Glad to see you here, enjoy it! Thank you.
My photo
Jakarta, Indonesia
I'm not good at saying so I’m writing.

Monday, April 17, 2017

Selamat, Doktor!

Akhirnya.
Meski terhambat kesehatan dan 'perintah' yang hanya bisa dijawab dengan 'siap', tetap ikhlas dilaksanakan sebaik mungkin. Meski menjadi mahasiswa baru setahun lebih cepat dariku dan lulus pada tahun berikutku, tak patah asamu.

'Alon-alon asal kelakon'. Biar lambat asal selamat. Biar belakangan asal diselesaikan. Tanggung jawab itu penting.

Keadaan ini mendekatkan keluarga yang terpisah jarak, mengakrabkan keluarga yang terdidik mandiri. Tuhan tau kami saling membutuhkan, Terima kasih Tuhan.

Pelintas batas, julukan yang mereka 'titeni' untukmu. Sangat memuaskan di garis tertinggi.

Untuk apa pandai jika akhirnya menyakiti? Apa guna menjadi saintis jika tidak bisa bersosialisasi? Keseimbangan hati dan pikiran, itu kuncinya. Tak perlu berambisi untuk menjadi yang terbaik karena semuanya ada di hati.

Selamat, Doktor! Mengenai belajar tak kenal waktu, semoga selalu menginspirasi generasi mudamu.
Yang tak habis bangganya, anak gadismu.


Yogyakarta, 17 April 2017.

Saturday, April 15, 2017

Selamat 23!

Semoga berkenan, jika tidak maka belajarlah menyukai apa yang tidak kau suka. Belajarlah menerima dan bersyukurlah. Rendah hatilah selalu, apalah arti baik rupa tanpa manis hatimu.
Selamat 23 tahun, Kapten πŸ’› Tuhan berkati dengan keselamatan, kesehatan dan keberhasilan. Amin.
Tulisku, di instagram. 

12 April 2017 di Yogyakarta.
Lagi. Di tahun ketiga, aku tak dapat hadir di hari ulang tahunmu.
Maaf. Namun semua doa selalu terkirim untukmu yang sedang praktek kerja di Bogor. Semoga Tuhan selalu merestui sampai kita duduk bersebelahan, beberapa sentimeter saja.



Thursday, December 1, 2016

November

Di dekap bulan ini,
Aku diam,
dalam hujannya.

Bukan berarti aku sudah tak sayang.
Bukannya aku tidak melakukan apa-apa.

Kau tau,
Aku tidak suka menunggu.
Tetapi selalu kulakukan apabila itu kau.

Maaf November,
tetapi,
Aku menunggu rindu,
untukku.

Seringkali aku disalahkan karena terlalu menyayangi.
Namun aku tidak peduli kau butuh aku atau tidak.
Karena bagiku yang paling penting sekarang adalah,
sebenarnya,
aku ingin selalu ada.

Saturday, October 22, 2016

Kami, Laras

Larasati.

Iya itu nama kami, tepatnya nama kesukaan kami. Sungguh. Bangga menjadi anak Jawa!


Iya, postingan gua waktu SMA yang masih kurang bermutu tinggi itu yah... Tapi cukup menghibur jika kamu punya satu blog dan menjadikannya seperti buku harian, mungkin. Membuatmu mengingat yang kamu lupa dan menyimpan banyak cerita, apapun lah ya. Enggak, enggak. Mantan sudah jadi teman, tenang saja tidak perlu khawatir tentang hal seperti itu. Sudah dewasa. Kita menjalani hidup seperti semestinya kok!

Kemudian kenapa dengan Dea? Ya jadi baru bertemu lagi setelah sekian lama tidak berbincang dengan kesarapan dia yang tetap ada. Gantengnya sudah menghilang, sudah cantik dan semakin menarik. Dengan semua cerita, semua tawa, hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi dua Larasati yang sedang dilanda kesedihan, kerinduan dan kehausan. Haus banyak ngomong, soalnya.

Sebenernya, karena terharu melihat postingannya: Dua Laras. Baca sendiri sajalah, selain terharu gua juga ngerasa kayak diri gua terbagi dua karena saking samanya. Oh ya tanggal 20 Oktober lalu ia ulang tahun, jika kamu membaca ini, kuucapkan selamat ulang tahun bersama doa terbaik!

Iya bener,
Laras yang cengeng karena pernah patah hati, bener-bener dipatahin.
Laras yang tulus karena ikhlas memberi dan mudah sekali memaafkan.
Dan banyak... Namun semakin diasah semakin tajam, kan?
Laras semakin tangguh dan semakin 'legowo' kian hari.

Laras yang katanya ayu dengan pesona wajah Jawanya.
Laras yang katanya bisa merenyahkan suasana.
Laras yang suka bunga, ya bicara tentang apresiasi bukan perkara bunganya mati di esok hari.
Laras yang berbahagia dengan orang-orang yang menyayangi kembali.

Untuk kalian, tokoh-tokoh dalam cerita,
Terima kasih sudah membentuk kami menjadi Laras yang sekarang.
Sungguhan, terima kasih.


Salam, Laras yang selalu tersenyum.

Saturday, October 15, 2016

Larasati

Larasati (dalam tradisi pewayangan Jawa) merupakan salah seorang dari 41 orang istri Arjuna dan juga seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Larasati sering dipanggil dengan nama Dewi Rarasati dalam cerita mahabarata. Dalam pewayangan walaupun seorang wanita, Larasati mempunyai keahlian dalam keprajuritan, terutama memanah.


Bentuk tokoh wayang dari Dewi Larasati:

  1. Rarasati (nama kecil Dewi Larasati) bermata jaitan, hidung mancung, muka agak mendongak.
  2. Bersanggul gede (besar) dengan sebagian rambut terurai.
  3. Berjamang dan sunting waderan, berkalung bulan sabit, bergelang dan berpontoh.
  4. Berselendang dan menggunakan kain dodot putren.

Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh Dewi Larasati: 
  1. Teguh hati (memiliki pendirian yang kuat)
  2. Lemah Lembut (memiliki kelembutan pada dirinya)
  3. Mempesona ketika berbicara.
  4. Mampu untuk meredakan emosi kemarahan.
  5. Berkepribadian yang menarik hati.
Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
Life Quotes, Life Quotes Images, Life Sayings