Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.

Tuesday, March 24, 2015

Gitu.

Kadang hal yang orang lain lihat, tidak begitu penting dibandingkan dengan apa yang kita jalani. Banyak orang bilang, tidak usah peduli apa kata mereka karena mereka hanya melihat dirimu dari sampulnya saja.

Memang butuh dipandang orang, juga butuh di bawah lampu sorot. Memang butuh dinilai orang, juga butuh di dalam sangkar. 

Aku dan dia tidak harus selalu pergi bersama meskipun tatap muka tetap penting. 
Aku dan dia tidak harus selalu mengabari setiap detik meskipun komunikasi tetap penting. 
Aku dan dia harus selalu menjaga jarak karena rasa rindu itu penting. 
Aku dan dia harus selalu melogikakan hati karena perasaan itu penting.

Aku, ya apa yang aku lakukan. Menjadi diri sendiri untuk mengoreksi diri sendiri. Diapun seperti itu. Begitu juga mereka. Kalian. Bukan karena ego tetapi singa juga butuh memburu mangsanya sendiri. Gitu. 

Wednesday, March 11, 2015

Kau

Dari banyak orang yang pernah ada dan pernah berusaha menyelipkan dirinya di antara hatiku, tidak satupun yang seperti dirimu. Mereka begitu kaya dengan segala bentuk perhatian dan kreativitasnya untuk merebut simpatiku namun apa daya hanya kesederhanaan dan polosnya kamu yang menggugah kagumku.

Bukan. Bahkan bukan kamu yang aku kira-kira karena dirasa tidak mungkin. Ya kamu bukan tipe pria yang romantis. Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Aku tidak pernah bermaksud demikian, kasih. Aku menyayangimu dan kau tau itu. Aku yakin sekali.

Bukan. Aku bukan menyombongkan diri. Aku tidak seperti itu. Tidak banyak yang menganggapku spesial, anggaplah tidak serius. Mereka tidak sebanyak yang mengagumi senyummu, mereka juga tidak sebanyak yang berdebar ketika matamu melirik. Bahkan aku adalah salah satunya. Kau membuatku penasaran.

Iya. Kau, dengan caramu sendiri. Kau bersama apa adanya kamu. Semuanya mengajarkanku. Terima kasih. Kesederhanaanmu, sempurnakanku.

Monday, February 16, 2015

Doa Seorang Calon Farmasis yang Bercita-Cita Lain

Terima kasih, Tuhan. Sore ini aku masih bisa menyapa Engkau. Terima kasih atas senyum yang masih dapat aku sunggingkan pada hari ini. Rasa syukur ini begitu melegakan. 

Sabarkanlah hamba, Tuhan. Sedikit lagi. Jangan sampai aku mengecewakan banyak orang. Sudah terlalu berat aku umpat perasaan tidak tahan ini, Tuhan. Sudah aku tahan rasa muak ini, Tuhan. Hanya untuk orang tuaku, kakakku, orang-orang yang percaya padaku. 

Kuliah di sana, di kota rantau yang tidak pernah ada dalam cita-cita dan mimpiku. Yang bukan Arsitek, yang bukan teknik dan yang bukan andaiku. Sama sekali. Kuatkanlah, Tuhan. Lancarkanlah sampai seselesainya tugasku di fakultas itu.

Aku mohon siraman dari-Mu, Tuhan. Lebih banyak lagi agar aku semakin tegar, semakin kuat dengan cercaan dengan sindiran sekiranya aku belum becus membantu rekanku di laboratorium, semakin tangguh dengan sinisan sekiranya aku kurang pintar menjawab semua kasus di ruang kelas. Aku hanya bisa mendoakan mereka agar mereka memaafkan dan memaklumi apa yang terjadi padaku selama jauh dari rumah, seperti Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Baik bagiku. Ampuni hamba-Mu yang egois ini. 

Tuhan, beberapa langkah lagi. Aku mohon penyertaan-Mu. Berikan aku kawanan domba-Mu untuk mendampingi kegiatanku dalam perjuangan hidupku menuju membahagiakan orang-orang yang sangat aku kasihi. Akan ikhlas aku jalani ini, Tuhan. Amin

Thursday, February 12, 2015

Spasi


Aku benar, jatuh cinta pada pernyataan di atas. 

Spasi

Kata yang menciptakan ragu dan takutku selama ini. Namun satu kata ini pula yang mematahkannya.

Satu kata yang diulas menjadi ungkapan.
Satu kata yang dibeber menjadi alasan. 
Satu kata yang dijabar menjadi kekuatan. 
Satu kata yang digelar menjadi perasaan.

Ya sebut saja itu dengan jeda atau jarak atau mungkin ruang, katanya.

Semakin digenggam semakin hilang bukan?
Kita. Butuh rongga, butuh udara.
Biar saja kita terlentang, memandang langit yang tersebar bintang.
Karena, tidak! Aku tidak mau kamu hilang.

Aku akan belajar memahami jeda ini. 
Aku akan belajar mengakui jarak ini. 
Aku akan belajar menghargai ruang ini.
Aku akan belajar mencintainya di dalam spasi.

Adakalanya kini aku sadar, betapa manisnya saling membangun rasa di 'antara'. Ya memang seharusnya begitu.

Hal ketiga, bukan orang ketiga.
Aku, kamu dan cinta di antaranya.

Kita di dalam spasi. 
Jakarta - Bontang.

Aku rindu kamu.

Sunday, December 21, 2014

Thunder

Musim hujan, di ibukota tercinta. Hujan juga mengguyur kota rantau. Malam ini begitu dingin, tidak seperti biasanya. Aku di rumah dan kamu di kontrakan. Aku di Jakarta, kamu di Surabaya. Baru melepas kurang dari 3 hari, sepertinya, tetapi rindu sudah meronta. Semakin lekat rasanya, semakin ingin kujaga, dirimu. Guntur dan gemericik air hujan yang terdengar, tidak menggangguku mendengarkan lantunan lagu ini. Lagu yang manis, untuk kamu.

Today is a winding road that's taking me
To places that I didn't want to go, whoa
Today in the blink of an eye
I'm holding on to something
And I do not know why I tried

I tried to read between the lines
I tried to look in your eyes
I want a simple explanation
For what I'm feeling inside
I gotta find a way out
Maybe there's a way out

Your voice was the
Soundtrack of my summer
Do you know you're unlike any other?
You'll always be my thunder

I said, your eyes
Are the brightest of all the colors
I don't wanna ever love another
You'll always be my thunder
So bring on the rain
And bring on the thunder

Today is a winding road, tell me where to start
And tell me something I don't know, whoa
Today I'm on my own, I can't move a muscle
And I can't pick up the phone, I don't know

And now I'm itching for the tall grass
And longing for the breeze
I need to step outside
Just to see if I can breathe
I gotta find a way out
Maybe there's a way out

Your voice.....

Yeah, I'm walking on a tightrope
I'm wrapped up in vines, I think we'll make it out
But you just gotta give me time
Strike me down with lightning
Let me feel you in my veins
I wanna let you know how much I feel your pain

Today.....

Oh, baby bring on the pain
And listen to the thunder

- Boys Like Girls
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings