Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.
Showing posts with label Saya. Show all posts
Showing posts with label Saya. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Sekolah lagi? Mengapa tidak?


Pertamanya bingung, mau login saja gemeteran. Kemudian... Terima kasih, Tuhan! Tiket masuk Program Magister sudah di tangan. Tiada henti saya ucapkan syukur kepada-Mu atas restu yang diberikan untuk dapat sekolah lagi.

Gampang.
Banyak orang bilang "Ah S2 di sana gampang, temenku modal duit juga bisa", "Gampang S2 di sana syaratnya formalitas" dan lain sebagainya. Mungkin ada benarnya, saya tidak tau. Mungkin bagi kebanyakan orang memang gampang, tetapi belum tentu bagi saya. Kemampuan seseorang dalam menerima suatu permasalahan itu tidak sama. Saya mengikuti prosedur umum seperti calon mahasiswa lainnya. Sebenarnya gampang itu ketika saya bisa saja minta tolong seseorang untuk langsung menerima saya tanpa syarat, hahahahaha saya tidak seputus asa itu. Ketika saya sudah berniat, pasti saya perjuangkan.

Gampang.
Kalau memang masuknya gampang, apa iya lulusnya gampang? Kalau kita tidak menikmatinya, apa iya gampang? Satu-satunya statement 'gampang' yang bisa saya terima dari senior saya adalah "Kalo seneng ngejalaninnya, asik-asik aja, gampang kok". Sebulan lebih menunggu pengumuman yang diundur dua kali, astaga... menikmati haripun tidak segampang itu. Tidak bisa tidur sampai ajakan sahur, saat tertidur malah memimpikan gunung meletus. Pernah mendengar kalimat bijak 'Semua telah diketahui kecuali cara untuk bertahan hidup'? 

Saya bukan orang yang biasa mendapatkan sesuatu secara gampang. Kalau kalian (ingin) tau, perjalanan saya selama 24 tahun ini ya gitu. Benar, orang lain hanya mengomentari hasil tanpa peduli prosesnya. Memang, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hidup saya karena 'tugas' mereka hanyalah menilai dari apa yang dilihat.

Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) usaha saya bolak-balik Jakarta dan Jogjakarta yang cukup menguras tenaga dan uang. Mereka hanya tau saya kesana-kemari hanya untuk bervakansi. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) berapa kali saya gagal dan menghabiskan lumayan biaya hanya demi mengulang tes persyaratan masuk S2. Mereka hanya tau kalau kerjaan saya guling-guling di atas kasur setiap hari, ya mungkin memang juga hehehe. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) apa alasan saya berlama-lama di Jogjakarta. Mereka hanya tau saya sebagai pengangguran yang tidak berusaha apa-apa. Mereka tidak tau berapa buku yang saya pakai untuk latihan, waktu berapa kali berapa puluh menit yang saya habiskan untuk mengerjakan berbagai jenis soal, bagaimana perasaan orang tua dan mas saya yang dikorbankan demi melampiaskan amarah saya. Orang lain hanya tau kalau hidup saya selama ini enak-enak saja. 

Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya mandiri. Mereka tidak tau kami pernah ditolak di sekolah swasta karena tidak dapat membayar uang pangkal. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membeli tiket perjalanan berkali-kali. Mereka tidak tau kami berkali-kali jalan kaki entah karena angkot mogok beroperasi atau karena dirasa tidak begitu perlu menggunakan kendaraan. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membantu yang kesusahan. Mereka tidak tau bahwa kami bukan yang berkelimpahan harta sampai bingung menghabiskannya tetapi kami tau rasanya ditolong dan tidak ditolong. 

Beasiswa? Saya merasa tidak cukup pantas untuk mendapatkannya. Bukan saya sombong, saya ingin tapi saya tau batas kemampuan saya. Saya juga sebenarnya tidak bodoh, pas-pasan. Akademik saya pas-pasan kok, percaya diri saya juga pas-pasan. Waktu SD dan SMP hanya berantusias ketika jam pelajaran bahasa, kesenian atau olahraga. Saya benci matematika. Waktu SMA saya mulai suka mata pelajaran Kimia dan masuk jurusan IPA meskipun saya juga tidak katam sekali. Sampai akhirnya saya 'kecemplung' dan harus berenang di pendidikan apoteker dari nilai jeblok sampai tertarik melanjutkannya.

Kembali ke fokus awal. Sekolah lagi? Mengapa tidak?

Sebenarnya alasan saya memutuskan untuk sekolah lagi (di sana) bukan itu, bukan karena yang katanya gampang. Alasan saya yang pertama adalah karena bapak ibu. Kota ini menyatukan kami, bapak dan mas melanjutkan sekolah di sini. Diputuskan mengontrak rumah di sini, masa iya ngekost sendiri-sendiri? Mau tidak mau, ibu sibuk bolak-balik. Orang lain tidak tau betapa pusingnya mengontrol dua rumah. Mereka tidak tau betapa kerasnya usaha orang tua saya yang tetap bekerja sembari menyelesaikan studi setelah masa pensiunnya, begadang terkantuk-kantuk lewat tengah malam untuk saling menemani. Dengan usia mereka yang semakin bertambah, kesehatan yang kadang terganggu karena kelelahan, saya sangat ingin membantu keluarga ini yang Puji Tuhan selalu dicukupkan. Tetapi? Bapak ibu masih ingin kami (saya dan mas) untuk sekolah lagi sebelum berkarir. Ini saatnya bapak ibu menikmati hasil jerih payah mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang yang tinggi, kalau bisa lebih tinggi lagi. Kata bapak, pendidikan kami itu penting agar bisa survive di dunia yang terus berkembang. Bapak ibu ingin anak-anaknya berhasil, 'naik kelas'. Selagi mampu mendanai, sekolah lagi, mengapa tidak? 

Setelah mendaftar, awalnya saya takut. Saya kurang yakin dengan kemampuan saya sendiri. Tetapi teman saya sewaktu kuliah bilang "Ngapain takut, Ras? Kan udah usaha tinggal berdoa aja. Keputusanmu buat lanjut kuliah itu udah nunjukkin kalo kamu berani". Menurut saya itu keren sekali, membuat semangat saya meluap untuk selalu berpikiran positif, saya bisa.

Alasan saya berikutnya, yang baru-baru ini terlintas adalah karena saya perempuan. Saya ingin pendidikan saya tinggi dan tidak dipandang sebelah mata. Saya ingin memiliki bekal bakal pekerjaan saya nanti dan bermanfaat meskipun hanya sebesar biji sesawi. Saya ingin membawa pengaruh yang baik bagi banyak orang. Saya ingin membanggakan orang-orang yang telah memberikan restu dan dukungan pada saya. Memang pengalaman saya sangatlah kalah dibanding teman-teman yang sudah memiliki penghasilan, saya bangga pada mereka tentu saja. Jujur, saya juga ingin seperti mereka. Tetapi saya harus bisa melakukan hal lain. Ibu bilang bahwa berbeda tidak selalu buruk, seperti anak panah, tidak apa sedikit lebih mundur agar dapat melaju lebih cepat. Ada benarnya, kalau saya memutuskan untuk bekerja dahulu, bisa saja saya terlalu asik berpenghasilan dan tidak mau lanjut sekolah padahal banyak orang yang ingin memiliki peluang seperti saya, mengapa saya harus tidak mau? Pada era global ini, persaingan (sehat) perlu kan? Kalau orang bisa bekerja saat ini, mengapa saya tidak bisa sekolah pada kesempatan ini? Toh, pada akhirnya kami bermutualisme, bertukar ilmu itu baik, bukan? Masalah karir kami pasti ada masanya, ada waktunya. Tuhan sudah siapkan 'jatah' kami. Saya yakin Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. 

Ya... berpanjang lebarpun orang tidak peduli. Terkadang kita perlu menutup telinga untuk bisa mendengarkan apa kata hati sendiri, biarlah pilihan kita yang menentukan hidup kita. Seperti nasihat yang tante saya berikan, tetapi Tuhanlah pemilik segala ilmu sehingga doa, belajar dan kerja keras yang menjadi strategi untuk mencapai harapan yang sesuai dengan keinginan. 

Sekian.

Monday, May 8, 2017

24

“Cheers to myself for surviving another year! May I have many more wonderful, crazy years ahead of me! Happy Birthday, Me!“

Puji Tuhan, terima kasih atas rezeki yang masih Kau berikan untuk selalu mencukupkan saya dan keluarga, atas bertambahnya usia saya di tiap 5 Mei bersama bahagianya orang di sekitar saya khususnya tahun ini. Kiranya Tuhan selalu menjaga mereka yang tiada hari tanpa menyayangi saya.

Terakhir merayakan bersama itu waktu ulang tahun ke-17. Setelahnya, mencar merantau semuanya. Terima kasih, Babang & Ibur sudah menyempatkan sebelum ke Jakarta juga Mamas yang nemenin adeknya, mari bersyukur! Akhirnya foto bareng lagi di hari ulang tahunku πŸ˜ŠπŸ’•

Kau, yang sudah hadir tiga kali berturut-turut di tiga kota yang berbeda, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Terima kasih untuk waktu yang sudah kau luangkan menujuku. Saya menyayangimu.

Monday, April 17, 2017

Selamat, Doktor!

Akhirnya.
Meski terhambat kesehatan dan 'perintah' yang hanya bisa dijawab dengan 'siap', tetap ikhlas dilaksanakan sebaik mungkin. Meski menjadi mahasiswa baru setahun lebih cepat dariku dan lulus pada tahun berikutku, tak patah asamu.

'Alon-alon asal kelakon'. Biar lambat asal selamat. Biar belakangan asal diselesaikan. Tanggung jawab itu penting.

Keadaan ini mendekatkan keluarga yang terpisah jarak, mengakrabkan keluarga yang terdidik mandiri. Tuhan tau kami saling membutuhkan, Terima kasih Tuhan.

Pelintas batas, julukan yang mereka 'titeni' untukmu. Sangat memuaskan di garis tertinggi.

Untuk apa pandai jika akhirnya menyakiti? Apa guna menjadi saintis jika tidak bisa bersosialisasi? Keseimbangan hati dan pikiran, itu kuncinya. Tak perlu berambisi untuk menjadi yang terbaik karena semuanya ada di hati.

Selamat, Doktor! Mengenai belajar tak kenal waktu, semoga selalu menginspirasi generasi mudamu.
Yang tak habis bangganya, anak gadismu.


Yogyakarta, 17 April 2017.

Saturday, April 15, 2017

Selamat 23!

Semoga berkenan, jika tidak maka belajarlah menyukai apa yang tidak kau suka. Belajarlah menerima dan bersyukurlah. Rendah hatilah selalu, apalah arti baik rupa tanpa manis hatimu.
Selamat 23 tahun, Kapten πŸ’› Tuhan berkati dengan keselamatan, kesehatan dan keberhasilan. Amin.
Tulisku, di instagram. 

12 April 2017 di Yogyakarta.
Lagi. Di tahun ketiga, aku tak dapat hadir di hari ulang tahunmu.
Maaf. Namun semua doa selalu terkirim untukmu yang sedang praktek kerja di Bogor. Semoga Tuhan selalu merestui sampai kita duduk bersebelahan, beberapa sentimeter saja.



Friday, September 30, 2016

Surabaya-nya selesai.

Merantau, bukan pilihan yang baik untukku. Kala itu aku adalah gadis yang tidak suka berdaptasi, tidak suka dengan lingkungan baru, aku sulit ‘move on’ dan parahnya lagi aku itu cengeng. Aku takut perpisahan, aku lemah bila sendirian, aku tidak suka jauh dari ‘rumah’.

SURABAYA.
Apalah, kau itu kota panas, tidak banyak tempat wisata, sama saja seperti Jakarta hanya ada mall saja. Tetapi setelah lima tahun ini, ya memang yang abadi hanyalah perubahan.

Masih ingat tepat lima tahun lalu, September 2011. Mulai sendiri, hidup di Surabaya tanpa saudara, tidur sendiri di satu kamar kost yang masih suka banjir jika hujan deras, yang lebih sedihnya adalah dengar isu mbak kost yang suka kasih ‘ospek’ anak baru. Hanya bisa menangis tiap malam, hanya berdoa supaya bisa pulang di esok hari, melihat foto keluarga di dinding hanya membuat hati teriris, disabarkan pacar tiap malam yang jauh di sana juga membuat jantung ini sesak. Semuanya jauh, lemahku setiap hari memeluk.

Sampai akhirnya aku menemukan teman-teman di kampus, mulai sering  jalan-jalan, tau tempat-tempat di Surabaya dan setiap malam pergi hanya untuk menghibur diri. Ke mall seminggu tiga kali, karaoke seminggu sekali, jajan ke indomaret setiap hari. Mulai dari yang medok jawa sampai yang gue-elo ada di sini, kutemukan ‘teman’ku.

Seiring waktu berjalan, aku tetap merasa rindu rumah. Di tahun berikutnya (2012), sempat ikut SNMPTN lagi untuk fakultas idaman di Jakarta, namun apa daya otak yang pikirannya terbagi-bagi, rasanya memang ditakdirkan merantau di ujung timur Jawa ini. Di tahun ini pula, aku mencoba membetahkan diri, mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus supaya tidak jadi mahasiswa ‘kupu-kupu’. Menjadi anggota divisi kerohanian yang anggotanya baik sampai serasa punya kakak dan adik, menjadi panitia makrab bersama mahasiswa baru di saat galau-galaunya, bermanfaat juga pertama kali melihat kau. Ternyata bisa lah menjadi pengalihan isu, sedih tidak begitu terasa dengan kegiatan dan teman-teman yang menemani.

Tahun berikutnyapun begitu (2013), masih ingin pulang tetapi kegiatan perkuliahan semakin memusingkan. Libur hanya beberapa hari saja dan membuatku mulai mencoba kegiatan baru. Travelling, tidaklah buruk. Katanya nikmatilah masa mudamu, travelling-lah sebelum tua umurmu. Aku mencoba menjadi perantau lainnya, mencicipi bagian lain dari Jawa. Mulai ke Bromo, Pulau Sempu, Yogyakarta bersama teman-teman. Menyenangkan sekali, bebas dan liar terkendali. Lumayan menghibur hati yang masih dalam pemulihan setelah terhempas menjadi kepingan.

Tahun berikutnya (2014), waktu untuk pulang menjadi singkat. Lebih banyak di Surabaya daripada di Jakarta. Aku tidak seperti yang lainnya, yang bisa pulang setiap minggu bahkan tiap bulan saja tidak. Begitu jauh, begitu mahal dan begitu ah Laras semakin dewasa harus tau diri dan belajar mengelola. Tidak boleh manja, tidak boleh cengeng, semangat untuk tahun-tahun berikutnya. Pertemanan semakin dekat, dengan teman sepermainan, sekelas maupun di kostan. Semakin banyak kenal dosen, adik kelas dan lintas fakultas juga lintas universitas. Membuka hati, mengapa tidak?

Tahun ini (2015), semakin padat, mulai proposal dan skripsi. Semakin rekat pertemanan, semakin sering bersama dalam tiap kegiatan. Ah, pacarku-pun menjadi pengajarku. Tahun ini semakin sensitif, segala emosi harus penuh kendali. Tidak sedikit percek-cokan tetapi masih dapat teratasi, Tuhan menyertai di tiap harinya. Laras semakin bisa menahan amarah, semakin tau manfaat bersabar, semakin tau arti teman, semakin tau obat yayaya Farmasi, semakin pandai mengelola waktu dan keuangan namun tetap ingat pulang. Sampai akhirnya meraih gelar S.Farm. bersama teman-teman kesayangan dan didampingi keluarga dan kau, Ris.

Tahun terakhir (2016), akhirnya datang juga. Kegiatan profesi semakin sibuk ditambah kerja praktek. Waktu main berkurang, waktu diskusi bersama kekasih berkurang, waktu tidur menjadi singkat. Semua laporan semakin sulit dan tebal entahlah aku juga masih belum percaya bisa melewatinya. Sampai akhirnya bisa yudisium untuk kedua kalinya dengan gelar lanjutan Apt. dan kamu dapatkan S.Farm.mu.

Akhirnya, hari yang ditunggu (ketika maba) datang juga. September akhir di tahun ini. Ah, minggu-minggu terakhir ini terasa begitu berat, malah aku sudah menguluir-ulur kepulanganku. Dengan segala kesempatan yang masih bisa kudapatkan. Mendengar kabar kalian sudah diterima kerja, melihat kau diwisuda, mengenal lebih dekat orang tua kau dan beribadah bersama, memelukmu, menggandeng dan dirangkul kamu, jajan sore yang kalap bersama kalian, delivery McD jam 4 pagi, tidur bersama kalian, bercanda dan menangis bersama, obrolan bodoh kalian. Selesai sudah 5 tahun ini, segala pengorbanan yang sudah aku lewati bersama teman-teman dan kau. Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa baru, kemudian kenal kalian, kenal kau. Rasanya baru kemarin ospek, seperti baru kemarin ke gunung dan pantai, seperti baru kemarin praktikum bersama kelompok yang sama tiap tahun, seperti baru kemarin menjelajahi Surabaya bersama kalian dan kau. Makan mie ayam solo, Restu maupun tenda biru, Bu Kris, Bu Rudy, Seafood Genteng Kali maupun Al-Firdaus, makan bakso Reog atau Pak No yang es telernya enak banget, Barokah, Molas, Kober Mie Setan, Gubeng Airlangga 2 yang makanannya bejibun, McD Manyar andalan, Dunkin Kebun Bibit tempat nugas, HM Bontang tempat kau, nonton dvd di kost dan rasanya kubisa setebal kamus jika menjabarkannya.

Teruntuk Ayun, Arie, Aisha, Nauval, Enny, Wilman, Rizda, Muis, Faya, yang paling banyak bantu dan nemenin kegabutanku yang sangat kacau selama di Surabaya beberapa minggu ini, terima kasih ya semoga yang sedang S2 dan sudah kerja segera doakan aku menyusul dan yang belum semoga segera menyusul juga supaya bisa meet up di Bali yaw. Teruntuk Ayu, Vinny, Mia adik Kostan Cantik tersayang, Ibet, Nanda dan Mbak Tiya sejawat senior Kostan Cantik juga Desty, Mbak Ethis dan Ana Dhabar 44 squad terima kasih sudah meramaikan sepinya hariku di kostan dengan panggilan, sapa dan teriakan kalian dari ruang tv. Lekas selesai kuliahnya ya supaya bisa bertemu lagi di manapun. Teruntuk Aris, selamat datang di relasi jarak jauh. Yang sabar dan semangat profesinya ya. Pasti ku rindu omelan dan diamnya kau kalau ngantuk, apalagi ketek kau itu. Terima kasih Surabaya nya.

Bersama dengan cerah langitnya, ceria orangnya dan terdekap kenangannya. September ceria, rasanya aku tidak ingin tidur untuk melewatkannya. Terima kasih untuk 5 tahun ini, sampai bertemu lagi, Surabaya dan kalian yang tersayang.

Wednesday, September 14, 2016

Apoteker, Sungguh?

Puji Tuhan, setelah yudisium Agustus kemarin akhirnya resmi jadi apoteker. Namanya menjadi lebih panjang, tanggung jawab yang dipegang juga lebih banyak. Nggak cuma satu janji yang harus diikrarkan, beberapa janji untuk semua orang demi kualitas hidup.

Dalam nama Tuhan... S.Farm., Apt.


Terima kasih buat Bapak, yang paling tangguh di manapun Ia berada. Dengan semua posisi dan lokasi tempatnya bekerja, demi aku dan mas juga ibu, bapak rela jauh dari rumah jauh sebelum aku. Dinas di mana-mana, mudah bergaul, disiplin dan sekarang kerja di luar kota setelah pensiun. 

Terima kasih buat Ibu, yang paling kuat di manapun Ia berada. Dengan sifat keibuan dan cerianya ibu membuat semua orang senang dan paling dicari dari semua perkumpulan. Ibu yang rela capek ngurus anak-anak dan rumah selama Bapak kerja, rela jauh dari keluarga dan menunggu bang toyib, nak toyibnya pada pulang dari rantauan.

Bapak dan Ibu sangat membanggakan dan menginspirasi banyak orang. Tentu anakmu juga seperti mereka, bedanya adalah... rasa bangga mereka tidak sebesar yang aku miliki. Tuhan terima kasih, atas orang tua yang sangat kusayangi ini.

Mas Ndaru yang tidak datang karena masih studi S2, tak apa. Ketidakhadiranmu bukan berarti bahwa aku tidak ingat kakakku yang murah hati itu kan? Sampai jumpa di liburan depan ya, kalau bisa aku nyusul jadi juniormu di sana. Amin.

Aris, temanku, sahabatku, kekasih hehe... Terima kasih sudah sabar, banyaknyaaaaa sabarmu itu kena semprot sana sini. Terima kasih ya.

Teman-teman selama profesi apoteker, kegiatan kerja praktek profesi, semuanya yang tidak bisa disebutkan satu-satu, terima kasih banyak. Kakak dana adik yang mendukung selama profesi, semuanya terima kasih. Bersyukur kenal kalian.



Surabaya, 14 September 2016.
Sekian.

Friday, August 19, 2016

Yudisium Kedua

Setelah praktek kerja profesi selesai maka dilanjutkan dengan sidang profesi industri. Saya dapat giliran pada hari pertama jadwal selesai ya bagus saya pembuka, beberapa hari kemudian dinyatakan bahwa saya tidak mengikuti sidang ulang. Terima kasih kepada bapak-bapak malaikat, dosen saya yang sangat menyenangkan jika mengajar meskipun saya terkadang mengantuk karena terlalu lama ataupun dagdigdug karena ada tanya jawab, Prof Yuwono dan Pak Dwi. Juga kepada penguji industri dari PT Kimia Farma. Oke mereka nggak akan melihat postingan ini tapi ya bersyukur dan terima kasih tetap terkirim untuk mereka dan Tuhan tentunya, terima kasih, Tuhan!
_____

Yudisium kok nagih ya? Kali ini yudisium untuk profesi apoteker, rasanya senang juga lega. Kelas D 2011, lima tahun sama mereka itu kayak gimana ya... makin ke sini makin sayang. Sekarang sudah lulus jadi apoteker setelah dihempas badai ujian-ujian yang nggak tau lagi kalo nggak ada kalian. Sedih ada, karena ini tahun terakhir kami dan kami nggak lengkap. Buat yang belum, kami doakan agar segera menyusul dan bertemu di dunia orang dewasa hahaha. Nggak ada lagi praktikum bareng, nyuci buret, rebutan statif yang imbang atau ganti beaker glass yang pecah, nugas sampai malam, kelayapan di kampus sampai gelap ataupun main bareng ke nikahannya siapa gitu. Nanti bakal sibuk dengan hidup masing-masing.

"Rasanya kurang afdol kalau tidak posting 'kegaduhan' foto kelas post-yudisium ... bahkan sepertinya kita kelas yang bisa dibilang 'hampir kenyang' entah dicaci maki atau dirasani satu kampus (?) Ah bodo amat, paling tidak saya tahu bagaimana mencari 'surga' diantara betapa 'neraka'-nya Farmasi, semuanya ada di kalian hei diampud (!) Semoga tali silaturahmi kita tidak berhenti hanya di jenjang titel, tapi masih berlanjut hingga reuni anak cucu nantinya (?)"
— @noirwanabhud 

Perubahan dalam hidup, wajar terjadi. Kehilangan itu pasti tapi kenangannya tetap ada. Proses pendewasaan dimulai kembali. Selamat, sejawat! Sampai jumpa September di Sumpah Apoteker 102. Terima kasih untuk kalian.

Dan selamat untukmu sudah lulus ujian skripsinya. Meskipun tidak mau ditonton tapi ku selalu doakan yang terbaik. Silakan menunggu yudisium, semoga berhasil dan sampai jumpa di wisuda bulan September! Bangga padamu, salam sayang.

Surabaya, 19 Agustus 2016.
Sekian.

Monday, May 16, 2016

Selamat Ulang Tahun, Kita! (2)

Kalo di posting-an sebelumnya yaitu Selamat Ulang Tahun, Kita! tentang ulang tahun Aris, sekarang di bagian kedua kita masuk ke Bulan Mei, bulannya aku.

5 Mei 2016.
HARI ULANG TAHUN LARAS.

Berantem melulu nggak karuan, dua bulan lebih nggak ketemu. Apalah arti kata rindu apabila tidak bertemu? Aris ngelab terus seharian, kalo di kampus nggak pernah ngabarin. Sekalinya ngabarin cuma nyapa "Laras". Terus kenapa? Ya ngambeklah gua, gua berenti ngasih kabar dan nggak dicariin. Dua hari gua diemin, geram, yaudah. Terserah, mau alesan "Aku nggak mau ganggu kamu PKPA" lah, "Aku nggak mau ganggu kamu istirahat" lah. Bodo.

Tanggal 2-6 Mei, PKPA libur, long weekend. Aslinya sih udah selesai, tapi diperpanjang jadi masuk lagi tanggal 9 Mei. Sempet mau ikut bapak ibu ke Pontianak tapi nggak jadi karena perpanjangan PKPA yang ternyata baru minggu depannya. Oke gpp (kzl). Sebenernya nggak mikirin ulang tahun banget secara udah gede. Ucapan buat apa sih kalo tanpa kehadiran, ya nggak? Asique.

Rabu. Main-main sama Arie si jambul wudpeker dari Bekasi yang berkunjung dan Ayun Yoan yang masih tersisa di kos Arafuru. Nggak pake kode lagi, langsung minta bikinin kue oreo cheesecake ala Arie yang endes banget buat hari H nanti. Ayun juga nawarin buat mengabulkan seluruh permintaan gua, bukan main percaya diri. Aku santai, sembari membalas chat Aris yang sepertinya lagi chat-chatan licik sama Ayun. Pernah, salah kirim yaudahlah terserah gua capek kan. Kemudian mang Tardi dateng bawa paketan dari JNE, kotak beridentitaskan sepatu dari Aris. Ketawa. Senasib kayak gua. Gagal 1. Selesai.

Pada hari sebelumnya mamas pulang dari Jogja dan tengah malem di Hari Kamis, Muis dan Noval yang sudah balik ke Tuban dan Surabaya ngajak group call di LINE. Aisha ajak video call dan ngucapin selamat ulang tahun kemudian Ayun keluar kamar dan masuk bawa dua potong kue dan lilin yang kayak kampret susah banget ditiup. Ayun dan Yoan merasa gagal karena Aisha salah waktu. Gagal 2. Selesai. 

Pagi. Aris telfon terus tapi nggak gua angkat karena gua ngantuk banget dan males karena dia selalu bikin gua ngarep dia bakal ke Jakarta, "Kalo aku ke Jakarta nanti kamu kaget" dan selalu gua bales dengan "T*i" disambung dengan tawanya. Telfon makin liar, gua angkat dan cuma bilang terima kasih atas ucapannya dilanjut buka kado yang isinya sepatu itu hehehe dan manis sekali sepatunya kenapa bisa unyu juga tuh galah jambu, di kartu ucapannya ada ayat alkitab yang wah juga didampingi bahasa anak polos lucu banget ih. Oke tidur lagi sampe siang, biasa aja tanpa feeling aneh-aneh. Hujan besar sampe siang. Mbak Dedeh bangunin aku buat sarapan dan bilang kalo Arie mau bikin kue tapi gagal ke rumah pagi karena hujan. Lagi-lagi. Ayun, Yoan dan Arie merasa gagal karena mbak Dedeh pake bilang. Gagal 3. Selesai.

Sore, ke gereja memperingati Kenaikan Tuhan Yesus. Misa berdua sama mamas, enggak kok enggak galau enggak. Berangkat ke gereja, disambut mas-mas Cheesecake bawa kotak yang waktu ditunjukkin isinya Tiramisu kesukaan gua dan bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Laras Gemash!". Gua balik ke pintu rumah, "Bu Ayun ada paketan nih". Entah gempa dari mana, ternyata Ayun lelarian nyamperin kebingungan. Sambil gua kasih ke Ayun, "Makasih loh ya, aku ke gereja dulu hehehe". Ayun mengumpat, Arie dan Yoan dari dalam rumah tertawa keras dan ya segala umpatan bahasa Jawa campur Jakarta jadi satu. Gagal 4. Selesai.

Malam. Pulang misa disambut nasi kuning andalan mbak Dedeh dan Bakmi Golek kesukaan. Mau berdoa dan makan, ditunda. Menunggu Mamat, alibinya. Lagi asik nyobain Cheesecake buatan Arie... Yang Ke-5 datang. Bukan abang tukang kue atau abang bakmi. Bukan juga abang parcel atau abang JNE. Tapi Aris dan Mamat di belakangnya. Lah masa bisa-bisanya gua kaget sampe terloncat dari bangku. Mau nangis nggak bisa, ada kesal yang berubah jadi sangat bahagia. Aris bawa kue Tiramisu tadi yang ternyata dari bapak dan ibu yang lagi di Pontianak. Kayak mimpi, si php datang. Minta diinjek-injek, pengen gua pelukin tapi masih ada keselnya. Bingung banget. Sesekali gua colek-colek perutnya, gua tusuk-tusuk pipinya, gua tarik-tarik rambutnya. Ya, kurang pecaya.

Tiup lilin dulu sambil malu-malu, "Aku nggak php kan?", katanya sambil senyum ngeledek. Ngeselin. Yasudah, berdoa kemudian makan. Masih nggak percaya sama sekali eh ada lagi yang datang. Kue dari Anggit yang tanpa pengirimnya. Tak lama pengirimnya ngechat, basis Jatiwaringin, belum jadi kumpul habis ini harus ya. Selesai makan, cemal-cemil kue, ngobrol lalu kehebohan datang dari belakang bak gempa bumi. Ancol dan Shantoy muncul tanpa dosa padahal ngakunya lagi di Bandung dan sempet melakukan fake update di Path. Pusing sih, pusing banget ini siapa sih event organizer-nya? Bapak? Ibu? Mas? Di Jogja jadi pinter drama kayak wayang ya? Aris? Kamu kelamaan nge-job jadi EO langsung jago kayak gitu? Ayun? Yang lama pacaran sama Mamat jadi jago ngelesnya? Arie? Shanty? Ancol? Di Bekasi ada spesialis 'akal-akalan'? Yoan? Aisha? Muis? Noval? Apa wong Jawa Timur ahli beginian? Gagal-gagal tapi kurang ajar. Yang gagal bikin ngakak tapi yang berhasilnya bikin jantungan. Banget. Lebay, bukan gua yang lebay tapi mereka. Cara mereka ah kocak dah pokoknya. Capek secapeknya menggelengkan kepala, kemudian semua tidur nyenyak karena besok mau jalan-jalan yey!

Terima kasih untuk 5 Mei-nya
Tuhan, terima kasih untuk 23 tahun ini!


Yesaya 54:10 Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.

Selesai.

Friday, March 18, 2016

Maret.

Bulan ini.

Saya diajarkan untuk semakin dewasa.
Saya diajarkan untuk semakin kuat.
Saya diajarkan untuk bisa mengambil keputusan dengan cepat.
Saya diizinkan belajar di ibukota.
Saya berada di rumah saya yang sesungguhnya.

Ibu datang dari tengah, begitupun bapak di kemudian hari.
Malam itu penuh bintang bagi banyak orang, tetapi tetap gelap bagi saya.
Kedua orang tua saya yang tidak seperkasa dulu.
Kedua orang tua saya yang sekarang lebih butuh saya.
Kedua orang tua saya yang selalu saya cintai.

Segala kesulitan yang keluarga saya dapatkan,
segala cobaan yang keluarga saya dapatkan,
kata bapak harus dijalani,
kata ibu harus disyukuri.

Hentakkan tanah mengajarkan bahwa kami saling membutuhkan.
Tamparan angin mengajarkan bahwa kami butuh lebih dekat.
Putaran bumi mengajarkan bahwa waktu bersama harus lebih banyak.
Sudah terlalu lama berpencar, sudah terlalu lama sibuk sendiri.

Indahnya beriringan.
Indahnya saling melengkapi.
Indahnya hangat pelukan keluarga.
Indahnya bisa merasakan cinta.

Tuhan, berkatilah.
Lekas sembuh ya, Pak!
Jaga kesehatan ya, Pak, Bu, Mas!

Thursday, March 3, 2016

Sarjana.

Halo, bloggersss!
Jumpa lagi setelah hampir setahun ya gua engga nongol di sini. Kangen juga sih nulis kayak gini apalagi judulnya "Sarjana". Haha setahun, gua sibuk kuliah dan perintilannya buat berani bilang "Sarjana" tanpa hoax. Wah gimana banget gitu ya. Dari dulu yang SMA cita-citanya the one and only hanya menjadi arsitektur tanpa embel-embel lainnya, sekarang sudah sarjana calon perancang obat, yang ahlinya obat. Bangga, sudah pasti. Gimana engga, gua bisa survive di fakultas yang sangat tidak ada di bayangan gua sedikitpun. Jurusan kesehatan tuh sangat engga ada bayangannya, engga engga dan engga pokoknya. Ya lagi-lagi keseringan makan omongan makanya gendut.

Jadi... Nama gua dah panjang gitu. Gabriela Larasati Swastiandari, S.Farm. dan sekarang lagi ngelanjutin program profesi apoteker masih di Unair Surabaya juga selama setahun, sekarang dah jalan satu semester. Doain aja dikit lagi ya soon to be Apt.

Bukan karena gua bisa survive dan nambahin nama jadi panjang doang bangganya tapi karena gua bisa ngundang Bapak, Ibu dan mas Ndaru ke Surabaya buat liat gua wisuda. Selesai wisuda dapet banyak bingkisan dan gila banget lah dapet cokelat banyak dari Bapak, bingkisan dari Ancol di Jakarta kaget banget kan, dapet pelukan ah gila seneng banget lah bisa pake toga dan foto bareng keluarga. Bangga banget deh parah meskipun nilai gua hanya memuaskan tapi teteplah engga boleh cepat nyerah dan cepat merasa puas. Sekarang gua lagi praktek kerja profesi di industri yang sesuai sama kemauan gua, doain aja semoga lancar dan must be there again to be its part, enak.

Bahas Sarjana dulu deh.
Bagi gua, Sarjana itu belum ada apa-apanya, ini masih awal banget dari perburuan hidup. Bangganya masih belum sebanding sama bangganya gua ke orang tua gua yang udah sangat berjasa dan manis sekali dalam merawat anak-anaknya. Ah terharu... yaw! Terima kasih Bapak Ibu. Ya intinya gua bahagia bangetlah jadi anak mereka dan adek dari mas. Tuhan memberkati. 
And they must know that their little girl is stronger than they think. Merantau jauh bukan mau gua, jauh dari rumah dan jauh dari perhatian orang tua, tidur di kamar sendirian, tahun pertama belum cocok sama makanan di sana yang kebanyakan petis. Seada-adanya lah itu kangen rumah. Kuliah pamit sama bapak ibu lewat chat, engga ada suara anjing-anjing gua, engga ada mas Ndaru yang heboh main laptop.

Dan akhirnya, sampai juga di semester 7. Sidang pengajuan skripsi, pertama kali yang namanya kelabakan sendiri di kamar kost, belajar kemana-mana pake pengorbanan. 10 Februari 2015 lulus sidang proposal. Sampai lagi di semester 8 dengan tantangan yang lebih berat, sidang skripsi bersamaan dengan kerja di laboratorium setiap hari. Puji Tuhan, 12 Agustus 2015 lulus sidang skripsi dilanjut pengesahan menjadi seorang sarjana Farmasi, yudisium tanggal 19 Agustus 2015. Yap, menjadi sarjana engga afdol kalo engga wisuda, benar-benar resmi menjadi sarjana pada 20 September 2015. Mas dateng setelah kuliahnya dua hari sebelum wisuda dari Jogja, dan Ibu dari Jakarta. Besoknya Bapak dateng setelah urusan kerjaan dari Jogja. Bener-bener bikin terharu, disempet-sempetin meskipn mereka semua sibuk. Terima kasih, Ibu Bapak Mas.

Terus, pendamping di Surabaya, Aris. Sabar banget ngadepin gua yang sensitif apalagi kalo hasil penelitian gua jelek engga sesuai keinginan. Kasian... dikeluhin nerima aja. Terima kasih ya, manis. Juga teman-teman tersayangku, yang selalu bisa bikin ketawa di tengah kerisauan kita, kalian gendeng, da best! Ayun, Aisha, Arie, Muis, Yoan, Kelompok 6 yang sudah 4 tahun ngerasain sekelompok sama gua buat bikin laporan sama nyuciin beaker glass and take care of our Pyrex gendeng mahal, temen-temen seperjuangan kelas D, huhu sekarang kangen.

Dan sekarang gua harus ngerjain tugas, lanjut lagi besok-besok ya! Sampai jumpa. 

*bonus foto
Hadiah selepas sidang, suwun, rek!
Keluarga cemara <3 td="">
Pangeran batikku
Hadiah wisuda, rek suwun sing katah rek!
Wong edyan sing garai kerasan
Diampud tenan, rek!

Wednesday, May 6, 2015

22

Dua puluh dua. Umur baru yang sudah bisa dibilang dewasa, mungkin. Tapi entah buatku mungkin belum cukup jika hanya umur saja yang menjadi parameternya. Perilakuku juga perlu didewasakan, masih dalam proses. Ibu, Bapak terima kasih ya meskipun jauh aku tau kalian merawatku dan membesarkan aku lewat semua transferan-transferan bulanan hehe dan lewat doa kalian setiap pagi dan malam juga di setiap besitan ingatan kalian. Terima kasih.

Aku lupa. Kalau hari itu tanggal 5 dan tidak seperti biasanya, hari itu aku enggan membuka handphoneku karena Selasa adalah hari yang sangat padat. Dari semalam Ayun menginap untuk kuliah pagi Farmakoterapi. Bangun tidur, berangkat jalan kaki bersama Nanda juga dan semua berjalan seperti biasa dan rasanya biasa saja. Selesai Farmakoterapi dilanjut kuliah Komunikasi-Informasi-Edukasi. Arie dan Aisha menyodorkan tangannya dan mengucapkan selamat uang tahun disusul Yoan. Bingung, lihat tanggal di iPhone Aisha dan ya tanggal 5 hahaha bodoh. Kuliah mengantuk... Kemudian lanjut menengok laboratorium mencit untuk urusan skripsi lalu jam tiga sore langsung diskusi Problem Based Learning. Aris yang jadwal Selasa adalah Praktikum Fitokimia (dengan laboratorium yang selalu aku lewati untuk menuju laboratorium mencit), tidak aku lihat batang hidungnya. Mau pulang bareng... Tapi dihubungi saja tidak bisa.

Pulang terburu-buru saja karena Romo telfon dan kebelet pipis, katanya bertemu saja di Jogja, di Surabaya kapan-kapan lagi Romo berkunjung. Rasanya gerah sekali hari itu dan semua perilaku teman-teman terasa janggal. Nanda dan Ayun yang selalu bermain mata saat kuliah Farmakoterapi, Ayun yang selalu mengulur-ulur waktu perjalanan pulang dan entah mengapa cara bicaranya saat menjawab telfon sangat keras sekali. Tapi curigaku sama sekali tidak muncul karena Ayun memang ya uniklah...

Sampai kosan, naik tangga dan entah terasa aneh. Terasa ramai tapi tidak ada suara. Masuk kamar, hendak membuka kunci tetapi kamar tidak terkunci. Kubuka kamar lalu... banyak balon di lantai entah berapa jumlahnya, di dinding ada hiasan dan di kasur ada Leo juga sebuah scrapbook. Kubuka halaman pertama, ada foto teman kuliahku Imania. Kubuka lanjut-lanjutnya ada foto sahabat-sahabatku sejak SMP; Ruth, Puput, Adit, Nia, Vera. Makin menganga mulutku, ada foto Anggita juga teman lainnya. Nggak paham lagi ini kerjaan siapa. Di halaman terakhir aku buka, ada foto yang sangat tidak terkontrol wajahnya. Dengan kata-katanya yang sederhana dan... panggilan khasnya untukku ‘R. A. Kartini’. Dari Aris. Pipiku basah keringat dan air mata. Kutengok luar kamar sepi, kuturun kamar cuma ada Vinny dan Mia, adik kos aku. Mereka bilang itu ulah mereka, kupeluk mereka dan aku kembali ke kamar tiba-tiba jadi beser. Engep, kubasuh wajahku dengan air, Vinny menggedor kamarku. Selesai cuci muka, kubuka pintu kamar dan entah aku senang kaget atau apa. Ada Vinny, Mia juga di belakang mereka ada Aisha, Imania, Ayun, Nanda, Mona, Enny, Ratih, Felita juga Indah sahabat Aris dan ada Aris juga bawa kue, ada Muis juga Arie disusul Wilman juga Mamat yang ada di teras kosan. Terima kasih sekali perhatian kalian.

Kubuka handphoneku ternyata banyak sekali ucapan dan Ibu kelimpungan mencariku karena aku belum membalas chat dan teleponnya. Maaf ya, Bu. Editan foto dari Ibu membuatku terharu, Ibu yang baru bisa edit-edit foto sekarang makin canggih saja, aku jadi rindu Ibu, Bapak dan Mas.

Lanjut dari itu, di halaman terakhir scrapbook ada ‘clues’. Dalam ruangan, Kotak besar, Terlipat. Setelah berjam-jam kucari ternyata ada kemeja biru donker yang sangat manis sekali terlipat di dalam lemari baju di kamarku. Terharu lagi. Kebiasaan. Astaga benar-benar penuh kejutan. Katanya mereka semua mempersiapkan ini dari jauh-jauh hari. Ini adalah alasan mengapa Ayun pulang duluan waktu menginap di apartment Cece, alasan mengapa weekend-nya susah kuajak pergi karena penuh janji yang tidak Ia sebutkan, mengapa Aris belakangan ini menjadi begitu menyebalkan dengan alasannya yang selalu diskusi Semi Solida dan aku ya nggak bisa marah kan, mengapa Aris membiarkan aku makan sendiri kemudian update di Path lagi makan rawon kan kurang ajar, mengapa Aris membiarkan aku nonton di bioskop sendiri ternyata lagi nyiapin scrapbook ,mengapa Aris nggak bisa nemenin aku ke gereja ternyata pergi sama Ayun dan Mamat buat cari kado, mengapa Aris susah dihubungi ternyata karena handphonenya mati lagi nggak di kontrakan, mengapa Aris nggak di kontrakan dan nggak bilang kalo lagi pergi, mengapa Aris nggak ada di laboratorium ternyata dia cabut praktikum buat otak-atik kamar kosan aku yang perlu izin semua mbak-mbak kosan, gila. Nggak waras kamu, Ris.

TAPI TERIMA KASIH. Untuk teman-teman juga kamu.

Aku senang sekali. Bukan karena semua kado-kado dari kamu dan teman-teman, tapi karena semua usaha kamu yang katanya pertama kali ngasih suprise untuk cewek dan melibatkan semua temen-temen aku. You made my day, for sure.


Friday, May 16, 2014

Cita-cita

Kamu pernah punya cita-cita? Setiap orang pasti punya cita-cita. Kalian tau aku kuliah di Farmasi? Kalian pasti tau itu bukan cita-citaku.

Sudah pernah aku katakan berulang kali, sudah aku nyatakan berkali-kali. Aku ingin menjadi Arsitek. Perempuan, anak teknik, penuh imajinasi dan dapat menuangkannya lewat garis yang berenang di atas kertas. 

Kamu tau tadi ibuku bilang apa?
"Selamat Pagi, dokter Laras. Ibu tenang dapet info dari adek jadi nggak was-was. Nanti adek jadi dokter ya, maksudnya kalo udah lulus ya kuliah lagi supaya jadi dokter kalo enggak ya jadi bu dokter deh"

Iya. Itu ibu aku. Bapak ibuku selalu menginginkan aku menjadi dokter. Paling tidak aku mendapatkan calon suami dan menikah dengan seorang dokter, katanya biar ada keluarga dokter.

Kuliah Farmasi. Susah, aku yakin kalian semua tau. Tapi hhh, mempelajari ilmu yang tidak aku gemari, setiap hari ke kampus yang tidak aku inginkan dan bangun pagi untuk hal yang tidak aku cita-citakan? Bukannya aku kurang berterima kasih, bukan pula aku tidak bersyukur ya Tuhan aku sungguh melakukannya di setiap doa aku selalu bersyukur punya orang tua yang bisa menguliahkan aku di fakultas dan universitas negeri ternama. Aku sangat ingin mewujudkan apa yang mereka inginkan tetapi mengapa dokter? Suatu saat aku akan ahli dengan semua obat, aku bisa membaca resep, aku akan tau nama-nama obat... Aku hanya tidak bisa mendiagnosa dan mengoperasi. Terus bagaimana? Aku sayang sekali pada mereka tapi bagaimana aku harus membalasnya, menjadi dokter saja tidak ada sama sekali terlintas di pikiranku...

Bapak, Ibu... Mengertilah, semua kebaikan yang aku terima, kebaikan yang kalian ajarkan, akan aku terapkan. Aku tidak ingin mengecewakan kalian tapi banyak maaf kalau aku tidak cukup baik. 

Tuesday, May 13, 2014

Iburku


Kamu tau artinya teman?
Kamu tau apa artinya sahabat?
Kamu tau bagaimana malaikat menjelma?
Kamu tau bagaimana Tuhan mengirimkan bidadarinya ke Bumi?
Kamu tau bagaimana rasanya disayangi?
Kamu tau bagaimana rasanya semua hal baik ada di sekelilingmu?

Buatku, semua rasa itu ada saat Ibu mulai mengandungku dan sampai sekarang tetap sabar memantauku dengan segala perkataannya. Semua hal indah yang aku pandang, sudah menjadi satu dalam sosoknya. Aku sayang Ibu :-)

Thursday, May 1, 2014

Mei

Halo kembali, bulan kesayanganku. Bulan di mana harapan-harapan baik dan menyenangkan selalu terucapkan. Berharap semoga selalu lebih baik dari bulan sebelumnya. Berdoa agar Laras menjadi Laras yang lebih kuat dan cepat bergerak. Bergerak, melepaskan diri dari kemumetannya dan mulai menulis buku baru lagi. Semoga kalian yang membaca, meng-Amin-i harapan baik ini. Amin. Mei, yang manis seperti biasanya ya. Tuhan memberkati!

Friday, March 14, 2014

Jika Tuhan, jika...

Tuhan,
Jika Tuhan punya blog, apa Tuhan akan membuka blogku?

Tuhan,
Jika Tuhan punya blog, apa Tuhan akan membaca postinganku?

Tuhan,
Jika Tuhan punya blog, apa Tuhan akan tetap menjadi pendengar doaku?

Tuhan,
Jika Tuhan punya blog, apa Tuhan akan mengomentari segala keluhku?


Tuhan...
Engkau tahu semua tentangku, semua ceritaku
Engkau tahu apa yang sudah dan akan kulakukan
Tanpa harus aku rincikan, Kau paham

Tuhan, jika masih berkenan aku mendoakan hal yang sama, dengarkanlah. Berikan aku jalan-Mu. Rencana-Mu sungguh besar untukku, aku yakin, sangat yakin. Aku tahu segala yang Kau pilih untukku itu baik untukku, sungguh baik.

Tuhan, jika memang bukan dia, biarkan aku tetap memiliki rasa ini. Meskipun terlalu banyak indahnya, aku akan selalu mensyukuri itu. Akan selalu. Segala perumpamaan manis dari-Mu.

Tuhan, jika memang dia, aku akan terus berdoa. Berlutut di depan salib suci-Mu dalam tahta kerajaan-Mu di Surga. Jika dia juga menginginkanku, kupastikan dia bersyukur menyembah-Mu di atas kain sajadah dan memuja kesucian-Mu, Tuhan.

Tuhan tahu apa yang aku rasakan, yang aku takutkan. Ketika semua ketakutanku datang, Tuhan tetap menopang. Aku tahu Tuhan tidak hilang, Tuhan selalu menjadi penerang.

Tuhan, jika Tuhan itu satu apakah Tuhan adalah Tuhan dia juga? Apa yang membuat banyak teori menjelaskan bahwa Tuhanku dan Tuhannya berbeda? Jika kita yang tidak sama, lantas apa yang membedakan?

Jangan lupa sholat Jumat ya.

God, If I may to love someone to feel this life ever after, I’ve said his name in my pray and You always hear. And if it’s not said, You always know.

Sunday, September 15, 2013

Mars No. 406







Ini. Iya. Ini keadaan rumah mungilku yang sudah agak kosong. Barangnya sudah dicicil. Pindah. Pindah? Ke mana? Duren Sawit. Baru kerasa nyeseknya pas tau Oktober nanti gua dan keluarga udah nggak boleh nempatin surga indah itu. Dari kemaren gua cuek aja keluyuran, main terus. Pulang, tidur, dengan ruang tidur yang nyaman, ruang keluarga kecil yang selalu menjadi tempat bincang-bincang bersama, ruang makan berkursi empat untukku, mas, ibu dan bapak. Perumahan TNI-AU. Membanggakan. Rumah mungil yang asri dan adem. Dekat bandara, penuh dengan suara pesawat, dekat dengan banyak jajanan kayak martabak, pecel ayam dan tukang pulsa. Dekat dengan SMA 42 tersayang, dekat dengan rumah jagoan kesayangan, PLK II. Kalo ngapel tinggal sms, 5 menit sampe.

Halaman mungil. Tempat disemayamkannya anjing-anjing kesayangan (Bugi, Maxi, Maco, Potato, Prettycli, Billy, Bollo, Panther) juga kucing-kucing kesayangan (Abu, Bule, Sky, Roger, Abu2) dan siapapun yang belum disebut. Kalian... Ah sedih. 

Kamarku. Banyak bintang menyala. Terdengar suara tokek. Tempat ngakak bareng. Dapurku. Tempat aku belajar bikin brownies, pertama kali masakin Maul spageti, tempat Puput bikin nasi goreng. Ruang tamuku. Basecamp waktu SD-SMP, tempat ngapel pacar, belajar bareng Maul pas UN, tempat galau juga, surprise ulang tahunku Ke-17, Ke-18, punya pacar. Kamar mandiku. Tempat mandiin kucing, kamar mandi paling asik buat jadi lapangan bola, lebay. Halaman belakangku. Tempat ngajarin anjing-anjingku tangkep bola, naik kursi, santai sore.

Halim. Angkasa. Mars. Bakalan kangen banget. Rumah cinta, penuh kenangan dan perjuangan. Banyak cerita, penuh kenyamanan. Banyak usaha, penuh sukacita. Haaaaaaaa sedih. Semoga pemilik barumu, menjaga keindahan dan kenyamananmu ya, Mars No. 406. 

Monday, July 29, 2013

BROMO bag. 2

Jalanan muter-muter, naik-naik, tanpa arah, tanpa jalan setapak, pasir-pasir. Modal nekat lagi, lampu motor dan ngikutin hardtop. Modal kompas di ransel juga gua nggak ngerti mau ke mana. Bener-bener gila! Di tikungan, tanjakan, para matic mulai rewel, bau-bau kopling hardtop mulai menyengat juga disambil hardtop-hardtop yang pada ngebut ngelewatin kita. Serem banget parah. Ayun? Kumat ringkihnya. Muntah, hypotermia, omongannya nggak jelas, nggak bisa gerak, badannya sakit semua, katanya. Gua sama anak-anak bingung, cuma bisa melukin sambil men-support. Minum air putih dan akhirnya membaik. Puji Tuhan.

Akhirnya beberapa saat jam gitu hahaha kita sampe atas dan parkir. Nanjak lagi dan di sana udah kayak pasar rame banget. Jam 4an langit mulai oranye. Cantik. Matahari mulai terbit dan paduan warnanya membuat gua jatuh cinta pertama kalinya sama alam. Dan kalian tau? Birunya... Bener-bener gua bersyukur bisa melihat pemandangan pagi hari yang biasanya gua selalu bangun siang di kost. Tuhan... Betapa kecilnya hamba-Mu ini. Bener-bener gua terkesima, mulai terang dan bener-bener negeri di atas awan. Ah parah. Foto-foto nggak boleh kelewatan. Sampe puas.

Warnanya melegakan sukma.
Birunya meredakan lelah.
Negeri di atas awan.
Muis, Gua, Faris, Arina, Rohman, Ayun, Monci, Nia, Arie, Faya
FULL TEAM!!!

Turun ke pasir berbisik dan naik lagi ke kawah. Perjalanan naik licin-licin pasir, banyak ranjau yang masih hangat berasap. Kalo kata Arie yang masih kuning itu barusan diproduksi kalo udah agak abu-abu itu udah 2 jam lebih diproduksi. Anjir. Skip. Tangga ke kawahnya sih keliatan pendek tapi pas naik nggak nyampe-nyampe. Tenggorokan kering. Sampe puncak wah rasanya seru banget tapi silaunya nggak nguati. Berhubung Monci dan Rohman ada latihan futsal jadi jam 8/9 pagi kita udah turun. Ayun nggak mau jalan dan merelakan uangnya Rp. 20.000,- untuk naik kuda bersama abang-abangnya, cie bajunya couple, btw. Cabut, sarapan terus pulang.

Batu atau ranjau 2 jam?
Pendaki amatir
Pre-wedding dulu
Kuda pemberani
Perjalanan pulang capek, ngantuk, dekil. Janjian mampir di mushola. Rohman sama Arina langsung ke Surabaya, sisanya tidur di mushola, Monci ngopi. Jam 11 siang, lanjut ke Surabaya dan sampai kost jam 3 sore. Oke pantat mati rasa dan muka belang. Terima kasih, teman-teman! Ini seru. Masih banyak cerita yang harus kita buat!

Sekian.
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings