ku berharap semoga masih ada kesempatan
Sekali lagi


"Ini video kejujuran, dari sini nih, dari hati. Video lain mah kalah, dari video keong racun, aril piterpen, briptu tomang mah kalah sama video gue ini"

"Emang dasar nggak ada otak nih orang, bercanda melulu ya", nyengir.

"Gue mendingan digebukin sepuluh orang deh sebenernya daripada liat video ini.................................. Gue sebenernya udah suka lama sama lo, udah lama banget. Gue tau lo udah punya pacar. Dan... lo juga sayang banget sama dia. Video ini nggak maksud buat ngancurin hubungan lo sama pacar lo kok. Gue cuma mau ngungkapin aja, soalnya gue takut nggak sempet. Oh iya selamat ulang tahun ya. Ulang tahun yang keberapa? Ke-40 apa ke-57 gitu? Hehehehe yang ke -18. Panjang umur dan sukses ya. Daaah."

"Gue nggak butuh jawaban lo sekarang, anjrit!", ku matikan laptop dan cukup.

Selesai.

Saturday, July 23, 2011

Semangat!

"Hidup itu seperti film yang diputar di bioskop" - Janji Joni

"Raihlah mimpimu, Kejarlah citamu, Jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik" - KING

"Hai pemuda Indonesia bangkitlah kau semua, Negara kita sudah merdeka" - Naga Bonar

"Cuma pada kebenaran kita bisa berharap" - GIE

"Semua kejadian pasti ada tujuannya" - Fiksi

"Apapun yang kita lakukan, harus lebih baik" - Merantau

"Jika kita ingin kesuksesan besar, ambillah resiko terbesar" -Laskar Pelangi

"Jalan lurus ke depan, jangan menoleh ke belakang, apapun yang terjadi" - 9 Naga

"Gue pengin hidup ini ada artinya, gue selalu berdoa dan berusaha agar cita-cita gue tercapai" - Catatan Si Boy

"Tuhan ngga akan bawa gue sejauh ini hanya untuk ninggaling gue" - D'bijis

Tuesday, June 7, 2011

Learned.


I've learned... That when I'm in love, it shows
I've learned... That being kind is more important than being right
I've learned... That I can always pray for someone when I don't have the strength to help him in some other way
I've learned... That sometimes all a person needs is a hand to hold and a heart to understand
I've learned... That to ignore the facts does not change the facts
I've learned... That a smile is an inexpensive way to improve my looks
I've learned... That no one is perfect until you fall in love with them

Andy Rooney.

Monday, September 7, 2009

Hidup.

Hidup itu adalah hal yang nggak bakalan pernah diketahui, awal dan akhirnya.

Hidup itu penuh ujian, pilihan dan sodaranya, nggak gampang meratakan tanah yang bergelombang. Gue pikir, hidup itu cuma sekali. Apa yang udah kita ambil, lanjutin aja!

Udah terlanjur nyemplung, ya mesti berenang!

Kesulitan pasti ada tapi belajarlah dari pengalaman. Itu artinya kita "belum" pantas memperoleh itu, bukannya "tidak" pantas. Kita dituntut untuk berusaha lebih keras lagi. Jadi jalanin aja, ikutin aja. Nggak usah takut menghadapi hidup karena kita emang mulai dibentuk dari pengalaman itu sendiri. Semangat, sob!
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings