Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.

Friday, September 11, 2009

Pemimpin Masa Depan

Pemilihan Umum menjadi sebuah jalan untuk menentukan sebuah jajaran yang akan menduduki kursi-kursi yang diamanahkan oleh rakyat. Banyak sekali bermunculan calon-calon yang menawarkan diri untuk menjadi pemimpin. Semua tampil sebagai harapan, dan tumpuan bangsa. Baik itu tokoh muda (baru) ataupun tokoh tua (lama) yang telah melintang jauh di dunia politik bangsa.

Semua orang di Indonesia ini, pasti menginginkan seorang pemimpin yang baik dan layak untuk memimpin Negara ini. Kita semua mendambakan seorang pribadi yang dapat mengatur dan mengubah Negara ini menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Kita semua membutuhkan pemimpin yang dapat meningkatkan Negara berkembang ini menjadi Negara yang maju, agar Negara ini mampu bersaing dengan dunia internasional.

Para pemilih juga harus pandai-pandai memilih si calon pemimpin masa depan agar tidak menyesal pada akhirnya. Kita harus memilih pemimpin masa depan yang tidak hanya mengandalkan promosi program kerja, tetapi kita juga harus memperhatikan kualitas, mutu, bibit, bebet dan bobot dari sang calon pemimpin tersebut. Diperlukan pemikiran yang matang untuk memutuskan memilih calon pemimpin masa depan.

Untuk menjadi pemimpin bangsa yang baik, dibutuhkan pula keberanian. Keberanian untuk bertanggung jawab atas negara ini, mengatur dan mengubah Negara ini menjadi lebih baik, membudidayakan kejujuran dengan semua anggota Negara dan terjatuh saat bertugas. Kita membutuhkan pribadi yang memiliki karakter seperti itu agar Negara Indonesia yang maju dapat terwujud.

Dari sejumlah masalah yang kita alami, kita membutuhkan pemimpin masa depan yang dapat merangkul Negara ini, dapat memberikan ketenangan batin para korban agar dapat bertahan dan memiliki semangat untuk bangkit kembali. Kita membutuhkan pemimpin masa depan yang dapat melihat, dapat melihat kekurangan bangsa ini dan berusaha untuk menjadikannya motivasi untuk memperbaiki, dapat melihat orang kecil yang membutuhkan dan menolongnya. Kita membutuhkan pemimpin masa depan yang dapat mendengar, dapat mendengar jeritan rakyatnya dan mau mendengar kritikan rakyat dan menjadikannya pelajaran berharga. Kita membutuhkan pemimpin masa depan yang dapat berbicara, dapat berbicara dengan budi bahasanya halus tetapi mengandung makna yang tegas, dapat berbicara untuk memberikan motivasi terhadap rakyatnya, untuk bekerja sama membangun Negara Indonesia ini. Kita membutuhkan pemimpin masa depan yang dapat merasakan apa yang masyarakat butuhkan, dapat merasakan ketidakbenaran Negara yang diberontak oleh orang-orang yang sengaja bertindak curang, semena-mena, mau menang sendiri dan hanya berbicara manis di muka.

Kitapun dapat memberikan solusi dengan menjadi pemimpin bangsa yang akan datang dengan cara bersungguh-sungguh dalam belajar. Memanfaatkan sekolah gratis meskipun hanya tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkatnya. Kita juga harus aktif dalam kegiatan di sekolah untuk melatih kepemimpinan. Cerdas, seseorang yang memiliki kecerdasan tertentu pasti dapat memimpin generasinya. Cekatan, seorang pemimpin harus terampil dan cepat dalam melakukan sesuatu hal. Keberaniaan, lagi-lagi pemimpin juga harus memiliki keberaniaan yang lebih, mengambil keputusan dengan segala resikonya. Keseriusan, ketika seseorang telah memiliki kecerdasan, kecekatan, dan keberaniaan, tetapi tidak memiliki keseriusan maka ketiga hal itu bisa menjadi sia-sia karena dia tidak akan menghasilkan. 

Cermatlah!!

Monday, September 7, 2009

Hidup.

Hidup itu adalah hal yang nggak bakalan pernah diketahui, awal dan akhirnya.

Hidup itu penuh ujian, pilihan dan sodaranya, nggak gampang meratakan tanah yang bergelombang. Gue pikir, hidup itu cuma sekali. Apa yang udah kita ambil, lanjutin aja!

Udah terlanjur nyemplung, ya mesti berenang!

Kesulitan pasti ada tapi belajarlah dari pengalaman. Itu artinya kita "belum" pantas memperoleh itu, bukannya "tidak" pantas. Kita dituntut untuk berusaha lebih keras lagi. Jadi jalanin aja, ikutin aja. Nggak usah takut menghadapi hidup karena kita emang mulai dibentuk dari pengalaman itu sendiri. Semangat, sob!

Tuesday, September 1, 2009

DASAR LAUT TERINDAH UNTUKKU

Pada liburan tengah tahun lalu, aku menghabiskannya di luar Pulau Jawa. Sebagai hadiah kelulusanku, di daerah Lombok Barat ku di bawa berlibur oleh keluargaku. Selama 2 minggu kami menetap di sana sebagai wisatawan dalam negri. Kami beristirahat di pondok sederhana di pinggir pantai. Itu semua karena aku yang memintanya. Begitu memukau pemandangan di sana.

Pasir putih di bibir pantai, pohon kelapa membentengi pondokku, kepiting kecil berjalan menikmati hidup, anak kecil bermain layangan tanpa lepas dari senyumnya dan orang tuanya yang sibuk ke tengah laut untuk mencoba menerima hidupnya yang pas-pasan. Angin yang sekilas membelai rambutku, membuatku bisa menutup mata sejenak menikmatinya. Ketika ku coba membuka mata perlahan, terasa angin berhembus mencoba memanggil namaku, Laras.

Siang itu, aku meluncur ke peraduanku. Tempat biasa ku menaruh rasa lelahku, tempat biasa ku menaruh rasa resahku, tempat di mana sahabatku berkumpul, juga tempat di mana peristiwa itu terjadi. Di mana kakekku menghilang meninggalkanku karena kecelakaan pesawat. Kejadian itu membuatku tidak bisa bersamanya lagi sejak 13 tahun yang lalu, saat aku berumur 2 tahun. Di bawah laut. Di dalam kesejukan alami. Di mana Tuhan menciptakan keindahan itu untukku.

Aku tidak pernah membenci laut karena masalah kakekku itu. Malahan, aku makin ingin menyatu dengannya. Dalam arti bukan ingin mati tertelan laut juga, tapi aku ingin sekali bersahabat dengan laut dan segala penghuninya.

“Aku merindukan kakekku. Aku memang tidak pernah melihatnya secara jelas. Akupun tidak dapat mengingat wajahnya secara sempurna. Namun, ibuku pernah membantuku untuk mengingatnya dengan menunjukkan fotonya. Raga yang gagah di bungkus oleh pakaian dinas Angkatan Udara, di bahunya melekat tanda 2 bintang yang menandakan bahwa kakekku adalah Letnan Jenderal, seorang pemimpin yang masih di katakana muda dan di banggakan. Di atas bibirnya terlukis kumis tipis yang membuatku begitu bangga karena ketampanannya. Ibu juga selalu bilang bahwa dia sangat senang menggendongku saat aku masih kecil. Ingin sekali aku bertemu lagi, merasakan kehangatan seorang kakek. Mungkin harus menunggu keajaiban dulu ya atau aku yang harus berpulang ke tempat kakek berada, untuk bisa melihatnya. Dan aku akan menunggu sampai Tuhan merindukanku pulang.”

***

Setiap hari aku menghabiskan waktu untuk menyelam ke dalam laut yang bening itu, sehingga dapat menampakkan keindahan di dalamnya. Berusaha keras tuk berkawan dengan ikan-ikan yang sepertinya mengerti perasaanku bahwa aku merindukan sang kakek. Di bawah laut, aku mencoba menikmati indahnya pemandangan bawah laut yang pasti tidak semua orang bisa melihatnya secara nyata. Di dalam situ juga aku merasakan indahnya kebersamaan.

Terlihat difokus mataku, kawanan ikan yang berlomba-lomba mengejar ujung lautan, para tumbuhan laut yang menar-nari, seirama dengan bunyi rantai jangkar yang tertimbun entah berapa lama di sampingnya.Ingin kurasakan kenikmatan itu, ketenangan itu, kupejamkan mataku sejenak dan bersandar pasrah di air bebas yang tidak mungkin menopang tubuhku.

Suatu kejutan yang membuatku terenyak di tempat. Ketika kubuka kedua mataku, sungguh! Membuat kedua mataku hampir berlari dari pelupuk mataku. Ikan-ikan mengitariku dan membuatku terpukau dengan posisi mereka. Berbaris dengan jarak yang sama rata. Karena hal itu, aku segera kembali ke permukaan laut. Aku memanggil kakakku dan menyuruhnya bergegas mengganti pakaiannya dengan baju selam dan mengambil kamera anti air miliknya, aku memintanya untuk mengabadikan pemandangan ini karena hobinya adalah mengabadikan tiap peristiwa di bawah laut. Meski agak gemas juga karena kakakku sempat melongo melihat keadaan itu, akhirnya dengan pakaian selamku, aku dan penjaga pantai bergaya di tengah ikan-ikan itu. COOL!! AMAZING.

Dan “blup!!”, tiba-tiba semua gelap dan aku terbangun. Aku bisa bernafas di air? Aku berenang sekilat ikan. Aku mengerti bahasa ikan, aku bisa melepas tabung oksigenku, aku bisa bicara dengan mereka. Dan tubuhku membeku sejenak ketika aku melihat bayangan seseorang mirip seperti di foto yang pernah ibu tunjukkan. Sangat familiar wajah itu di benakku. Foto kakek. Kakek? Astaga mimpikah ini? Dan sesak terasa di dadaku, nafasku tak karuan dan sebelum pandanganku buyar gelap, ku melihat sekilas bayangan itu menuntunku menuju dasar laut dan “uhuk.. uhuk..” aku batuk sembari membuka mataku dan silau sekali matahari siang itu. Terlihat wajah ibu yang cantik menjadi pucat panik menatapku. Ayah sibuk bolak-balik mengambik handuk dan minum. Ternyata tadi kakiku keram dan oksigen habis karena aku terlalu lama di dalam air sehingga kakakku tadi menggiringku ke tepi pantai. Dan bayangan tadi? Oh, Terima Kasih, Kakek!

Monday, August 31, 2009

They Go Home


Saatnya untuk "say goodbye" buat saudara jauh. Setelah kurang lebih sebulan mereka jalan-jalan, akhirnya tiba waktu mereka buat pulang ke tanah air Belanda. Sedih juga sih soalnya kita baru deket pas akhir-akhir aja nih. Yaudah kita buat kenang kenangan deh. Foto bersama. Sampai jumpa yaaaaa!

Saturday, August 1, 2009

Turis

Jadi, ceritanya dulu Bapak punya temen yang sama-sama ikut kegiatan beladiri gitu di Belanda. Ternyata temen Bapak itu ada darah Yogya - Indonesia. Entah bagaimana caranya jadi dekat dan sudah seperti saudara sendiri.

Mereka datang lagi ke sini, bukan untuk menjajah tetapi untuk liburan bersama cucu-cucunya. Dulu mereka terakhir ke sini tahun '93 pas beberapa bulan gue baru lahir. Dan terakhir kita ketemu itu tahun '95 pas umur gue 2 tahun ke Belanda karena Bapak ada studi. Yang gua inget cuma waktu gua main sama Kora, anjing ras Herder punya Om Ron yang sekarang udah mati.

Begitu Tante Truss (istri Om Ron) ngeliat gua, dia kaget katanya udah gede banget (pake bahasa Inggris tentunya). Om Ron ngajak speaking in Bahasa gitu deh, jelas gue labih pinter hahahahaha. Om Ron dateng sama istrinya, dan membawa anaknya brother Shane juga istrinya, Sabin juga kedua putranya Ferlin dan Daniel.

Ini akan menjadi minggu yang sulit karena selama seminggu mereka bakalan tinggal di rumah gua. Dan yang pasti rumah akan penuh dengan bahasa asing, Belanda - Inggris. Mampus mesti bawa kamus kemana-mana...

Jalan-jalan ke Taman Mini sama bule, berasa tour guide. Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang pas-pasan, orang-orang ngeliatin gua. Jadi ya asik gitu gua hahaha, pasti orang ngira gua jago Bahasa Inggris padahal emang iya, iya payahnya.

Mulai dari anjungan Jogja, para bule demen banget ama Jogja ya mungkin karena mereka masih ada keturunan Jogja. Karena summer time, mereka bakalan sebulan di Indonesia. Bandung - Semarang - Madura - Jogja - Lombok - Bali tau dah mana lagi. Asik abis ya. Yaudah itu aja.

Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings