Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.

Sunday, July 25, 2021

Kepada Kamu si Masa Lalu

Tau kabar kamu, aku senang. Akhirnya kamu berkomitmen dengan orang yang sudah lama kamu pilih bahkan sewaktu kita masih 'kenal dengan baik satu sama lain'. Tapi setelah tau ada permintaan kamu lewat teman baikku, aku langsung tidak tau bagaimana harus bersikap.

Yang kupikir kamu sudah dewasa, ternyata masih kekanak-kanakan. Kupikir waktu sudah mendewasakan kamu tapi memang menjadi dewasa itu pilihan, bukan masalah bertambahnya usia.

Kita sudah bahagia dengan pilihan kita masing-masing. Aku pikir seperti itu. Tapi nyatanya tidak ya? Mungkin memang hanya aku saja yang sudah terlalu bahagia dengan hidupku tanpa memikirkan hidupmu.

Baik. Sebelum kesabaranku semakin menipis, aku mau kasih tau kamu beberapa hal secara baik-baik:

Pertama, kamu tidak memiliki hak untuk meminta aku menghapus apa yang udah aku tulis di blog pribadiku. 

Kedua, beruntungnya kamu, aku sudah menghapus itu sebelum kamu/siapapun meminta.

Ketiga, kalaupun memang masih ada itu juga tidak berarti apa-apa lagi karena itu sudah lewat lama sekali, kita sudah memilih jalan masing-masing, sudah tutup buku.

Keempat, masalah kamu masih malu karena teman-teman kantor membahasnya (atau mohon maaf kalau wanitamu juga seperti itu) ya itu urusan kamu bagaimana menjelaskannya, bukan urusanku atau bahkan temanku yang kamu sampaikan hal ini. Hei, apa yang mengganggu kalian sampai saat ini masih penasaran dengan tulisan-tulisan lamaku dan mempermasalahkannya?

Kelima, kenapa aku menyampaikan ini melalui blog ini? Bukan karena aku berniat tidak sopan tapi karena kamu belum bisa diajak berbicara secara dewasa. Aku juga tau masih ada yang membaca blogku ini, benar saja bukan?

Dewasalah, kawan. Terima kasih.

Thursday, May 31, 2018

Tulisan Malam

"Pasangan yang mengalami pertengkaran hebat dan tetap kuat menjalaninya, itu pertanda mereka memang sedang jatuh cinta."

Begitu katanya.
Apa memang benar selalu seperti itu?

Ya, mungkin.

Ada pembahasan yang membuat otakku lebih berpikir,
ada penjelasan yang benar-benar harus kudengarkan,
ada hal yang menjadi bagian hidupku meski tidak kusukai,
ada pelajaran yang bekerja untuk mendewasakan,

dan ba...bi...bu... lain sebagainya yang harus dipertimbangkan.

Pertengkaran tidak melulu soal rasa benci.
Iya, tidak selalu mengenai ketidaksukaan.

Terkadang, Ia menguatkanmu,
juga memantapkanmu.

Tuesday, May 15, 2018

25

Yogyakarta, 5 Mei 2018.
Di Hari Sabtu, teman-teman di kampusku yang baru memberikan kejutan, membuatku terharu. Iya, kami tetap kuliah di Hari Sabtu, kurang semangat apa? Turut serta merayakan ibu dosen, yang sekarang merupakan ex Dirjen Farmalkes. Kembali ke rumah dan disambut kakak, seperti biasa Ibu dan Bapak mengucapkan via pesan di telepon selular. Tingkat mobilitasnya terlalu tinggi, bisa saja dua tahun lalu di Pontianak, tahun ini di Jakarta dan saya di Jogja saja. Bersyukur, oh selalu!

Hari-hari berjalan dengan cepat, ulang tahun sudah lewat beberapa hari namun pekerja kurir tetap mengerjakan tugasnya, salah satunya mengantarkan kado dari kota satu ke kota lainnya. Bungkusan lucu ini sudah membuatku curiga. Pasti dari seseorang yang benar-benar mengenalku. Ternyata benar, dari 'sayangku'. Bingkisan yang cantik, tersirat pesan untuk mengelola uang dengan benar, ya sama-sama menabung (sindiran).

Doa kesukaan yang selalu diucapkan setiap tahunnya:
"Yang baik-baik ditambah, yang negatif dikurangi"
Akan selalu menjadi pengingat yang manis bahwa yang berlebihan memang tidak baik maka sebaik-baiknya itu adalah cukup, katanya dulu. Terima kasih, Kapten. Sampai jumpa!


Wednesday, April 18, 2018

Selamat Ulang Tahun, Bos!

Harus disyukuri, ya tidak hanya sewaktu ulang tahun saja sih karena setiap hari harus bersyukur. Tapi, kita boleh mengulang tanggal kelahiran di tahun berikutnya itu merupakan anugerah, masih dapat menghirup udara, berkesempatan memperbaiki diri dan menikmati kebahagiaan. Terkirim doa dari orang-orang tersayang tanpa harus merayakan secara besar-besaran.


12 April 2018.
Iya. Sama seperti tiga tahun belakangan. Ulang tahun sendiri di rantauan. Dua tahun lalu kamu di Surabaya, tahun lalu di Bogor dan tahun ini di Subang. Aku masih di kota yang sama, berharap tetap bisa di sampingmu, Yogyakarta. Meski terasa sepi namun kamu pasti merasakan yang Tuhan berikan. Selamat ulang tahun ke-24, selamat memulai karirmu di usia barumu, selamat bekerja, perhatikan kesehatan, berbahagialah selalu. Jaga dirimu, Pak Bos :)


Friday, April 6, 2018

Selamat, Pak (Calon) PhM Subang!

Halo, lama tidak bercerita! Jadi ingin membagi cerita sedikit yang agak banyak juga sebenarnya. Jadi....

Akhir Oktober 2017, kami ya aku dan Aris dari Jakarta berangkat ke Jogja bersama untuk santai sejenak. Karena apa? Karena semenjak lulus apoteker, pria satu ini diselimuti rasa khawatir yang mendalam. Penyebabnya apa? Penyebabnya adalah semua teman karibnya telah merantau jauh untuk memulai karirnya. Sebagai mahasiswi baru (lagi), saya pun kelimpungan. Pernah kerja juga belum jadi nggak bisa ngasih cuitan Golden Ways. Tapi semua kerisauan itu berubah menjadi semangat ketika benar-benar baru sampai Jogja, Aris ditelepon HRD untuk Medical Check-up kah atau Interview lagi di esok hari. Kemudian tidak ada toleransi dan campur dag dig dug ada apa langsung beli tiket pesawat ke Jakarta dong padahal baru aja duduk di kereta 8 jam.

Dimulai dari awal November 2017, Puji Tuhan Aris masuk kandang untuk Management Trainee Program selama kurang lebih 5 bulan. Masih bisa ketemu sih kalo pulang sebulan atau dua bulan sekali. Kebetulan libur Natal dan Tahun Baru agak panjang jadi bisa ketemu, meskipun sering kena cuek bebek ditinggal ngerjain tugas dan sebagainya. Sesusah itu ya, untung kamu enjoyed this jadi aku tuh cukup lega kamu nggak setertekan kala itu. HAHA.

Kemudian, berapa kali diundur... bikin nggak tenang. Pertengahan Maret, akhir Maret tidak ada juga pengumuman. Iya pengumuman lulus MT atau enggak. Penjurusan industri, distributor atau apotek. Udah paling merinding kalau sampai ditempatin di apotek, wah kalian harus tau apotek yang satu ini itu tersebar di mana-mana, 1000 apotek lebih sebagai goals-nya. Kalau sampai ditempatin di ujung Indonesia aku sih lebih bingung daripada dia. Dia anaknya happy-happy aja dan 'nerimo'an gitu loh. Ya... aku sama Aris masih bertahan di kota yang berbeda menantikan pengumuman.

Sampai pada awal April 2018, katanya sih hari pengumuman. Masih pagi menjelang siang, ada telepon darinya dan bilang dia dapat penempatan di apotek. Baiklah saya berpikir keras dan tidak ingin bertanya lebih jauh sampai pada akhirnya dia bilang "di Subang, Ras". Oke........................................ Ah Subang atau Sabang, panik kan. "Seneng sih masih di Jawa tapi ya gitu", katanya. Antara ingin berkata "Puji Tuhan, Subang" sampai "Ah gila, gimana cara kalau mau nengokin, kasian, di Subang ada apa ya?", sejauh itu pikiran saya. Dari semua itu, akhirnya hari itu datang juga, puji syukur selalu dihaturkan.

Meski masih apotek kecil, aku yakin Tuhan mempunyai rencana besar. Tidak mudah seorang atasan memberikan kepercayaan untuk seorang anak baru dan tidak mudah seorang anak baru mengemban tugas yang langsung berat dari atasan. Menjadi Pharmacy Manager (PhM) tidak mudah, aku saja belum tentu mampu. Melakukan sesuatu memang baiknya dimulai dari akar, dari bawah untuk melahirkan buah yang layak, sampai puncak. Tuhan katakan kau mampu. Aku, keluargamu, teman-teman, mereka percaya bahwa kamu mampu.

Maka dari itu, selamat bertugas, semangat, Pak! <3

Tuesday, January 16, 2018

2018

Tahun 2017 terlewati dengan banyak cerita. Pendewasaan di setiap detik menit jam dan harinya. Seperti biasanya, banyak harapan di tahun yang baru ini, terlampau banyaknya sehingga lupa mengucap syukur karena sudah diperbolehkan menikmati tahun 2017 yang telah selesai beberapa pekan lalu.

Mari kita renungkan...

Maafkanlah segala tutur kata yang terucap di blog pribadi saya ini, semata-mata ungkapan hati yang hanya dapat tercurah melalui tulisan. Kiranya saudara/i pembaca memaklumi dan kritik/saran saya terima. Terima kasih, kalian dan kenangan 2017.

Selamat datang, 2018!
Terima kasih sudah bersedia hadir dan berjalan dengan baik sejauh ini. Semoga segala rencana di tahun ini berjalan lancar dan sesuai dengan waktu-Nya. Amin.

Tuesday, December 26, 2017

Malam cerah

"Saat rasa tidak percaya diri membuatku gelisah, kau menemukanku. Rasanya buruk ketika dirimu cemburu terhadap waktu. Tetapi kau berlari dan bersembunyi di dalam pelukanku. Pada malam natal yang sangat cerah, secerah hatiku melihat kau pulang."

Sunday, November 19, 2017

Jogja hari ini

Setiap hari, hujan terus terjun, pecah di permukaan tanah.
Ah, udara pagi mendinginkan pipiku.
Lalu perlahan siang menyusup,
tidak sedikitpun terik.
Langit sore berwarna nila dan jingga telah singgah,
membuat ingin terus melamunkannya dan menunda esok datang,
dahiku mengernyit, astaga masih satu minggu lagi.
Mulai kelabu dan malam bertahta.

Hujan rindu.

Tuesday, October 3, 2017

Apotekerku


Sungguh, kupikir Ia berjalan ternyata Ia berlari. Cepat sekali, wahai waktu.
Jika raga ini tidak dapat hadir menyapa bahagiamu, maafkanlah.
Tetapi,
doa dan harapan baik untuk segala upayamu tidak pernah lupa aku kirimkan,
biar kuasa-Nya lah yang mengabulkan.
Selamat, Apoteker! <3

Wednesday, July 19, 2017

Sekolah lagi? Mengapa tidak?


Pertamanya bingung, mau login saja gemeteran. Kemudian... Terima kasih, Tuhan! Tiket masuk Program Magister sudah di tangan. Tiada henti saya ucapkan syukur kepada-Mu atas restu yang diberikan untuk dapat sekolah lagi.

Gampang.
Banyak orang bilang "Ah S2 di sana gampang, temenku modal duit juga bisa", "Gampang S2 di sana syaratnya formalitas" dan lain sebagainya. Mungkin ada benarnya, saya tidak tau. Mungkin bagi kebanyakan orang memang gampang, tetapi belum tentu bagi saya. Kemampuan seseorang dalam menerima suatu permasalahan itu tidak sama. Saya mengikuti prosedur umum seperti calon mahasiswa lainnya. Sebenarnya gampang itu ketika saya bisa saja minta tolong seseorang untuk langsung menerima saya tanpa syarat, hahahahaha saya tidak seputus asa itu. Ketika saya sudah berniat, pasti saya perjuangkan.

Gampang.
Kalau memang masuknya gampang, apa iya lulusnya gampang? Kalau kita tidak menikmatinya, apa iya gampang? Satu-satunya statement 'gampang' yang bisa saya terima dari senior saya adalah "Kalo seneng ngejalaninnya, asik-asik aja, gampang kok". Sebulan lebih menunggu pengumuman yang diundur dua kali, astaga... menikmati haripun tidak segampang itu. Tidak bisa tidur sampai ajakan sahur, saat tertidur malah memimpikan gunung meletus. Pernah mendengar kalimat bijak 'Semua telah diketahui kecuali cara untuk bertahan hidup'? 

Saya bukan orang yang biasa mendapatkan sesuatu secara gampang. Kalau kalian (ingin) tau, perjalanan saya selama 24 tahun ini ya gitu. Benar, orang lain hanya mengomentari hasil tanpa peduli prosesnya. Memang, tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hidup saya karena 'tugas' mereka hanyalah menilai dari apa yang dilihat.

Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) usaha saya bolak-balik Jakarta dan Jogjakarta yang cukup menguras tenaga dan uang. Mereka hanya tau saya kesana-kemari hanya untuk bervakansi. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) berapa kali saya gagal dan menghabiskan lumayan biaya hanya demi mengulang tes persyaratan masuk S2. Mereka hanya tau kalau kerjaan saya guling-guling di atas kasur setiap hari, ya mungkin memang juga hehehe. Orang lain tidak tau (mungkin tidak ingin tau juga) apa alasan saya berlama-lama di Jogjakarta. Mereka hanya tau saya sebagai pengangguran yang tidak berusaha apa-apa. Mereka tidak tau berapa buku yang saya pakai untuk latihan, waktu berapa kali berapa puluh menit yang saya habiskan untuk mengerjakan berbagai jenis soal, bagaimana perasaan orang tua dan mas saya yang dikorbankan demi melampiaskan amarah saya. Orang lain hanya tau kalau hidup saya selama ini enak-enak saja. 

Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya mandiri. Mereka tidak tau kami pernah ditolak di sekolah swasta karena tidak dapat membayar uang pangkal. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membeli tiket perjalanan berkali-kali. Mereka tidak tau kami berkali-kali jalan kaki entah karena angkot mogok beroperasi atau karena dirasa tidak begitu perlu menggunakan kendaraan. Orang lain hanya tau keluarga saya 'mampu' untuk membantu yang kesusahan. Mereka tidak tau bahwa kami bukan yang berkelimpahan harta sampai bingung menghabiskannya tetapi kami tau rasanya ditolong dan tidak ditolong. 

Beasiswa? Saya merasa tidak cukup pantas untuk mendapatkannya. Bukan saya sombong, saya ingin tapi saya tau batas kemampuan saya. Saya juga sebenarnya tidak bodoh, pas-pasan. Akademik saya pas-pasan kok, percaya diri saya juga pas-pasan. Waktu SD dan SMP hanya berantusias ketika jam pelajaran bahasa, kesenian atau olahraga. Saya benci matematika. Waktu SMA saya mulai suka mata pelajaran Kimia dan masuk jurusan IPA meskipun saya juga tidak katam sekali. Sampai akhirnya saya 'kecemplung' dan harus berenang di pendidikan apoteker dari nilai jeblok sampai tertarik melanjutkannya.

Kembali ke fokus awal. Sekolah lagi? Mengapa tidak?

Sebenarnya alasan saya memutuskan untuk sekolah lagi (di sana) bukan itu, bukan karena yang katanya gampang. Alasan saya yang pertama adalah karena bapak ibu. Kota ini menyatukan kami, bapak dan mas melanjutkan sekolah di sini. Diputuskan mengontrak rumah di sini, masa iya ngekost sendiri-sendiri? Mau tidak mau, ibu sibuk bolak-balik. Orang lain tidak tau betapa pusingnya mengontrol dua rumah. Mereka tidak tau betapa kerasnya usaha orang tua saya yang tetap bekerja sembari menyelesaikan studi setelah masa pensiunnya, begadang terkantuk-kantuk lewat tengah malam untuk saling menemani. Dengan usia mereka yang semakin bertambah, kesehatan yang kadang terganggu karena kelelahan, saya sangat ingin membantu keluarga ini yang Puji Tuhan selalu dicukupkan. Tetapi? Bapak ibu masih ingin kami (saya dan mas) untuk sekolah lagi sebelum berkarir. Ini saatnya bapak ibu menikmati hasil jerih payah mereka. Bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang yang tinggi, kalau bisa lebih tinggi lagi. Kata bapak, pendidikan kami itu penting agar bisa survive di dunia yang terus berkembang. Bapak ibu ingin anak-anaknya berhasil, 'naik kelas'. Selagi mampu mendanai, sekolah lagi, mengapa tidak? 

Setelah mendaftar, awalnya saya takut. Saya kurang yakin dengan kemampuan saya sendiri. Tetapi teman saya sewaktu kuliah bilang "Ngapain takut, Ras? Kan udah usaha tinggal berdoa aja. Keputusanmu buat lanjut kuliah itu udah nunjukkin kalo kamu berani". Menurut saya itu keren sekali, membuat semangat saya meluap untuk selalu berpikiran positif, saya bisa.

Alasan saya berikutnya, yang baru-baru ini terlintas adalah karena saya perempuan. Saya ingin pendidikan saya tinggi dan tidak dipandang sebelah mata. Saya ingin memiliki bekal bakal pekerjaan saya nanti dan bermanfaat meskipun hanya sebesar biji sesawi. Saya ingin membawa pengaruh yang baik bagi banyak orang. Saya ingin membanggakan orang-orang yang telah memberikan restu dan dukungan pada saya. Memang pengalaman saya sangatlah kalah dibanding teman-teman yang sudah memiliki penghasilan, saya bangga pada mereka tentu saja. Jujur, saya juga ingin seperti mereka. Tetapi saya harus bisa melakukan hal lain. Ibu bilang bahwa berbeda tidak selalu buruk, seperti anak panah, tidak apa sedikit lebih mundur agar dapat melaju lebih cepat. Ada benarnya, kalau saya memutuskan untuk bekerja dahulu, bisa saja saya terlalu asik berpenghasilan dan tidak mau lanjut sekolah padahal banyak orang yang ingin memiliki peluang seperti saya, mengapa saya harus tidak mau? Pada era global ini, persaingan (sehat) perlu kan? Kalau orang bisa bekerja saat ini, mengapa saya tidak bisa sekolah pada kesempatan ini? Toh, pada akhirnya kami bermutualisme, bertukar ilmu itu baik, bukan? Masalah karir kami pasti ada masanya, ada waktunya. Tuhan sudah siapkan 'jatah' kami. Saya yakin Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. 

Ya... berpanjang lebarpun orang tidak peduli. Terkadang kita perlu menutup telinga untuk bisa mendengarkan apa kata hati sendiri, biarlah pilihan kita yang menentukan hidup kita. Seperti nasihat yang tante saya berikan, tetapi Tuhanlah pemilik segala ilmu sehingga doa, belajar dan kerja keras yang menjadi strategi untuk mencapai harapan yang sesuai dengan keinginan. 

Sekian.

Friday, May 26, 2017

This is why I need you


I have so many questions, and places to go
There are too many options, far too many unknowns
This is why I need you


(And) everyone talks now, but no one is right
There are too many armies, with no one to fight
This is why I need you


Cause you make the darkness less dark
You make the edges less sharp
You make the winter feel warmer
(And) you make my weakness less weak
You make the bottom less deep
You make the waiting feel shorter
You make my crazy feel normal, every time
You are the who, love is the what, and this is the why

There are so many problems, and no one who cares
There are so many roads, and they all need repairs
This is why I need you


And there's not enough chocolate, there's too many chores
There are so many mountains, that I haven't explored
This is why I need you


You keep the ship moving forward
And you make it easy to try
You make my crazy feel normal, every time
You are the who, love is the what, and this is the why

- Jesse Ruben

Monday, May 8, 2017

24

“Cheers to myself for surviving another year! May I have many more wonderful, crazy years ahead of me! Happy Birthday, Me!“

Puji Tuhan, terima kasih atas rezeki yang masih Kau berikan untuk selalu mencukupkan saya dan keluarga, atas bertambahnya usia saya di tiap 5 Mei bersama bahagianya orang di sekitar saya khususnya tahun ini. Kiranya Tuhan selalu menjaga mereka yang tiada hari tanpa menyayangi saya.

Terakhir merayakan bersama itu waktu ulang tahun ke-17. Setelahnya, mencar merantau semuanya. Terima kasih, Babang & Ibur sudah menyempatkan sebelum ke Jakarta juga Mamas yang nemenin adeknya, mari bersyukur! Akhirnya foto bareng lagi di hari ulang tahunku πŸ˜ŠπŸ’•

Kau, yang sudah hadir tiga kali berturut-turut di tiga kota yang berbeda, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Terima kasih untuk waktu yang sudah kau luangkan menujuku. Saya menyayangimu.

Monday, April 17, 2017

Selamat, Doktor!

Akhirnya.
Meski terhambat kesehatan dan 'perintah' yang hanya bisa dijawab dengan 'siap', tetap ikhlas dilaksanakan sebaik mungkin. Meski menjadi mahasiswa baru setahun lebih cepat dariku dan lulus pada tahun berikutku, tak patah asamu.

'Alon-alon asal kelakon'. Biar lambat asal selamat. Biar belakangan asal diselesaikan. Tanggung jawab itu penting.

Keadaan ini mendekatkan keluarga yang terpisah jarak, mengakrabkan keluarga yang terdidik mandiri. Tuhan tau kami saling membutuhkan, Terima kasih Tuhan.

Pelintas batas, julukan yang mereka 'titeni' untukmu. Sangat memuaskan di garis tertinggi.

Untuk apa pandai jika akhirnya menyakiti? Apa guna menjadi saintis jika tidak bisa bersosialisasi? Keseimbangan hati dan pikiran, itu kuncinya. Tak perlu berambisi untuk menjadi yang terbaik karena semuanya ada di hati.

Selamat, Doktor! Mengenai belajar tak kenal waktu, semoga selalu menginspirasi generasi mudamu.
Yang tak habis bangganya, anak gadismu.


Yogyakarta, 17 April 2017.

Saturday, April 15, 2017

Selamat 23!

Semoga berkenan, jika tidak maka belajarlah menyukai apa yang tidak kau suka. Belajarlah menerima dan bersyukurlah. Rendah hatilah selalu, apalah arti baik rupa tanpa manis hatimu.
Selamat 23 tahun, Kapten πŸ’› Tuhan berkati dengan keselamatan, kesehatan dan keberhasilan. Amin.
Tulisku, di instagram. 

12 April 2017 di Yogyakarta.
Lagi. Di tahun ketiga, aku tak dapat hadir di hari ulang tahunmu.
Maaf. Namun semua doa selalu terkirim untukmu yang sedang praktek kerja di Bogor. Semoga Tuhan selalu merestui sampai kita duduk bersebelahan, beberapa sentimeter saja.



Thursday, December 1, 2016

November

Di dekap bulan ini,
Aku diam,
dalam hujannya.

Bukan berarti aku sudah tak sayang.
Bukannya aku tidak melakukan apa-apa.

Kau tau,
Aku tidak suka menunggu.
Tetapi selalu kulakukan apabila itu kau.

Maaf November,
tetapi,
Aku menunggu rindu,
untukku.

Seringkali aku disalahkan karena terlalu menyayangi.
Namun aku tidak peduli kau butuh aku atau tidak.
Karena bagiku yang paling penting sekarang adalah,
sebenarnya,
aku ingin selalu ada.

Saturday, October 22, 2016

Kami, Laras

Larasati.

Iya itu nama kami, tepatnya nama kesukaan kami. Sungguh. Bangga menjadi anak Jawa!


Iya, postingan gua waktu SMA yang masih kurang bermutu tinggi itu yah... Tapi cukup menghibur jika kamu punya satu blog dan menjadikannya seperti buku harian, mungkin. Membuatmu mengingat yang kamu lupa dan menyimpan banyak cerita, apapun lah ya. Enggak, enggak. Mantan sudah jadi teman, tenang saja tidak perlu khawatir tentang hal seperti itu. Sudah dewasa. Kita menjalani hidup seperti semestinya kok!

Kemudian kenapa dengan Dea? Ya jadi baru bertemu lagi setelah sekian lama tidak berbincang dengan kesarapan dia yang tetap ada. Gantengnya sudah menghilang, sudah cantik dan semakin menarik. Dengan semua cerita, semua tawa, hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi dua Larasati yang sedang dilanda kesedihan, kerinduan dan kehausan. Haus banyak ngomong, soalnya.

Sebenernya, karena terharu melihat postingannya: Dua Laras. Baca sendiri sajalah, selain terharu gua juga ngerasa kayak diri gua terbagi dua karena saking samanya. Oh ya tanggal 20 Oktober lalu ia ulang tahun, jika kamu membaca ini, kuucapkan selamat ulang tahun bersama doa terbaik!

Iya bener,
Laras yang cengeng karena pernah patah hati, bener-bener dipatahin.
Laras yang tulus karena ikhlas memberi dan mudah sekali memaafkan.
Dan banyak... Namun semakin diasah semakin tajam, kan?
Laras semakin tangguh dan semakin 'legowo' kian hari.

Laras yang katanya ayu dengan pesona wajah Jawanya.
Laras yang katanya bisa merenyahkan suasana.
Laras yang suka bunga, ya bicara tentang apresiasi bukan perkara bunganya mati di esok hari.
Laras yang berbahagia dengan orang-orang yang menyayangi kembali.

Untuk kalian, tokoh-tokoh dalam cerita,
Terima kasih sudah membentuk kami menjadi Laras yang sekarang.
Sungguhan, terima kasih.


Salam, Laras yang selalu tersenyum.

Saturday, October 15, 2016

Larasati

Larasati (dalam tradisi pewayangan Jawa) merupakan salah seorang dari 41 orang istri Arjuna dan juga seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Larasati sering dipanggil dengan nama Dewi Rarasati dalam cerita mahabarata. Dalam pewayangan walaupun seorang wanita, Larasati mempunyai keahlian dalam keprajuritan, terutama memanah.


Bentuk tokoh wayang dari Dewi Larasati:

  1. Rarasati (nama kecil Dewi Larasati) bermata jaitan, hidung mancung, muka agak mendongak.
  2. Bersanggul gede (besar) dengan sebagian rambut terurai.
  3. Berjamang dan sunting waderan, berkalung bulan sabit, bergelang dan berpontoh.
  4. Berselendang dan menggunakan kain dodot putren.

Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh Dewi Larasati: 
  1. Teguh hati (memiliki pendirian yang kuat)
  2. Lemah Lembut (memiliki kelembutan pada dirinya)
  3. Mempesona ketika berbicara.
  4. Mampu untuk meredakan emosi kemarahan.
  5. Berkepribadian yang menarik hati.
Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Friday, September 30, 2016

Surabaya-nya selesai.

Merantau, bukan pilihan yang baik untukku. Kala itu aku adalah gadis yang tidak suka berdaptasi, tidak suka dengan lingkungan baru, aku sulit ‘move on’ dan parahnya lagi aku itu cengeng. Aku takut perpisahan, aku lemah bila sendirian, aku tidak suka jauh dari ‘rumah’.

SURABAYA.
Apalah, kau itu kota panas, tidak banyak tempat wisata, sama saja seperti Jakarta hanya ada mall saja. Tetapi setelah lima tahun ini, ya memang yang abadi hanyalah perubahan.

Masih ingat tepat lima tahun lalu, September 2011. Mulai sendiri, hidup di Surabaya tanpa saudara, tidur sendiri di satu kamar kost yang masih suka banjir jika hujan deras, yang lebih sedihnya adalah dengar isu mbak kost yang suka kasih ‘ospek’ anak baru. Hanya bisa menangis tiap malam, hanya berdoa supaya bisa pulang di esok hari, melihat foto keluarga di dinding hanya membuat hati teriris, disabarkan pacar tiap malam yang jauh di sana juga membuat jantung ini sesak. Semuanya jauh, lemahku setiap hari memeluk.

Sampai akhirnya aku menemukan teman-teman di kampus, mulai sering  jalan-jalan, tau tempat-tempat di Surabaya dan setiap malam pergi hanya untuk menghibur diri. Ke mall seminggu tiga kali, karaoke seminggu sekali, jajan ke indomaret setiap hari. Mulai dari yang medok jawa sampai yang gue-elo ada di sini, kutemukan ‘teman’ku.

Seiring waktu berjalan, aku tetap merasa rindu rumah. Di tahun berikutnya (2012), sempat ikut SNMPTN lagi untuk fakultas idaman di Jakarta, namun apa daya otak yang pikirannya terbagi-bagi, rasanya memang ditakdirkan merantau di ujung timur Jawa ini. Di tahun ini pula, aku mencoba membetahkan diri, mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus supaya tidak jadi mahasiswa ‘kupu-kupu’. Menjadi anggota divisi kerohanian yang anggotanya baik sampai serasa punya kakak dan adik, menjadi panitia makrab bersama mahasiswa baru di saat galau-galaunya, bermanfaat juga pertama kali melihat kau. Ternyata bisa lah menjadi pengalihan isu, sedih tidak begitu terasa dengan kegiatan dan teman-teman yang menemani.

Tahun berikutnyapun begitu (2013), masih ingin pulang tetapi kegiatan perkuliahan semakin memusingkan. Libur hanya beberapa hari saja dan membuatku mulai mencoba kegiatan baru. Travelling, tidaklah buruk. Katanya nikmatilah masa mudamu, travelling-lah sebelum tua umurmu. Aku mencoba menjadi perantau lainnya, mencicipi bagian lain dari Jawa. Mulai ke Bromo, Pulau Sempu, Yogyakarta bersama teman-teman. Menyenangkan sekali, bebas dan liar terkendali. Lumayan menghibur hati yang masih dalam pemulihan setelah terhempas menjadi kepingan.

Tahun berikutnya (2014), waktu untuk pulang menjadi singkat. Lebih banyak di Surabaya daripada di Jakarta. Aku tidak seperti yang lainnya, yang bisa pulang setiap minggu bahkan tiap bulan saja tidak. Begitu jauh, begitu mahal dan begitu ah Laras semakin dewasa harus tau diri dan belajar mengelola. Tidak boleh manja, tidak boleh cengeng, semangat untuk tahun-tahun berikutnya. Pertemanan semakin dekat, dengan teman sepermainan, sekelas maupun di kostan. Semakin banyak kenal dosen, adik kelas dan lintas fakultas juga lintas universitas. Membuka hati, mengapa tidak?

Tahun ini (2015), semakin padat, mulai proposal dan skripsi. Semakin rekat pertemanan, semakin sering bersama dalam tiap kegiatan. Ah, pacarku-pun menjadi pengajarku. Tahun ini semakin sensitif, segala emosi harus penuh kendali. Tidak sedikit percek-cokan tetapi masih dapat teratasi, Tuhan menyertai di tiap harinya. Laras semakin bisa menahan amarah, semakin tau manfaat bersabar, semakin tau arti teman, semakin tau obat yayaya Farmasi, semakin pandai mengelola waktu dan keuangan namun tetap ingat pulang. Sampai akhirnya meraih gelar S.Farm. bersama teman-teman kesayangan dan didampingi keluarga dan kau, Ris.

Tahun terakhir (2016), akhirnya datang juga. Kegiatan profesi semakin sibuk ditambah kerja praktek. Waktu main berkurang, waktu diskusi bersama kekasih berkurang, waktu tidur menjadi singkat. Semua laporan semakin sulit dan tebal entahlah aku juga masih belum percaya bisa melewatinya. Sampai akhirnya bisa yudisium untuk kedua kalinya dengan gelar lanjutan Apt. dan kamu dapatkan S.Farm.mu.

Akhirnya, hari yang ditunggu (ketika maba) datang juga. September akhir di tahun ini. Ah, minggu-minggu terakhir ini terasa begitu berat, malah aku sudah menguluir-ulur kepulanganku. Dengan segala kesempatan yang masih bisa kudapatkan. Mendengar kabar kalian sudah diterima kerja, melihat kau diwisuda, mengenal lebih dekat orang tua kau dan beribadah bersama, memelukmu, menggandeng dan dirangkul kamu, jajan sore yang kalap bersama kalian, delivery McD jam 4 pagi, tidur bersama kalian, bercanda dan menangis bersama, obrolan bodoh kalian. Selesai sudah 5 tahun ini, segala pengorbanan yang sudah aku lewati bersama teman-teman dan kau. Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa baru, kemudian kenal kalian, kenal kau. Rasanya baru kemarin ospek, seperti baru kemarin ke gunung dan pantai, seperti baru kemarin praktikum bersama kelompok yang sama tiap tahun, seperti baru kemarin menjelajahi Surabaya bersama kalian dan kau. Makan mie ayam solo, Restu maupun tenda biru, Bu Kris, Bu Rudy, Seafood Genteng Kali maupun Al-Firdaus, makan bakso Reog atau Pak No yang es telernya enak banget, Barokah, Molas, Kober Mie Setan, Gubeng Airlangga 2 yang makanannya bejibun, McD Manyar andalan, Dunkin Kebun Bibit tempat nugas, HM Bontang tempat kau, nonton dvd di kost dan rasanya kubisa setebal kamus jika menjabarkannya.

Teruntuk Ayun, Arie, Aisha, Nauval, Enny, Wilman, Rizda, Muis, Faya, yang paling banyak bantu dan nemenin kegabutanku yang sangat kacau selama di Surabaya beberapa minggu ini, terima kasih ya semoga yang sedang S2 dan sudah kerja segera doakan aku menyusul dan yang belum semoga segera menyusul juga supaya bisa meet up di Bali yaw. Teruntuk Ayu, Vinny, Mia adik Kostan Cantik tersayang, Ibet, Nanda dan Mbak Tiya sejawat senior Kostan Cantik juga Desty, Mbak Ethis dan Ana Dhabar 44 squad terima kasih sudah meramaikan sepinya hariku di kostan dengan panggilan, sapa dan teriakan kalian dari ruang tv. Lekas selesai kuliahnya ya supaya bisa bertemu lagi di manapun. Teruntuk Aris, selamat datang di relasi jarak jauh. Yang sabar dan semangat profesinya ya. Pasti ku rindu omelan dan diamnya kau kalau ngantuk, apalagi ketek kau itu. Terima kasih Surabaya nya.

Bersama dengan cerah langitnya, ceria orangnya dan terdekap kenangannya. September ceria, rasanya aku tidak ingin tidur untuk melewatkannya. Terima kasih untuk 5 tahun ini, sampai bertemu lagi, Surabaya dan kalian yang tersayang.

Sunday, September 25, 2016

Kau dan S.Farm.

Pertengahan September ini kukembali ke Surabaya, persiapan untuk pindah ke Jakarta, beberes barang dan hadir di hari pentingmu. Jumat siang papa dan mama Aris datang dari Bontang di Bandara Juanda Surabaya, kujemput bersama anaknya. Pertemuan kedua dengan mereka. Pertama dikenalkan papa Aris di mall sedang dinas di Surabaya kala itu dan dengan mama Aris ketika Aris dirawat di rumah sakit Mei lalu. Memang tidak betah hanya diam, seharian kami jalan-jalan, menyenangkan.

Surabaya, 24 September 2016.
"Rasanya tidak habis-habis kuucap syukur. September ini begitu ceria, menyenangkan dan banyak menjawab semua doaku."

Sabtu pagi itu, Surabaya dingin tidak seperti biasanya. Malas mandi, padahal mau datang ke wisuda Aris. Pesanan bunga datang dari Renee Florist, white rose cantik dan baby breath yang sangat manis cocok sekali untuk wisudawanku. Senang sekali melihatnya, dari dulu. Kemudian tengah hari turun hujan, aku putus asa. Harus tetap berangkat, aku terburu-buru dan ya kukenakan baju pilihan ibu terakhir kupoles wajahku seadanya.

Terima kasih buat Andi sudah nemenin ke Airlangga Convention Center, hujan deras dengan taksi online. Maaf Aris aku datang telat ke wisudamu, macet sekali. Om tante juga sudah nelfonin berulang kali tapi apa daya tersendat di jalanan. Tapi puji Tuhan, begitu sampai langsung melihat papa mama kamu yang sumringah dan melihat kau di ujung ruangan sedang berfoto ria bersama teman-teman. Bagaimana rasanya? Lega ya, menyenangkan melihatmu tersenyum. Ah, kau tau? Kau ganteng sekali hari itu.

Puji Tuhan, resmi dan bangganya kami: saya, keluarga Aris, teman-teman dan tentunya Aris sendiri. Bagaimana tidak? Satu tugas sudah terselesaikan dengan baik. Sidang tanggal 19 Agustus kemarin, kamu tidak mau ditonton. Aku juga kebetulan yudisium untuk pendidikan apoteker yang akan kamu hadapi sebentar setelah ini. Hahaha sabar ya, Sabtu wisuda, tapi Senin sudah kuliah seperti biasa dengan penampilan baru: kemeja rapi, celana kain dan sepatu pantofel. Selamat datang calon sejawat, semangat ya dengan tantangan yang lebih memacu adrenalinmu. Aku selalu dukung.

Segera setelahnya, bermacet ria menuju studio foto, kenang-kenangan dan bukti atas pencapaian gelar barumu. Malu-malu foto bersama, karena kau memuji setelan pakaianku.



Singkat saja: Selamat, Aris Yulita Aprianto, S.Farm.!

Wednesday, September 14, 2016

Apoteker, Sungguh?

Puji Tuhan, setelah yudisium Agustus kemarin akhirnya resmi jadi apoteker. Namanya menjadi lebih panjang, tanggung jawab yang dipegang juga lebih banyak. Nggak cuma satu janji yang harus diikrarkan, beberapa janji untuk semua orang demi kualitas hidup.

Dalam nama Tuhan... S.Farm., Apt.


Terima kasih buat Bapak, yang paling tangguh di manapun Ia berada. Dengan semua posisi dan lokasi tempatnya bekerja, demi aku dan mas juga ibu, bapak rela jauh dari rumah jauh sebelum aku. Dinas di mana-mana, mudah bergaul, disiplin dan sekarang kerja di luar kota setelah pensiun. 

Terima kasih buat Ibu, yang paling kuat di manapun Ia berada. Dengan sifat keibuan dan cerianya ibu membuat semua orang senang dan paling dicari dari semua perkumpulan. Ibu yang rela capek ngurus anak-anak dan rumah selama Bapak kerja, rela jauh dari keluarga dan menunggu bang toyib, nak toyibnya pada pulang dari rantauan.

Bapak dan Ibu sangat membanggakan dan menginspirasi banyak orang. Tentu anakmu juga seperti mereka, bedanya adalah... rasa bangga mereka tidak sebesar yang aku miliki. Tuhan terima kasih, atas orang tua yang sangat kusayangi ini.

Mas Ndaru yang tidak datang karena masih studi S2, tak apa. Ketidakhadiranmu bukan berarti bahwa aku tidak ingat kakakku yang murah hati itu kan? Sampai jumpa di liburan depan ya, kalau bisa aku nyusul jadi juniormu di sana. Amin.

Aris, temanku, sahabatku, kekasih hehe... Terima kasih sudah sabar, banyaknyaaaaa sabarmu itu kena semprot sana sini. Terima kasih ya.

Teman-teman selama profesi apoteker, kegiatan kerja praktek profesi, semuanya yang tidak bisa disebutkan satu-satu, terima kasih banyak. Kakak dana adik yang mendukung selama profesi, semuanya terima kasih. Bersyukur kenal kalian.



Surabaya, 14 September 2016.
Sekian.
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings