Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.

Wednesday, August 3, 2011

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional

Selamat! UGM Juara PIMNAS XXIV Makassar
http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/22/0902575/Selamat.UGM.Juara.PIMNAS.XXIV.Makassar

Jumat, 22 Juli 2011 | 09:02 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kembali mempertahankan predikat sebagai juara umum Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIV yang berlangsung di Makassar 19-21 Juli 2011. Kepastian juara tersebut disampaikan Ketua Dewan Juri Prof. Dr. Ir Ronny R. Noor, M.Rur. Sc, pada malam penutupan PIMNAS yang berlangsung di Gedung Baruga Andi Pangerang Petta Rani, Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (19/7/2011) malam.

Di peringkat kedua ditempati oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan Universitas Negeri Semarang sebagai juara ketiga nasional.

Direktur Kemahasiswaan UGM Drs. Haryanto, M.Si mengatakan, acara penutupan berlangsung dalam suasana cukup panas dan tegang. Tiap kali dewan juri menyebutkan tim yang menjadi juara di masing-masing kategori, langsung disambut yel-yel masing-masing kontingen perguruan tinggi. Lebih menegangkan lagi, saat jumlah perolehan medali emas antara perguruan tinggi tidak ada yang mencolok. Perolehan medali UGM dan ITS saling susul-menyusul. Hingga akhirnya, Dewan Juri menyebutkan perguruan tinggi yang berhak menyandang juara nasional.

"Atas keputusan dewan Juri, juara umum adalah Universitas Gadjah Mada," kata Ronny.

Keputusan ini disambut gembira oleh 169 mahasiswa UGM dan 70 dosen pendamping. Haryanto mengaku puas dan bangga atas hasil yang dicapai oleh 39 tim dari UGM. Persiapan yang dilakukan secara matang selama beberapa bulan, menurutnya, membuahkan hasil.

"Kita pastinya bangga. Kehadiran dosen pembimbing dan pembina mampu memberikan semangat kepada mahasiswa dalam mengikuti proses kompetisi yang berlangsung," katanya.

Haryanto menambahkan, selama berada di Makassar, tim mahasiswa selalu mendapat pantauan dari dosen pembimbing masing-masing. "Mereka tidak dilepas begitu saja. Sebelum hari H, kita masih mendampingi hingga dini hari menjelang kompetisi," ujarnya.

Danis Sri Wijaya, Ketua Kontingen Mahasiswa UGM, tak bisa menutupi kegembiraannya. "Yang jelas pasti senang sekali. Saya bisa lega dan bangga telah membantu mengoordinasi mahasiswa UGM hingga akhirnya bisa juara PIMNAS," ujarnya.

Berikut ini adalah peringkat 10 besar PIMNAS XXIV:
1. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
3. Universitas Negeri Semarang
4. Institut Pertanian Bogor
5. Universitas Brawijaya, Malang
6. Universitas Airlangga, Surabaya
7. STIE Malangkucecwara
8. Universitas Muhammadiyah Surakarta
9. Institut Teknologi Bandung
10. Universitas Padjajaran.

Tuesday, August 2, 2011

Ibu dan Kuliah

Baru kali ini liat ibu nangis. Yang namanya ngerasa salah banget bisa bikin ibu nangis. Nggak kuat liatnya. Selama ini gua liat ibu yang paling strong woman banget. Ibu minta supaya gua kuliah di Jakarta aja. Ibu ngerasa khawatir banget gimana gua ospek, gimana gua pindahan kost, gimana gua kuliah, gimana gua di sananya. Lagi makan malem barusan, tiba-tiba naro sendok dan nangis meluk gua. Sakit banget leher ini. Gua juga nggak tega banget ninggalin ibu di Jakarta, bapak pulang kerja malem, mas ke Jakarta seminggu sekali, biasanya dulu paling banter sampe jam 6 sore gua pulang dari sekolah dan selow2 di rumah sama ibu.

Nanti, ibu sendiri di rumah sama mbak Dedeh. Mbak yang setia banget dari gua belum lahir. Yang sabi banget deh pokoknya baik banget. Tetep aja nanti nggak ada yang ngajakin bercanda teriak-teriak, kata ibu. Nggak ada yang ngingetin cara buka facebook dan skype. Nggak ada yang bantuin bikin kotak pesenan. Nggak ada yang diajak shopping2.

Astaga sedih luar biasa. Kenapa gua kecempulng di Surabaya? Jauh banget. Kuliah farmasi 4 tahun dan profesi apoteker 1 tahun. Bakalan jarang ke Jakarta. Kangen ibu. Kangen bapak sama mas juga. Kangen semuanya. Biar pacar di Malang, bakalan kangen juga sama ketawanya.

Daritadi bapak ngomongin tiket pesawat dan kereta yang elunjak harganya gara2 mau lebaran. Gua milih buat nggak pulang aja daripada sejuta ilang buat ke Jakarta dan seminggu kemudian balik lagi buat kuliah. Ibu mikirin gua naik pesawatnya gimana, mikirin naik keretanya gimana. Sama siapa, ke kost-annya gimana. Gua juga bingung parah. Ya Tuhan...

Wednesday, July 27, 2011

Video

--- Cerita ini adalah fiktif belaka yang saya karang. Jika ada kesamaan karakter dan cerita, merupakan ketidaksengajaan. Terima kasih. ---
_________________________________________________________________

"Kalau cinta udah didepan mata, langsung tangkep aja, ngapain tunggu lama-lama" - CBP

***
“Ayo dong bangun! Selamat ulang tahun ya, sayang!”, kecup ibuku sudah mendarat di pipiku.

Segala doa dari ayah dan ibu dengan spontan keluar dari mulut mereka. Semoga panjang umur, makin makin yang baiklah. Hari ini umurku delapan belas tahun. Makin dewasa dari tujuh belas tahun sebelumnya. Makin banyak masalah. Makin banyak persoalan yang harus dijawab.

“Terima kasih ya Yah, Bu”, balasku sambil meraih Blackberry-ku di meja samping tempat tidur.

Wah banyak sekali ucapan selamat ulang tahunnya. Aha ada pesan singkat, sebenarnya panjang dari pacarku. Hampir menangis membacanya. Semua pesan. Aku balas dengan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya karena kepedulian mereka. Sampai akhirnya aku bosan membalasnya. Mandi.

“Ulang tahun kok cemberut? Bukannya senang”, celetuk Ibu menghilangkan lamunan pagi hariku. Mengagetkan. Haaah merusak khayalan.

“Ah aku tambah tua, Bu. Sudahlah jangan membuatku memikirkan hal itu. Kuliah dan segala macamnya aku menyerah”, jawabku sambil berlalu menuju kamar yang tadinya sepi sunyi hanya ada boneka kesayanganku, kini ramai dengan boneka-boneka hidup.

“HAPPY BIRTHDAY, TIAN!”, semua teman meneriaki telingaku.

Ingin rasanya kuhajar wajah-wajah sok imut mereka yang sudah menumpahkan kepalaku dengan tepung. Ohya, aku Anatian Saraswati dan aku seratus persen perempuan. Sahabat-sahabat tersayang berkumpul dan memelukku kemudian. Tak lupa aku menangis menyambut pelukan pacarku, Casa. Membacanya dengan “ce” bukan “ka”. Jadi bukan Kasa melainkan Casa. Laki-laki idola para wanita dan hanya aku yang mampu menaklukkannya. Indah bukan?

Casa membawa tiramisu ukuran kecil, kesukaanku. Aku meniup lilin yang ada di atasnya. Benar-benar romantis.

“Dirawat ya”, bisiknya padaku.

Aku membuka bingkisan kotak agak besar bermotif kotak-kotak yang membuatku bergidik karena sedari tadi kotak itu berbunyi.

Black Labrador!!! Ah, Caaaas you’re my best!”, teriakku kegirangan.

Anak anjing yang entah berapa mahal harganya. Hitam, berkilau, dan sangat lucu. Benar-benar tak kusangka. Kupeluk anjing kecil itu selama Casa dan yang lainnya heboh merayakan ulang tahunku. Malam menjelang, mereka pulang. Hari yang melelahkan sampai LED Blackberry-ku menyala.

Ah sms dari Rio, ngapain nyuruh ke depan rumah jam segini? Jam sembilan, sableng”, aku mengeluh tiada henti. Menggerutu.

***

Aku keluar rumah, mengantuk. Ku lirik sosok botak berdiri di depan pagar rumah. Ya temanku yang super sabar itu. Menantiku keluar rumah pada cuaca dingin seperti malam ini, gerimis.

“Sama siapa?”, tanyaku sembari mengutak-atik kunci pagar rumahku.
“Sama sohib guelah, siapa lagi si calon dokter juga kayak gue”, gayanya melepaskan jas hujan kuning terang yang dikenakannya.
“Ooooh Fio, mana dia?”


Nyengir dengan setelan andalannya, kaos dibalut jaket. Masih tampan dan memesona seperti dulu. Senyumnya masih memukau. Ya cukup mengaggumkan, dulu. Ya, Fio. Ia mematikan mesin motor dan mengucapkan selamat ulang tahun. Mendatangiku, mencubit pipiku.


“Diiiih kebiasaan!”, keluhku sambil mengelus pipiku.
“Takut nggak bisa nyubit lagi nanti kalo udah jadi dokter hahahaha”, tawanya membahana.
“Kenapa gitu?”
"Casa udah ke sini?", sambung Rio.
"Udahlah bego", Fio menjawab sembari menoyor kepala Rio.
"Bawa kado?"
"Ya bawalah dongo"

Alisku mengernyit menatapnya dilanjutkan dengan ucapan selamat dari Rio, ya untukku tentunya.

“Ya gitu, gue cubit lagi ya”
"Aaaah, sakit sekali"
"Hahahaha"
"Kenapa sih? Kangen sama gue?"
"Kalo iya kenapa?"
"Haaaah sakiiit! Genit!"


Dari percakapan yang berputar-putar selama 2 jam di teras rumah dengan udara yang menggigit kulit, hampir lima kali dia mencubit pipiku. Orang aneh. Bicara tanpa topik jelas. Mengulur-ulur waktu tanpa memberitahu tujuan. Sampai pukul sebelas malam mereka meninggalkan rumahku dan menyerahkan sebuah hadiah ulang tahun untukku.

"Mendingan gua digebukin sepuluh orang deh daripada liat video ini"
"Ih kenapa emangnya? Video hantu ya? Apa video porno?"
"Hahaha enggaklah, udah liat aja nanti ketawa deh lo"

"Dasar aneh lo, Fi"

Video? Harus didengar di laptop, menggunakan earphone. Baiklah. Kupasang semuanya dan kumainkan. Hatiku tak karuan, takut mereka benar-benar measang wajah seram di video ini. Ata takut badan seksi berpose di video ini.


Wajah Fio, dengan kaos oblong dilengkapi jaket baseball favoritnya, berpose seperti orang ganteng saja. Dia berbicara gemetaran di depan kamera. Ya aku yakin dia gemetaran, dengan susah payah matanya menatap fokus kamera. Posenya benar-benar lucu. Kemudian lagu kesukaanku terputar.

***

Kalau saja aku masih punya
Kesempatan yang sama
Atau semua yang pernah terjadi
Bisa terulang lagi
Tapi ternyata kesempatan yang ada
Hanya sekali

Sampai kini masih ku tunggu
Datangnya keajaiban
Yang mungkin saja bisa memberiku
Waktu satu kali lagi
Seandainya masih bisa kudapatkan
Sekali lagi, satu kali lagi

Masih tertunda dan belum semua ku katakan
Biar ku tunggu sampai kau kembali lagi di sini
Harus kau dengar semua yang harus kau dengarkan
Isi hatiku yang belum ku sampaikan

Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi
Tapi ku berharap semoga masih ada kesempatan
Sekali lagi


"Ini video kejujuran, dari sini nih, dari hati. Video lain mah kalah, dari video keong racun, aril piterpen, briptu tomang mah kalah sama video gue ini"

"Emang dasar nggak ada otak nih orang, bercanda melulu ya", nyengir.

"Gue mendingan digebukin sepuluh orang deh sebenernya daripada liat video ini.................................. Gue sebenernya udah suka lama sama lo, udah lama banget. Gue tau lo udah punya pacar. Dan... lo juga sayang banget sama dia. Video ini nggak maksud buat ngancurin hubungan lo sama pacar lo kok. Gue cuma mau ngungkapin aja, soalnya gue takut nggak sempet. Oh iya selamat ulang tahun ya. Ulang tahun yang keberapa? Ke-40 apa ke-57 gitu? Hehehehe yang ke -18. Panjang umur dan sukses ya. Daaah."

"Gue nggak butuh jawaban lo sekarang, anjrit!", ku matikan laptop dan cukup.

Selesai.

Tuesday, July 26, 2011

UNAIR 2011



Muka boleh jelek okedeh. Tapi terima kasih Tuhan Yesus, Bunda Maria, Santo Yosef, Malaikat Gabriel pelindungku. Kalian telah memberikan kabar bahagia ini. Kabar bahagia untuk kedua orang tuaku, untuk kakakku, keluargaku, pacarku, guruku yang sudah mengajarku khususnya Bu Sumini guru kimia di waktu SMA, juga teman-temanku. Terima kasih doa dan dukungannya. Semoga saya bisa sukses di Fakultas Farmasi Unair Surabaya angkatan 2011. AMIN.

Nggak sia-sia deh tes ke Surabaya sama bapak, ditinggal di Unair sendiri. Terima kasih, Tuhan!

Sunday, July 24, 2011

Ospek Cinta

--- Cerita ini adalah fiktif belaka yang saya karang. Jika ada kesamaan karakter dan cerita, merupakan ketidaksengajaan. Terima kasih. ---
_________________________________________________________________

Pengarahan OSPEK UNIVERSITAS. Disuruh membawa Baby Rose. Maklum saja, universitasku ini, calon kampusku ini, adalah universitas terbersih di Indonesia. Ya bangga juga sih, bisa ngikutin jejak kakak yang sudah semester enam, Fakultas Kehutanan. Biar jadi Menteri Kehutanan, kata papa. Aku, calon mahasiswi Teknik Industri, calon pemilik pabrik ganja. Halah daun singkong saja dibilang ganja. Abaikan. Sudah dipilih Ketua dari Industri. Laki-laki itu, putih, dan kutebak dia pasti orang Jawa Barat. Dan dia, orang yang sering kulihat saat masa SMA. Anjar, ya dia teman baik tetanggaku.

"Mamam! Baby Rose! Lupa!", aku panik.

Ku kirim pesan singkat untuk tetanggaku yang juga masuk universitas yang sama denganku. Lain denganku, dia calon anak Psikologi.

Satria, minta nomor handphone Anjar dong

Seperti kilat. Balasannya cepat. Kudapat nomor Anjar kemudian kutanya tentang bayi mawar.

Keesokan harinya, pemilihan wakil kelompok. Anjar memilihku. Aneh. Malah memaksa. Aku mengeluh pada teman sampingku. Namanya Anty, anak pintar lulusan SMA di Bekasi. Selama ospek, dia telah menjadi teman baikku. Bersama empat lainnya, Tina, Mika, Nurma, dan Eni.

Mulai banyak teman, mengasyikan. Sering kirim pesan untuk tanya tugas dan Anjar sering menelepon, bercerita tentang mantan kekasihnya. Guess what? Tanya kenapa? Curhat colongan di saat bangun dari tidur siang? Lucu.

***

Baru sebulan kuliah, tidak betah. Terbiasa dengan sekolah swasta yang tidak ribet, kini berada di universitas negeri. Entah aku wakil atau apa tetapi rasanya seperti pembantu. Anjar, ketua ruangan Industri-8, ya sebut saja kelasku, selalu marah-marah karena banyak sampah yang tertinggal di ruangan, dia selalu menyuruhku membuat laporan siapa yang membuang sampah sembarangan. Kenapa wakilnya? Setiap pagi yang kudengar adalah "LA, LAPORAN. LA, LAPORAN". Hah mau muntah rasanya.

"Lala, liat kakak itu deh!", kata Anty sambil melirik kakak gemuk putih di seberang gedung.
"Itu anak organisasi yang ngurus ospek kemarin kan?"
"Iya, namanya Wira, lucu ya..."
"Ciailah suka?"
"Ssssshhhh"
Kami tertawa berdua di balkon, sampai waktunya kuliah.

***

Teknik industri, ya memang penuh dengan praktek, penelitian, laporan, kerja lapangan. Angkatan pertama pasti melakukan studi ke Anyer, meneliti industri di sana. Sudah hampir 12 bulan kuliah, ya melakukan studi. Berangkat dengan mobil Anjar dan Tomo. Bersenang-senang di perjalanan bersama dengan sepuluh orang lainnya. Karena kami menginap di mess, jadi semua gratis. Yang kutunggu hanya... Pantai...

Sampai di sana, langsung menyerbu pantai. Aku dan sepuluh temanku satu rumah mess. Mengasyikkan. Bersantai sampai malam, sampai pagi datang, menuntut sebuah laporan. Selularku berbunyi, pacarku menelpon.

"Sudah sampai?", katanya di seberang.
"Iya sudah kok"
"Siap-siap makan malam", kata Anjar dan kemudian dia mengacuhkanku.

Aku menutup teleponku kemudian memesan sate bumbu kecap untuk makan malamku. Tidak ada kerja sama sedikitpun malam ini, antara ketua dan wakilnya.

Bersambung...
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings