Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Sekolah lagi? Mengapa tidak?


Pertamanya bingung, mau login saja gemeteran. Kemudian... Terima kasih, Tuhan! Tiket masuk Program Magister sudah di tangan. Tiada henti saya ucapkan syukur kepada-Mu atas restu yang diberikan untuk dapat sekolah lagi.

Gampang.
Banyak orang bilang "Ah S2 di sana gampang, temenku modal duit juga bisa", "Gampang S2 di sana syaratnya formalitas" dan lain sebagainya. Mungkin ada benarnya, saya tidak tau. Mungkin bagi kebanyakan orang memang gampang, tetapi belum tentu bagi saya. Kemampuan seseorang dalam menerima suatu permasalahan itu tidak sama. Saya mengikuti prosedur umum seperti calon mahasiswa lainnya. Sebenarnya gampang itu ketika saya bisa saja minta tolong seseorang untuk langsung menerima saya tanpa syarat, hahahahaha saya tidak seputus asa itu. Ketika saya sudah berniat, pasti saya perjuangkan.

Gampang.
Kalau memang masuknya gampang, apa iya lulusnya gampang? Kalau kita tidak menikmatinya, apa iya gampang? Satu-satunya statement 'gampang' yang bisa saya terima dari senior saya adalah "Kalo seneng ngejalaninnya, asik-asik aja, gampang kok". Sebulan lebih menunggu pengumuman yang diundur dua kali, astaga... menikmati haripun tidak segampang itu. Tidak bisa tidur sampai ajakan sahur, saat tertidur malah memimpikan gunung meletus. Pernah mendengar kalimat bijak 'Semua telah diketahui kecuali cara untuk bertahan hidup'? 

Saya bukan orang yang biasa mendapatkan sesuatu secara gampang. Kalau kalian (ingin) tau, perjalanan saya selama 24 tahun ini ya gitu. Benar, orang lain hanya mengomentari hasil tanpa peduli prosesnya. Memang, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hidup saya karena 'tugas' mereka hanyalah menilai dari apa yang dilihat.

Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) usaha saya bolak-balik Jakarta dan Jogjakarta yang cukup menguras tenaga dan uang. Mereka hanya tau saya kesana-kemari hanya untuk bervakansi. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) berapa kali saya gagal dan menghabiskan lumayan biaya hanya demi mengulang tes persyaratan masuk S2. Mereka hanya tau kalau kerjaan saya guling-guling di atas kasur setiap hari, ya mungkin memang juga hehehe. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) apa alasan saya berlama-lama di Jogjakarta. Mereka hanya tau saya sebagai pengangguran yang tidak berusaha apa-apa. Mereka tidak tau berapa buku yang saya pakai untuk latihan, waktu berapa kali berapa puluh menit yang saya habiskan untuk mengerjakan berbagai jenis soal, bagaimana perasaan orang tua dan mas saya yang dikorbankan demi melampiaskan amarah saya. Orang lain hanya tau kalau hidup saya selama ini enak-enak saja. 

Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya mandiri. Mereka tidak tau kami pernah ditolak di sekolah swasta karena tidak dapat membayar uang pangkal. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membeli tiket perjalanan berkali-kali. Mereka tidak tau kami berkali-kali jalan kaki entah karena angkot mogok beroperasi atau karena dirasa tidak begitu perlu menggunakan kendaraan. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membantu yang kesusahan. Mereka tidak tau bahwa kami bukan yang berkelimpahan harta sampai bingung menghabiskannya tetapi kami tau rasanya ditolong dan tidak ditolong. 

Beasiswa? Saya merasa tidak cukup pantas untuk mendapatkannya. Bukan saya sombong, saya ingin tapi saya tau batas kemampuan saya. Saya juga sebenarnya tidak bodoh, pas-pasan. Akademik saya pas-pasan kok, percaya diri saya juga pas-pasan. Waktu SD dan SMP hanya berantusias ketika jam pelajaran bahasa, kesenian atau olahraga. Saya benci matematika. Waktu SMA saya mulai suka mata pelajaran Kimia dan masuk jurusan IPA meskipun saya juga tidak katam sekali. Sampai akhirnya saya 'kecemplung' dan harus berenang di pendidikan apoteker dari nilai jeblok sampai tertarik melanjutkannya.

Kembali ke fokus awal. Sekolah lagi? Mengapa tidak?

Sebenarnya alasan saya memutuskan untuk sekolah lagi (di sana) bukan itu, bukan karena yang katanya gampang. Alasan saya yang pertama adalah karena bapak ibu. Kota ini menyatukan kami, bapak dan mas melanjutkan sekolah di sini. Diputuskan mengontrak rumah di sini, masa iya ngekost sendiri-sendiri? Mau tidak mau, ibu sibuk bolak-balik. Orang lain tidak tau betapa pusingnya mengontrol dua rumah. Mereka tidak tau betapa kerasnya usaha orang tua saya yang tetap bekerja sembari menyelesaikan studi setelah masa pensiunnya, begadang terkantuk-kantuk lewat tengah malam untuk saling menemani. Dengan usia mereka yang semakin bertambah, kesehatan yang kadang terganggu karena kelelahan, saya sangat ingin membantu keluarga ini yang Puji Tuhan selalu dicukupkan. Tetapi? Bapak ibu masih ingin kami (saya dan mas) untuk sekolah lagi sebelum berkarir. Ini saatnya bapak ibu menikmati hasil jerih payah mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang yang tinggi, kalau bisa lebih tinggi lagi. Kata bapak, pendidikan kami itu penting agar bisa survive di dunia yang terus berkembang. Bapak ibu ingin anak-anaknya berhasil, 'naik kelas'. Selagi mampu mendanai, sekolah lagi, mengapa tidak? 

Setelah mendaftar, awalnya saya takut. Saya kurang yakin dengan kemampuan saya sendiri. Tetapi teman saya sewaktu kuliah bilang "Ngapain takut, Ras? Kan udah usaha tinggal berdoa aja. Keputusanmu buat lanjut kuliah itu udah nunjukkin kalo kamu berani". Menurut saya itu keren sekali, membuat semangat saya meluap untuk selalu berpikiran positif, saya bisa.

Alasan saya berikutnya, yang baru-baru ini terlintas adalah karena saya perempuan. Saya ingin pendidikan saya tinggi dan tidak dipandang sebelah mata. Saya ingin memiliki bekal bakal pekerjaan saya nanti dan bermanfaat meskipun hanya sebesar biji sesawi. Saya ingin membawa pengaruh yang baik bagi banyak orang. Saya ingin membanggakan orang-orang yang telah memberikan restu dan dukungan pada saya. Memang pengalaman saya sangatlah kalah dibanding teman-teman yang sudah memiliki penghasilan, saya bangga pada mereka tentu saja. Jujur, saya juga ingin seperti mereka. Tetapi saya harus bisa melakukan hal lain. Ibu bilang bahwa berbeda tidak selalu buruk, seperti anak panah, tidak apa sedikit lebih mundur agar dapat melaju lebih cepat. Ada benarnya, kalau saya memutuskan untuk bekerja dahulu, bisa saja saya terlalu asik berpenghasilan dan tidak mau lanjut sekolah padahal banyak orang yang ingin memiliki peluang seperti saya, mengapa saya harus tidak mau? Pada era global ini, persaingan (sehat) perlu kan? Kalau orang bisa bekerja saat ini, mengapa saya tidak bisa sekolah pada kesempatan ini? Toh, pada akhirnya kami bermutualisme, bertukar ilmu itu baik, bukan? Masalah karir kami pasti ada masanya, ada waktunya. Tuhan sudah siapkan 'jatah' kami. Saya yakin Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. 

Ya... berpanjang lebarpun orang tidak peduli. Terkadang kita perlu menutup telinga untuk bisa mendengarkan apa kata hati sendiri, biarlah pilihan kita yang menentukan hidup kita. Seperti nasihat yang tante saya berikan, tetapi Tuhanlah pemilik segala ilmu sehingga doa, belajar dan kerja keras yang menjadi strategi untuk mencapai harapan yang sesuai dengan keinginan. 

Sekian.

Monday, May 8, 2017

24

“Cheers to myself for surviving another year! May I have many more wonderful, crazy years ahead of me! Happy Birthday, Me!“

Puji Tuhan, terima kasih atas rezeki yang masih Kau berikan untuk selalu mencukupkan saya dan keluarga, atas bertambahnya usia saya di tiap 5 Mei bersama bahagianya orang di sekitar saya khususnya tahun ini. Kiranya Tuhan selalu menjaga mereka yang tiada hari tanpa menyayangi saya.

Terakhir merayakan bersama itu waktu ulang tahun ke-17. Setelahnya, mencar merantau semuanya. Terima kasih, Babang & Ibur sudah menyempatkan sebelum ke Jakarta juga Mamas yang nemenin adeknya, mari bersyukur! Akhirnya foto bareng lagi di hari ulang tahunku πŸ˜ŠπŸ’•

Kau, yang sudah hadir tiga kali berturut-turut di tiga kota yang berbeda, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Terima kasih untuk waktu yang sudah kau luangkan menujuku. Saya menyayangimu.

Monday, April 17, 2017

Selamat, Doktor!

Akhirnya.
Meski terhambat kesehatan dan 'perintah' yang hanya bisa dijawab dengan 'siap', tetap ikhlas dilaksanakan sebaik mungkin. Meski menjadi mahasiswa baru setahun lebih cepat dariku dan lulus pada tahun berikutku, tak patah asamu.

'Alon-alon asal kelakon'. Biar lambat asal selamat. Biar belakangan asal diselesaikan. Tanggung jawab itu penting.

Keadaan ini mendekatkan keluarga yang terpisah jarak, mengakrabkan keluarga yang terdidik mandiri. Tuhan tau kami saling membutuhkan, Terima kasih Tuhan.

Pelintas batas, julukan yang mereka 'titeni' untukmu. Sangat memuaskan di garis tertinggi.

Untuk apa pandai jika akhirnya menyakiti? Apa guna menjadi saintis jika tidak bisa bersosialisasi? Keseimbangan hati dan pikiran, itu kuncinya. Tak perlu berambisi untuk menjadi yang terbaik karena semuanya ada di hati.

Selamat, Doktor! Mengenai belajar tak kenal waktu, semoga selalu menginspirasi generasi mudamu.
Yang tak habis bangganya, anak gadismu.


Yogyakarta, 17 April 2017.

Saturday, April 15, 2017

Selamat 23!

Semoga berkenan, jika tidak maka belajarlah menyukai apa yang tidak kau suka. Belajarlah menerima dan bersyukurlah. Rendah hatilah selalu, apalah arti baik rupa tanpa manis hatimu.
Selamat 23 tahun, Kapten πŸ’› Tuhan berkati dengan keselamatan, kesehatan dan keberhasilan. Amin.
Tulisku, di instagram. 

12 April 2017 di Yogyakarta.
Lagi. Di tahun ketiga, aku tak dapat hadir di hari ulang tahunmu.
Maaf. Namun semua doa selalu terkirim untukmu yang sedang praktek kerja di Bogor. Semoga Tuhan selalu merestui sampai kita duduk bersebelahan, beberapa sentimeter saja.



Friday, September 30, 2016

Surabaya-nya selesai.

Merantau, bukan pilihan yang baik untukku. Kala itu aku adalah gadis yang tidak suka berdaptasi, tidak suka dengan lingkungan baru, aku sulit ‘move on’ dan parahnya lagi aku itu cengeng. Aku takut perpisahan, aku lemah bila sendirian, aku tidak suka jauh dari ‘rumah’.

SURABAYA.
Apalah, kau itu kota panas, tidak banyak tempat wisata, sama saja seperti Jakarta hanya ada mall saja. Tetapi setelah lima tahun ini, ya memang yang abadi hanyalah perubahan.

Masih ingat tepat lima tahun lalu, September 2011. Mulai sendiri, hidup di Surabaya tanpa saudara, tidur sendiri di satu kamar kost yang masih suka banjir jika hujan deras, yang lebih sedihnya adalah dengar isu mbak kost yang suka kasih ‘ospek’ anak baru. Hanya bisa menangis tiap malam, hanya berdoa supaya bisa pulang di esok hari, melihat foto keluarga di dinding hanya membuat hati teriris, disabarkan pacar tiap malam yang jauh di sana juga membuat jantung ini sesak. Semuanya jauh, lemahku setiap hari memeluk.

Sampai akhirnya aku menemukan teman-teman di kampus, mulai sering  jalan-jalan, tau tempat-tempat di Surabaya dan setiap malam pergi hanya untuk menghibur diri. Ke mall seminggu tiga kali, karaoke seminggu sekali, jajan ke indomaret setiap hari. Mulai dari yang medok jawa sampai yang gue-elo ada di sini, kutemukan ‘teman’ku.

Seiring waktu berjalan, aku tetap merasa rindu rumah. Di tahun berikutnya (2012), sempat ikut SNMPTN lagi untuk fakultas idaman di Jakarta, namun apa daya otak yang pikirannya terbagi-bagi, rasanya memang ditakdirkan merantau di ujung timur Jawa ini. Di tahun ini pula, aku mencoba membetahkan diri, mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus supaya tidak jadi mahasiswa ‘kupu-kupu’. Menjadi anggota divisi kerohanian yang anggotanya baik sampai serasa punya kakak dan adik, menjadi panitia makrab bersama mahasiswa baru di saat galau-galaunya, bermanfaat juga pertama kali melihat kau. Ternyata bisa lah menjadi pengalihan isu, sedih tidak begitu terasa dengan kegiatan dan teman-teman yang menemani.

Tahun berikutnyapun begitu (2013), masih ingin pulang tetapi kegiatan perkuliahan semakin memusingkan. Libur hanya beberapa hari saja dan membuatku mulai mencoba kegiatan baru. Travelling, tidaklah buruk. Katanya nikmatilah masa mudamu, travelling-lah sebelum tua umurmu. Aku mencoba menjadi perantau lainnya, mencicipi bagian lain dari Jawa. Mulai ke Bromo, Pulau Sempu, Yogyakarta bersama teman-teman. Menyenangkan sekali, bebas dan liar terkendali. Lumayan menghibur hati yang masih dalam pemulihan setelah terhempas menjadi kepingan.

Tahun berikutnya (2014), waktu untuk pulang menjadi singkat. Lebih banyak di Surabaya daripada di Jakarta. Aku tidak seperti yang lainnya, yang bisa pulang setiap minggu bahkan tiap bulan saja tidak. Begitu jauh, begitu mahal dan begitu ah Laras semakin dewasa harus tau diri dan belajar mengelola. Tidak boleh manja, tidak boleh cengeng, semangat untuk tahun-tahun berikutnya. Pertemanan semakin dekat, dengan teman sepermainan, sekelas maupun di kostan. Semakin banyak kenal dosen, adik kelas dan lintas fakultas juga lintas universitas. Membuka hati, mengapa tidak?

Tahun ini (2015), semakin padat, mulai proposal dan skripsi. Semakin rekat pertemanan, semakin sering bersama dalam tiap kegiatan. Ah, pacarku-pun menjadi pengajarku. Tahun ini semakin sensitif, segala emosi harus penuh kendali. Tidak sedikit percek-cokan tetapi masih dapat teratasi, Tuhan menyertai di tiap harinya. Laras semakin bisa menahan amarah, semakin tau manfaat bersabar, semakin tau arti teman, semakin tau obat yayaya Farmasi, semakin pandai mengelola waktu dan keuangan namun tetap ingat pulang. Sampai akhirnya meraih gelar S.Farm. bersama teman-teman kesayangan dan didampingi keluarga dan kau, Ris.

Tahun terakhir (2016), akhirnya datang juga. Kegiatan profesi semakin sibuk ditambah kerja praktek. Waktu main berkurang, waktu diskusi bersama kekasih berkurang, waktu tidur menjadi singkat. Semua laporan semakin sulit dan tebal entahlah aku juga masih belum percaya bisa melewatinya. Sampai akhirnya bisa yudisium untuk kedua kalinya dengan gelar lanjutan Apt. dan kamu dapatkan S.Farm.mu.

Akhirnya, hari yang ditunggu (ketika maba) datang juga. September akhir di tahun ini. Ah, minggu-minggu terakhir ini terasa begitu berat, malah aku sudah menguluir-ulur kepulanganku. Dengan segala kesempatan yang masih bisa kudapatkan. Mendengar kabar kalian sudah diterima kerja, melihat kau diwisuda, mengenal lebih dekat orang tua kau dan beribadah bersama, memelukmu, menggandeng dan dirangkul kamu, jajan sore yang kalap bersama kalian, delivery McD jam 4 pagi, tidur bersama kalian, bercanda dan menangis bersama, obrolan bodoh kalian. Selesai sudah 5 tahun ini, segala pengorbanan yang sudah aku lewati bersama teman-teman dan kau. Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa baru, kemudian kenal kalian, kenal kau. Rasanya baru kemarin ospek, seperti baru kemarin ke gunung dan pantai, seperti baru kemarin praktikum bersama kelompok yang sama tiap tahun, seperti baru kemarin menjelajahi Surabaya bersama kalian dan kau. Makan mie ayam solo, Restu maupun tenda biru, Bu Kris, Bu Rudy, Seafood Genteng Kali maupun Al-Firdaus, makan bakso Reog atau Pak No yang es telernya enak banget, Barokah, Molas, Kober Mie Setan, Gubeng Airlangga 2 yang makanannya bejibun, McD Manyar andalan, Dunkin Kebun Bibit tempat nugas, HM Bontang tempat kau, nonton dvd di kost dan rasanya kubisa setebal kamus jika menjabarkannya.

Teruntuk Ayun, Arie, Aisha, Nauval, Enny, Wilman, Rizda, Muis, Faya, yang paling banyak bantu dan nemenin kegabutanku yang sangat kacau selama di Surabaya beberapa minggu ini, terima kasih ya semoga yang sedang S2 dan sudah kerja segera doakan aku menyusul dan yang belum semoga segera menyusul juga supaya bisa meet up di Bali yaw. Teruntuk Ayu, Vinny, Mia adik Kostan Cantik tersayang, Ibet, Nanda dan Mbak Tiya sejawat senior Kostan Cantik juga Desty, Mbak Ethis dan Ana Dhabar 44 squad terima kasih sudah meramaikan sepinya hariku di kostan dengan panggilan, sapa dan teriakan kalian dari ruang tv. Lekas selesai kuliahnya ya supaya bisa bertemu lagi di manapun. Teruntuk Aris, selamat datang di relasi jarak jauh. Yang sabar dan semangat profesinya ya. Pasti ku rindu omelan dan diamnya kau kalau ngantuk, apalagi ketek kau itu. Terima kasih Surabaya nya.

Bersama dengan cerah langitnya, ceria orangnya dan terdekap kenangannya. September ceria, rasanya aku tidak ingin tidur untuk melewatkannya. Terima kasih untuk 5 tahun ini, sampai bertemu lagi, Surabaya dan kalian yang tersayang.

Wednesday, September 14, 2016

Apoteker, Sungguh?

Puji Tuhan, setelah yudisium Agustus kemarin akhirnya resmi jadi apoteker. Namanya menjadi lebih panjang, tanggung jawab yang dipegang juga lebih banyak. Nggak cuma satu janji yang harus diikrarkan, beberapa janji untuk semua orang demi kualitas hidup.

Dalam nama Tuhan... S.Farm., Apt.


Terima kasih buat Bapak, yang paling tangguh di manapun Ia berada. Dengan semua posisi dan lokasi tempatnya bekerja, demi aku dan mas juga ibu, bapak rela jauh dari rumah jauh sebelum aku. Dinas di mana-mana, mudah bergaul, disiplin dan sekarang kerja di luar kota setelah pensiun. 

Terima kasih buat Ibu, yang paling kuat di manapun Ia berada. Dengan sifat keibuan dan cerianya ibu membuat semua orang senang dan paling dicari dari semua perkumpulan. Ibu yang rela capek ngurus anak-anak dan rumah selama Bapak kerja, rela jauh dari keluarga dan menunggu bang toyib, nak toyibnya pada pulang dari rantauan.

Bapak dan Ibu sangat membanggakan dan menginspirasi banyak orang. Tentu anakmu juga seperti mereka, bedanya adalah... rasa bangga mereka tidak sebesar yang aku miliki. Tuhan terima kasih, atas orang tua yang sangat kusayangi ini.

Mas Ndaru yang tidak datang karena masih studi S2, tak apa. Ketidakhadiranmu bukan berarti bahwa aku tidak ingat kakakku yang murah hati itu kan? Sampai jumpa di liburan depan ya, kalau bisa aku nyusul jadi juniormu di sana. Amin.

Aris, temanku, sahabatku, kekasih hehe... Terima kasih sudah sabar, banyaknyaaaaa sabarmu itu kena semprot sana sini. Terima kasih ya.

Teman-teman selama profesi apoteker, kegiatan kerja praktek profesi, semuanya yang tidak bisa disebutkan satu-satu, terima kasih banyak. Kakak dana adik yang mendukung selama profesi, semuanya terima kasih. Bersyukur kenal kalian.



Surabaya, 14 September 2016.
Sekian.

Tuesday, September 6, 2016

Kali Kedua

Bukan kayak lagunya mbak Raisa, kali keduanya beda lagi.

Selamat, kamu sudah dengan sabar menghadapiku selama dua tahun ini, Ris!
Sekarang tanggal 6 September 2016 yang rupanya manis sekali, kalo tahun lalu aku sendu saja ternyata di tahun kedua kamu sangat manis sekali. Kita pergi ke kafe di mana dulu pertama kali Aris bilang mau lebih dari teman entah apa maksudnya. Katanya dua tahun lalu, hari itu adalah hari yang tepat untuk mengeluarkan momentum. Terserah. 

Jadi dua tahun lalu kita sempet sampai Tanjuk Perak tepi laut ya, nyaris ke Gresik loh tanpa obrolan yang masuk akal. Entah apa yang ada di pikiran kamu. Jujur aku bingung karena nggak mau kepedean secara kan senior itu jaga sikap dong masa diajak jalan jauh sama junior aja senengnya setengah mati, nggak lah. Malah takut diculik.

Jadi, terima kasih untuk hari ini kamu lucu sekali. Terima kasih untuk dua tahun lalu, setahun lalu, tidak hanya itu, terima kasih untuk hari-hari sebelumnya dan setiap harinya. Terima kasih Tuhan sudah menciptakannya dari rahim ibunya yang penyayang, dari ayahnya yang lembut hatinya. Tante terima kasih sudah melahirkan Aris meskipun kadang cueknya ampun-ampun, Laras suka nggak sanggup. Angkat tangan deh, ampun om anaknya dikasih apaan. Ris, ku yawyaw kamu ya! Ehehe...

September 2014
September 2016

Friday, August 19, 2016

Yudisium Kedua

Setelah praktek kerja profesi selesai maka dilanjutkan dengan sidang profesi industri. Saya dapat giliran pada hari pertama jadwal selesai ya bagus saya pembuka, beberapa hari kemudian dinyatakan bahwa saya tidak mengikuti sidang ulang. Terima kasih kepada bapak-bapak malaikat, dosen saya yang sangat menyenangkan jika mengajar meskipun saya terkadang mengantuk karena terlalu lama ataupun dagdigdug karena ada tanya jawab, Prof Yuwono dan Pak Dwi. Juga kepada penguji industri dari PT Kimia Farma. Oke mereka nggak akan melihat postingan ini tapi ya bersyukur dan terima kasih tetap terkirim untuk mereka dan Tuhan tentunya, terima kasih, Tuhan!
_____

Yudisium kok nagih ya? Kali ini yudisium untuk profesi apoteker, rasanya senang juga lega. Kelas D 2011, lima tahun sama mereka itu kayak gimana ya... makin ke sini makin sayang. Sekarang sudah lulus jadi apoteker setelah dihempas badai ujian-ujian yang nggak tau lagi kalo nggak ada kalian. Sedih ada, karena ini tahun terakhir kami dan kami nggak lengkap. Buat yang belum, kami doakan agar segera menyusul dan bertemu di dunia orang dewasa hahaha. Nggak ada lagi praktikum bareng, nyuci buret, rebutan statif yang imbang atau ganti beaker glass yang pecah, nugas sampai malam, kelayapan di kampus sampai gelap ataupun main bareng ke nikahannya siapa gitu. Nanti bakal sibuk dengan hidup masing-masing.

"Rasanya kurang afdol kalau tidak posting 'kegaduhan' foto kelas post-yudisium ... bahkan sepertinya kita kelas yang bisa dibilang 'hampir kenyang' entah dicaci maki atau dirasani satu kampus (?) Ah bodo amat, paling tidak saya tahu bagaimana mencari 'surga' diantara betapa 'neraka'-nya Farmasi, semuanya ada di kalian hei diampud (!) Semoga tali silaturahmi kita tidak berhenti hanya di jenjang titel, tapi masih berlanjut hingga reuni anak cucu nantinya (?)"
— @noirwanabhud 

Perubahan dalam hidup, wajar terjadi. Kehilangan itu pasti tapi kenangannya tetap ada. Proses pendewasaan dimulai kembali. Selamat, sejawat! Sampai jumpa September di Sumpah Apoteker 102. Terima kasih untuk kalian.

Dan selamat untukmu sudah lulus ujian skripsinya. Meskipun tidak mau ditonton tapi ku selalu doakan yang terbaik. Silakan menunggu yudisium, semoga berhasil dan sampai jumpa di wisuda bulan September! Bangga padamu, salam sayang.

Surabaya, 19 Agustus 2016.
Sekian.

Monday, July 29, 2013

BROMO bag. 2

Jalanan muter-muter, naik-naik, tanpa arah, tanpa jalan setapak, pasir-pasir. Modal nekat lagi, lampu motor dan ngikutin hardtop. Modal kompas di ransel juga gua nggak ngerti mau ke mana. Bener-bener gila! Di tikungan, tanjakan, para matic mulai rewel, bau-bau kopling hardtop mulai menyengat juga disambil hardtop-hardtop yang pada ngebut ngelewatin kita. Serem banget parah. Ayun? Kumat ringkihnya. Muntah, hypotermia, omongannya nggak jelas, nggak bisa gerak, badannya sakit semua, katanya. Gua sama anak-anak bingung, cuma bisa melukin sambil men-support. Minum air putih dan akhirnya membaik. Puji Tuhan.

Akhirnya beberapa saat jam gitu hahaha kita sampe atas dan parkir. Nanjak lagi dan di sana udah kayak pasar rame banget. Jam 4an langit mulai oranye. Cantik. Matahari mulai terbit dan paduan warnanya membuat gua jatuh cinta pertama kalinya sama alam. Dan kalian tau? Birunya... Bener-bener gua bersyukur bisa melihat pemandangan pagi hari yang biasanya gua selalu bangun siang di kost. Tuhan... Betapa kecilnya hamba-Mu ini. Bener-bener gua terkesima, mulai terang dan bener-bener negeri di atas awan. Ah parah. Foto-foto nggak boleh kelewatan. Sampe puas.

Warnanya melegakan sukma.
Birunya meredakan lelah.
Negeri di atas awan.
Muis, Gua, Faris, Arina, Rohman, Ayun, Monci, Nia, Arie, Faya
FULL TEAM!!!

Turun ke pasir berbisik dan naik lagi ke kawah. Perjalanan naik licin-licin pasir, banyak ranjau yang masih hangat berasap. Kalo kata Arie yang masih kuning itu barusan diproduksi kalo udah agak abu-abu itu udah 2 jam lebih diproduksi. Anjir. Skip. Tangga ke kawahnya sih keliatan pendek tapi pas naik nggak nyampe-nyampe. Tenggorokan kering. Sampe puncak wah rasanya seru banget tapi silaunya nggak nguati. Berhubung Monci dan Rohman ada latihan futsal jadi jam 8/9 pagi kita udah turun. Ayun nggak mau jalan dan merelakan uangnya Rp. 20.000,- untuk naik kuda bersama abang-abangnya, cie bajunya couple, btw. Cabut, sarapan terus pulang.

Batu atau ranjau 2 jam?
Pendaki amatir
Pre-wedding dulu
Kuda pemberani
Perjalanan pulang capek, ngantuk, dekil. Janjian mampir di mushola. Rohman sama Arina langsung ke Surabaya, sisanya tidur di mushola, Monci ngopi. Jam 11 siang, lanjut ke Surabaya dan sampai kost jam 3 sore. Oke pantat mati rasa dan muka belang. Terima kasih, teman-teman! Ini seru. Masih banyak cerita yang harus kita buat!

Sekian.

Saturday, July 13, 2013

BROMO bag. 1

Postingan kemarin kan gua udah bilang, gua lagi seneng-senengnya backpack gitu. Biar kece, anak rantau harus nyobain jadi backpacker!

Efek kuliah di Surabaya, Jawa Timur, yang buuuuuanyak banget wisata alam indah mempesona jos gandos, bikin gua sama temen-temen kampus gua, kalangan anak-anak cupu dari Farmasi yang mencoba untuk berpetualang, pe-na-sar-an. Sebenernya sih cuma gua dan cewek-cewek beberapa doang yang pengen banget keluar dari area obat. Bosen banget berkutat sama laporan, jurnal praktikum dan segala mata kuliah yang berakhiran Far-ma-si. Berhubung siangnya juga abis UTS, suntuk kan kakak?!

Modal nekat dan paksaan, akhirnya gua sama Monci (susah payah banget maksa si koko satu ini), Ayun sama Muis, Arie sama Faya (pastinya), Nia sama Faris juga Arina dan Rohman (pemimpin jalan)... Tanggal 20 April 2013 kemarin, ke Bromo lewat jalur Pasuruan. Semua kamera standby. Gua, Faris, Nia buat nangkep hal-hal cantik di sana.

19 April 2013. Kumpul di Kostan Cantik, Jl. Dharmawangsa Barat No. 44, Surabaya. Kost-an gua ahahahahaha. Jam 9 malem kumpul, basa-basi sampe jam berapa gitu terus berangkat ke... Pegasus. Bengkel yang kalo malem jadi tempat makan. Nemenin anak-anak yang belum pada makan. Terus gua sama Ayun, yang aslinya belum izin ke orang tua akhirnya berdoa sembari sms ibu masing-masing. Dan! DIIZINKAN. Puji Tuhan yang namanya girang satu rombongan, ah gila ini para ibu kesambet apaan tumben banget ngasih izin. Selesai makan, perjalanan nyaman dan tenang.

Sampe jalanan Ahmad Yani, hujan. Pupus segala dewa, galau. Jas hujan gua macem kresek segala sobeklah. Monci-pun nggak bawa. Die! Untunglah tersisa satu jas hujan egois yang celananya diikhlaskan supaya Monci yang pake. Sempet ketinggalan convoy karena Moncicilalang yang bawa motor macem keong. Dikira kita ngebut taunya kita yang ketinggalan. Udah handphone semua orang rasanya mau gua buang, nggak ada yang bisa dihubungin. Lanjut jalan dengan hujan yang bikin pupus. Untung Arina bawa lampu-lampu kelap-kelip yang biasa dibawa Polantas gitu jadi dilambai-lambai dipinggir jalan. Hujan mereda. Kering. Jas hujan atau ya kresek itu menyiksa gua. Berisik abis, bayangin naik motor pake kresek. Di jalan dihina-hina segala sama anak-anak. Katanya anak SD dijemput abangnya mboncengan motorlah, katanya anak kecil malem-malem kok naik motorlah. Skip.

Arah Pasuruan. Rame truk, Arie sama Faya sempet kepleset pasir jalanan. Ayun seperti biasa beser dan saking nggak tahannya nyari pom bensin, ya pipis di samping warung gelap di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian nemuin pom bensin dan Ayun menyesal setengah mati, enggak juga sih. Ya kesempatan untuk melepas kantong kresek sembari dihina-hina seperti biasa. Bener-bener pas pada buka helm yak lepek dan jelek banget hahaha. Isi bensin dan sebentar istirahat sambil cerita hantu. Kelar. Berangkat lagi.

Gua lupa berapa lama perjalanan. Sampe mana gitu ada belokan ke kanan nah si Muis sama Ayun segala kebablasan capek ngantuk tapi jadi melek gara-gara ngakak. Terus kita ngelewatin rumah-rumah warga, gelap, serem, nggak mau deh gua liat belakang, sekalinya liat belakang disurug Nia sama Faris dan..... Bener-bener hitam nggak bisa liat apa-apa reflek gua teriak saking seremnya.

20 April 2013. Perjalanan tengah malem. Jam 2 pagi sampe pos terus ada sobatnya Rohman gitu jadinya tiket masuk lebih murah jadinya cuma Rp. 5000,- aslinya naik Rp. 7000,-. Puji Tuhan. Terus bingung mau ke penanjakan atau ke kiri. Kalo penanjakan harus jalan kaki, kalo yang ke kiri kita naik motor. Akhirnya kita naik motor aja. Nekat abis karena kebanyakan motor matic yang susah banget dibawa nanjak. Belum sampe nanjak-nanjak, dingin mulai menggigit kulit gua dan temen-temen. Pas Monci suruh gua liat ke atas... Ya Tuhan sungguh Engkau Maha Besar. Bintang udah kayak lautan pasir. Indah banget Ya Tuhan. Merinding, mau nangis sambil manggilin temen-temen, kalo ada kata lain yang lebih dewa daripada indah... Ah kerlap-kerlipnya suka banget nggak bohong. Nggak ada obat, apotek tutup kalo kata Maul. Lanjut nanjak.

Bersambung...

Wednesday, July 27, 2011

Video

--- Cerita ini adalah fiktif belaka yang saya karang. Jika ada kesamaan karakter dan cerita, merupakan ketidaksengajaan. Terima kasih. ---
_________________________________________________________________

"Kalau cinta udah didepan mata, langsung tangkep aja, ngapain tunggu lama-lama" - CBP

***
“Ayo dong bangun! Selamat ulang tahun ya, sayang!”, kecup ibuku sudah mendarat di pipiku.

Segala doa dari ayah dan ibu dengan spontan keluar dari mulut mereka. Semoga panjang umur, makin makin yang baiklah. Hari ini umurku delapan belas tahun. Makin dewasa dari tujuh belas tahun sebelumnya. Makin banyak masalah. Makin banyak persoalan yang harus dijawab.

“Terima kasih ya Yah, Bu”, balasku sambil meraih Blackberry-ku di meja samping tempat tidur.

Wah banyak sekali ucapan selamat ulang tahunnya. Aha ada pesan singkat, sebenarnya panjang dari pacarku. Hampir menangis membacanya. Semua pesan. Aku balas dengan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya karena kepedulian mereka. Sampai akhirnya aku bosan membalasnya. Mandi.

“Ulang tahun kok cemberut? Bukannya senang”, celetuk Ibu menghilangkan lamunan pagi hariku. Mengagetkan. Haaah merusak khayalan.

“Ah aku tambah tua, Bu. Sudahlah jangan membuatku memikirkan hal itu. Kuliah dan segala macamnya aku menyerah”, jawabku sambil berlalu menuju kamar yang tadinya sepi sunyi hanya ada boneka kesayanganku, kini ramai dengan boneka-boneka hidup.

“HAPPY BIRTHDAY, TIAN!”, semua teman meneriaki telingaku.

Ingin rasanya kuhajar wajah-wajah sok imut mereka yang sudah menumpahkan kepalaku dengan tepung. Ohya, aku Anatian Saraswati dan aku seratus persen perempuan. Sahabat-sahabat tersayang berkumpul dan memelukku kemudian. Tak lupa aku menangis menyambut pelukan pacarku, Casa. Membacanya dengan “ce” bukan “ka”. Jadi bukan Kasa melainkan Casa. Laki-laki idola para wanita dan hanya aku yang mampu menaklukkannya. Indah bukan?

Casa membawa tiramisu ukuran kecil, kesukaanku. Aku meniup lilin yang ada di atasnya. Benar-benar romantis.

“Dirawat ya”, bisiknya padaku.

Aku membuka bingkisan kotak agak besar bermotif kotak-kotak yang membuatku bergidik karena sedari tadi kotak itu berbunyi.

Black Labrador!!! Ah, Caaaas you’re my best!”, teriakku kegirangan.

Anak anjing yang entah berapa mahal harganya. Hitam, berkilau, dan sangat lucu. Benar-benar tak kusangka. Kupeluk anjing kecil itu selama Casa dan yang lainnya heboh merayakan ulang tahunku. Malam menjelang, mereka pulang. Hari yang melelahkan sampai LED Blackberry-ku menyala.

Ah sms dari Rio, ngapain nyuruh ke depan rumah jam segini? Jam sembilan, sableng”, aku mengeluh tiada henti. Menggerutu.

***

Aku keluar rumah, mengantuk. Ku lirik sosok botak berdiri di depan pagar rumah. Ya temanku yang super sabar itu. Menantiku keluar rumah pada cuaca dingin seperti malam ini, gerimis.

“Sama siapa?”, tanyaku sembari mengutak-atik kunci pagar rumahku.
“Sama sohib guelah, siapa lagi si calon dokter juga kayak gue”, gayanya melepaskan jas hujan kuning terang yang dikenakannya.
“Ooooh Fio, mana dia?”


Nyengir dengan setelan andalannya, kaos dibalut jaket. Masih tampan dan memesona seperti dulu. Senyumnya masih memukau. Ya cukup mengaggumkan, dulu. Ya, Fio. Ia mematikan mesin motor dan mengucapkan selamat ulang tahun. Mendatangiku, mencubit pipiku.


“Diiiih kebiasaan!”, keluhku sambil mengelus pipiku.
“Takut nggak bisa nyubit lagi nanti kalo udah jadi dokter hahahaha”, tawanya membahana.
“Kenapa gitu?”
"Casa udah ke sini?", sambung Rio.
"Udahlah bego", Fio menjawab sembari menoyor kepala Rio.
"Bawa kado?"
"Ya bawalah dongo"

Alisku mengernyit menatapnya dilanjutkan dengan ucapan selamat dari Rio, ya untukku tentunya.

“Ya gitu, gue cubit lagi ya”
"Aaaah, sakit sekali"
"Hahahaha"
"Kenapa sih? Kangen sama gue?"
"Kalo iya kenapa?"
"Haaaah sakiiit! Genit!"


Dari percakapan yang berputar-putar selama 2 jam di teras rumah dengan udara yang menggigit kulit, hampir lima kali dia mencubit pipiku. Orang aneh. Bicara tanpa topik jelas. Mengulur-ulur waktu tanpa memberitahu tujuan. Sampai pukul sebelas malam mereka meninggalkan rumahku dan menyerahkan sebuah hadiah ulang tahun untukku.

"Mendingan gua digebukin sepuluh orang deh daripada liat video ini"
"Ih kenapa emangnya? Video hantu ya? Apa video porno?"
"Hahaha enggaklah, udah liat aja nanti ketawa deh lo"

"Dasar aneh lo, Fi"

Video? Harus didengar di laptop, menggunakan earphone. Baiklah. Kupasang semuanya dan kumainkan. Hatiku tak karuan, takut mereka benar-benar measang wajah seram di video ini. Ata takut badan seksi berpose di video ini.


Wajah Fio, dengan kaos oblong dilengkapi jaket baseball favoritnya, berpose seperti orang ganteng saja. Dia berbicara gemetaran di depan kamera. Ya aku yakin dia gemetaran, dengan susah payah matanya menatap fokus kamera. Posenya benar-benar lucu. Kemudian lagu kesukaanku terputar.

***

Kalau saja aku masih punya
Kesempatan yang sama
Atau semua yang pernah terjadi
Bisa terulang lagi
Tapi ternyata kesempatan yang ada
Hanya sekali

Sampai kini masih ku tunggu
Datangnya keajaiban
Yang mungkin saja bisa memberiku
Waktu satu kali lagi
Seandainya masih bisa kudapatkan
Sekali lagi, satu kali lagi

Masih tertunda dan belum semua ku katakan
Biar ku tunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semua yang harus kau dengarkan
Isi hatiku yang belum ku sampaikan

Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi
Tapi ku berharap semoga masih ada kesempatan
Sekali lagi


"Ini video kejujuran, dari sini nih, dari hati. Video lain mah kalah, dari video keong racun, aril piterpen, briptu tomang mah kalah sama video gue ini"

"Emang dasar nggak ada otak nih orang, bercanda melulu ya", nyengir.

"Gue mendingan digebukin sepuluh orang deh sebenernya daripada liat video ini.................................. Gue sebenernya udah suka lama sama lo, udah lama banget. Gue tau lo udah punya pacar. Dan... lo juga sayang banget sama dia. Video ini nggak maksud buat ngancurin hubungan lo sama pacar lo kok. Gue cuma mau ngungkapin aja, soalnya gue takut nggak sempet. Oh iya selamat ulang tahun ya. Ulang tahun yang keberapa? Ke-40 apa ke-57 gitu? Hehehehe yang ke -18. Panjang umur dan sukses ya. Daaah."

"Gue nggak butuh jawaban lo sekarang, anjrit!", ku matikan laptop dan cukup.

Selesai.

Sunday, July 24, 2011

Ospek Cinta

--- Cerita ini adalah fiktif belaka yang saya karang. Jika ada kesamaan karakter dan cerita, merupakan ketidaksengajaan. Terima kasih. ---
_________________________________________________________________

Pengarahan OSPEK UNIVERSITAS. Disuruh membawa Baby Rose. Maklum saja, universitasku ini, calon kampusku ini, adalah universitas terbersih di Indonesia. Ya bangga juga sih, bisa ngikutin jejak kakak yang sudah semester enam, Fakultas Kehutanan. Biar jadi Menteri Kehutanan, kata papa. Aku, calon mahasiswi Teknik Industri, calon pemilik pabrik ganja. Halah daun singkong saja dibilang ganja. Abaikan. Sudah dipilih Ketua dari Industri. Laki-laki itu, putih, dan kutebak dia pasti orang Jawa Barat. Dan dia, orang yang sering kulihat saat masa SMA. Anjar, ya dia teman baik tetanggaku.

"Mamam! Baby Rose! Lupa!", aku panik.

Ku kirim pesan singkat untuk tetanggaku yang juga masuk universitas yang sama denganku. Lain denganku, dia calon anak Psikologi.

Satria, minta nomor handphone Anjar dong

Seperti kilat. Balasannya cepat. Kudapat nomor Anjar kemudian kutanya tentang bayi mawar.

Keesokan harinya, pemilihan wakil kelompok. Anjar memilihku. Aneh. Malah memaksa. Aku mengeluh pada teman sampingku. Namanya Anty, anak pintar lulusan SMA di Bekasi. Selama ospek, dia telah menjadi teman baikku. Bersama empat lainnya, Tina, Mika, Nurma, dan Eni.

Mulai banyak teman, mengasyikan. Sering kirim pesan untuk tanya tugas dan Anjar sering menelepon, bercerita tentang mantan kekasihnya. Guess what? Tanya kenapa? Curhat colongan di saat bangun dari tidur siang? Lucu.

***

Baru sebulan kuliah, tidak betah. Terbiasa dengan sekolah swasta yang tidak ribet, kini berada di universitas negeri. Entah aku wakil atau apa tetapi rasanya seperti pembantu. Anjar, ketua ruangan Industri-8, ya sebut saja kelasku, selalu marah-marah karena banyak sampah yang tertinggal di ruangan, dia selalu menyuruhku membuat laporan siapa yang membuang sampah sembarangan. Kenapa wakilnya? Setiap pagi yang kudengar adalah "LA, LAPORAN. LA, LAPORAN". Hah mau muntah rasanya.

"Lala, liat kakak itu deh!", kata Anty sambil melirik kakak gemuk putih di seberang gedung.
"Itu anak organisasi yang ngurus ospek kemarin kan?"
"Iya, namanya Wira, lucu ya..."
"Ciailah suka?"
"Ssssshhhh"
Kami tertawa berdua di balkon, sampai waktunya kuliah.

***

Teknik industri, ya memang penuh dengan praktek, penelitian, laporan, kerja lapangan. Angkatan pertama pasti melakukan studi ke Anyer, meneliti industri di sana. Sudah hampir 12 bulan kuliah, ya melakukan studi. Berangkat dengan mobil Anjar dan Tomo. Bersenang-senang di perjalanan bersama dengan sepuluh orang lainnya. Karena kami menginap di mess, jadi semua gratis. Yang kutunggu hanya... Pantai...

Sampai di sana, langsung menyerbu pantai. Aku dan sepuluh temanku satu rumah mess. Mengasyikkan. Bersantai sampai malam, sampai pagi datang, menuntut sebuah laporan. Selularku berbunyi, pacarku menelpon.

"Sudah sampai?", katanya di seberang.
"Iya sudah kok"
"Siap-siap makan malam", kata Anjar dan kemudian dia mengacuhkanku.

Aku menutup teleponku kemudian memesan sate bumbu kecap untuk makan malamku. Tidak ada kerja sama sedikitpun malam ini, antara ketua dan wakilnya.

Bersambung...

Tuesday, September 1, 2009

DASAR LAUT TERINDAH UNTUKKU

Pada liburan tengah tahun lalu, aku menghabiskannya di luar Pulau Jawa. Sebagai hadiah kelulusanku, di daerah Lombok Barat ku di bawa berlibur oleh keluargaku. Selama 2 minggu kami menetap di sana sebagai wisatawan dalam negri. Kami beristirahat di pondok sederhana di pinggir pantai. Itu semua karena aku yang memintanya. Begitu memukau pemandangan di sana.

Pasir putih di bibir pantai, pohon kelapa membentengi pondokku, kepiting kecil berjalan menikmati hidup, anak kecil bermain layangan tanpa lepas dari senyumnya dan orang tuanya yang sibuk ke tengah laut untuk mencoba menerima hidupnya yang pas-pasan. Angin yang sekilas membelai rambutku, membuatku bisa menutup mata sejenak menikmatinya. Ketika ku coba membuka mata perlahan, terasa angin berhembus mencoba memanggil namaku, Laras.

Siang itu, aku meluncur ke peraduanku. Tempat biasa ku menaruh rasa lelahku, tempat biasa ku menaruh rasa resahku, tempat di mana sahabatku berkumpul, juga tempat di mana peristiwa itu terjadi. Di mana kakekku menghilang meninggalkanku karena kecelakaan pesawat. Kejadian itu membuatku tidak bisa bersamanya lagi sejak 13 tahun yang lalu, saat aku berumur 2 tahun. Di bawah laut. Di dalam kesejukan alami. Di mana Tuhan menciptakan keindahan itu untukku.

Aku tidak pernah membenci laut karena masalah kakekku itu. Malahan, aku makin ingin menyatu dengannya. Dalam arti bukan ingin mati tertelan laut juga, tapi aku ingin sekali bersahabat dengan laut dan segala penghuninya.

“Aku merindukan kakekku. Aku memang tidak pernah melihatnya secara jelas. Akupun tidak dapat mengingat wajahnya secara sempurna. Namun, ibuku pernah membantuku untuk mengingatnya dengan menunjukkan fotonya. Raga yang gagah di bungkus oleh pakaian dinas Angkatan Udara, di bahunya melekat tanda 2 bintang yang menandakan bahwa kakekku adalah Letnan Jenderal, seorang pemimpin yang masih di katakana muda dan di banggakan. Di atas bibirnya terlukis kumis tipis yang membuatku begitu bangga karena ketampanannya. Ibu juga selalu bilang bahwa dia sangat senang menggendongku saat aku masih kecil. Ingin sekali aku bertemu lagi, merasakan kehangatan seorang kakek. Mungkin harus menunggu keajaiban dulu ya atau aku yang harus berpulang ke tempat kakek berada, untuk bisa melihatnya. Dan aku akan menunggu sampai Tuhan merindukanku pulang.”

***

Setiap hari aku menghabiskan waktu untuk menyelam ke dalam laut yang bening itu, sehingga dapat menampakkan keindahan di dalamnya. Berusaha keras tuk berkawan dengan ikan-ikan yang sepertinya mengerti perasaanku bahwa aku merindukan sang kakek. Di bawah laut, aku mencoba menikmati indahnya pemandangan bawah laut yang pasti tidak semua orang bisa melihatnya secara nyata. Di dalam situ juga aku merasakan indahnya kebersamaan.

Terlihat difokus mataku, kawanan ikan yang berlomba-lomba mengejar ujung lautan, para tumbuhan laut yang menar-nari, seirama dengan bunyi rantai jangkar yang tertimbun entah berapa lama di sampingnya.Ingin kurasakan kenikmatan itu, ketenangan itu, kupejamkan mataku sejenak dan bersandar pasrah di air bebas yang tidak mungkin menopang tubuhku.

Suatu kejutan yang membuatku terenyak di tempat. Ketika kubuka kedua mataku, sungguh! Membuat kedua mataku hampir berlari dari pelupuk mataku. Ikan-ikan mengitariku dan membuatku terpukau dengan posisi mereka. Berbaris dengan jarak yang sama rata. Karena hal itu, aku segera kembali ke permukaan laut. Aku memanggil kakakku dan menyuruhnya bergegas mengganti pakaiannya dengan baju selam dan mengambil kamera anti air miliknya, aku memintanya untuk mengabadikan pemandangan ini karena hobinya adalah mengabadikan tiap peristiwa di bawah laut. Meski agak gemas juga karena kakakku sempat melongo melihat keadaan itu, akhirnya dengan pakaian selamku, aku dan penjaga pantai bergaya di tengah ikan-ikan itu. COOL!! AMAZING.

Dan “blup!!”, tiba-tiba semua gelap dan aku terbangun. Aku bisa bernafas di air? Aku berenang sekilat ikan. Aku mengerti bahasa ikan, aku bisa melepas tabung oksigenku, aku bisa bicara dengan mereka. Dan tubuhku membeku sejenak ketika aku melihat bayangan seseorang mirip seperti di foto yang pernah ibu tunjukkan. Sangat familiar wajah itu di benakku. Foto kakek. Kakek? Astaga mimpikah ini? Dan sesak terasa di dadaku, nafasku tak karuan dan sebelum pandanganku buyar gelap, ku melihat sekilas bayangan itu menuntunku menuju dasar laut dan “uhuk.. uhuk..” aku batuk sembari membuka mataku dan silau sekali matahari siang itu. Terlihat wajah ibu yang cantik menjadi pucat panik menatapku. Ayah sibuk bolak-balik mengambik handuk dan minum. Ternyata tadi kakiku keram dan oksigen habis karena aku terlalu lama di dalam air sehingga kakakku tadi menggiringku ke tepi pantai. Dan bayangan tadi? Oh, Terima Kasih, Kakek!

Saturday, January 3, 2009

Lanjutan - Liburan Yang Sehat

Pagi datang. Aku masih harus melewati malam lagi baru ke Jakarta. Di pagi itu aku langsung mandi dan berjalan-jalan mengelilingi Istana Bogor yang berlatar Gunung Salak itu. Capek juga, kalau diliat sih biasa saja tetapi saat aku mengelilinginya haduh gede be’eng (atau banget gitulah, bahasa gaul tuh). Kembali ke kamar. Sore, malam dan pagi.Yeeee waktunya pulang. Persiapan selesai dan berangkat pulang. Perjalanan hanya 1 jam ke Jakarta. Sampai di Jakarta aku langsung berkumpul di SMPku bersama teman-temanku untuk perjalanan ke Kota Tua Jakarta. Capek juga sih tapi aku kangen sama teman-teman (nggak capek-capek ya nih bocah). Aku berlima dengan teman-temanku berangkat naik kereta ekonomi jurusan Bogor dan turun di Stasiun Kota.

Sampai di sana, kami jalan-jalan, makan, foto-foto. Lalu karena sudah terasa bosan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, kami ke Menteng. Lalu kami mengantri busway, tapi sialnya tutup karena ada demo! Huh. Akhirnya naik kereta lagi jurusan Bogor (Bogor lagi). Di perjalanan aku melihat Monas, iiih bikin miris dah. Kan aku ingin ke sana karena aku belum pernah ke sana (menyedihkan, 15 tahun di Jakarta meen!! Nggak pernah ke Monas). Macam mana pula yak?? Cita-citaku belum terwujudkan. Tapi karena keretanya nggak berhenti, jadi pupuslah sudah harapanku (hiks hiks...). Sampai di perhentian berikut, turun di stasiun Gondangdia, Menteng. Dari stasiun situ, kami jalan ke Taman Menteng tapi kami nggak tau jalan. Pas nanya sama orang, buseeet et et jauh beneng (bahasa gaul lagi). Terusnyaaa, kami naik bajaj deh. UNTUK PERTAMA KALI. Aduh serasa anak kampung, nggak pernah ini itu. Jadi merasa ndeso ngahahahahaha. Ampuni aku DJ.

Dan sesampainya di Taman Menteng, wow rame banget. Ada orang yang latihan basket, futsal dan yang paling keren tuh skateboard. Wiiiiw ajib dah. Ya langka selanjutnya (anak muda jaman sekarang) ya ngeceng dan foto-foto hahaha. Tapi aku nggak ikut-ikutan lho. Jaga image wkekekekeke. Biasa anak rumahan yang jarang keluar. Nggak berani bertingkah. Ke Monas aja nggak pernah gimana mau melakukan hal yang lebih “waaah”??

Setelah puas kami istirahat sebentar dan jam menunjukkan pukul 4, kami memutuskan untuk pulang tapi nggak tau jalan. Akhirnya nanya orang lagi deh. Dan aku memberanikan diri untuk bertanya pada pak isilop (dibalik ‘polisi’ maksudnya) yang sedang nangkring di bawah pohon depan rumah besar di Jl. Diponegoro. Lalu kami dianjurkan naik PATAS (patas tuh bukannya ‘gerah’ ya? Eh panas deng! Apaan sih, Laras?). Wuiiih selon amet (berani maksudnya). Ya daripada ditinggal sendirian kan “pardut” (parah, duut) hhe. Ya akhirnya naik patas 216 kalau tidak salah. Kami berdiri hingga air perjuangan (keringat) mengucur deras karena lelah dan pengab. Penat dan penuh sekali. Pas di patas, ada pengamen berwajah tampan menyanyikan lagu ST12 hoho (penting nggak?). Hingga kami berhenti di perhentian terakhir Kp. Melayu. Dan turun satu persatu hingga berpisahlah kami.

Selesai.

Friday, January 2, 2009

Liburan Sehat

Pada liburan akhir tahun, aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Waktu terasa lama sekali karena di rumah, aku tidak melakukan apapun kecuali mandi (kalo niat), makan, tidur dan sms-an, hehe. Tapi akhirnya pada malam tahun baru nanti, aku akan di bawa oleh bapak dan ibuku ke Bogor, kumpul dengan saudara-saudara. Katanya sih daripada stress memikirkan hasil raportku yang ‘api’nya ada dua, yah fisika dan matematika uraiannya, hoho jadi malu masa kakaknya IPA adeknya IPAnya nggak tuntas?

Perjalanan di mulai pada hari Rabu tanggal 31 Desember 2008, aku bangun tidur lalu ngaso di depan TV untuk menyaksikan acara kesukaanku, ‘SPONGEBOB SQUAREPANTS’ hahaha. Mungkin itu tidak perlu di sebutkan kali ya. Dan pada pagi menjelang siang itu, Ibuku sudah siap sedia mengeluarkan TOAnya untuk teriak di kupingku dan berkata”adeeeeek, mandi!!”. Weits aku langsung berlari bak tentara di kejar bom. Setelah kurang lebih 15 menit aku mandi, gosok gigi, dan melakukan ritual, aku keluar dari peraduanku itu. Lalu memberi makan si hitamku, keling.

Sambil menunggu bapakku pulang dari kantor, aku hanya bisa diam tanpa kata sambil memandang keluar jendela tanpa memikirkan apapun. Dan sampai akhirnya bapakku pulang, aku di panggil bapakku untuk menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa ke sana. Pakaian luar dalam, makanan kecil dan tidak lupa kotak permenku. Dan pada tengah hari aku berangkat dengan wajah cemberut. Aku paling tidak suka kumpul dengan saudara-saudara karena tidak ada yang seumuran denganku. Yang paling muda juga hanya kakakku, bang Michael. Mendingan aku merayakan malah tahun baru dengan teman-temanku seperti tahun lalu.

Sampai di kota Bogor, aku menginap di pavilyun Istana Bogor. Karena pakdeku orang yang mengurusi pemerintahan, jadi keluarganya diperbolehkan bermalam di situ. Aku tidur di sebuah kamar yang besar, tinggi dan mistis. Begitu masuk ruangan itu, bulu kudukku berdiri. Di sisi kanan kamar terpampang jendela besar dan di sisi kiri terpajang cermin yang berhawa aneh, hihihi. Lupakan.

Saat malam tiba, aku dan sau-da-ra-sau-da-ra-kuuu makan bersama sambil menunggu tahun 2009 datang. Dan 5 detik lagi. 5... 4... 3... 2... 1... jebreeet tali sepatuku nyangkut di pintu. Dan sembari aku menonton Harry Potter, hingga tengah malam baru deh ‘preeeeeet’ terompet dari luar pagar Istana berbunyi. ‘jedaaaar jedeeeer’ petasan mengambang di angkasa. Artinya…. WELCOME 2009!! Selamat Tahun Baru! Setelah tanda itu langsung aku sms kawan-kawanku yang berbahagia, di Jakarta huhuhu. Dan menceritakan apa yang terjadi padaku, hikshiks. Kira-kira pukul 2 malam aku tidur di kamar sendirian. Aku tidak bermimpi apapun mungkin karena aku tidur terlalu lelap.

Bersambung...
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings